Gelombang Penolakan Penjualan KS ke Asing Kian Besar

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Kamis, 29 Juli 2010
News » 22 Mei 2008 » Hit: 417
Gelombang Penolakan Penjualan KS ke Asing Kian Besar
Wahyu Daniel - detikFinance, Selasa 13/05/2008 16:03 WIB

Jakarta - Gelombang penolakan terhadap penjualan saham PT Krakatau Steel melalui opsi mitra strategis kian meningkat.

Pengamat ekonomi Iman Sugema menilai, industri baja yang merupakan industri strategis tidak boleh jatuh ke tangan pemodal asing.

"Tidak baik kalau industri strategis dikuasai asing, contohnya kayak Indosat seperti apa, jadi kita harus mencegah hal ini terjadi lagi," ujarnya dalam diskusi publik “Menolak Strategic Sale Krakatau Steel” di Gedung Nusantara V, DPD, Senayan, Jakarta, Selasa (13/5/2008).

Pendapat Iman diamini oleh anggota Dewan Perwakilan Daerah Marwan Batubara. Menurut Marwan opsi strategic sales ini tidak transparan dan rawan KKN.

"Dominannya kepentingan partai atau kelompok dalam partai tersebut, dan sering digunakan untuk mendapatkan dana pemilu," ujarnya.

Jika memang situasi pasar untuk melakukan IPO sedang memburuk, sebaiknya pemerintah menunda IPO ini.

Anggota DPR RI Zulkiflimansyah menuturkan opsi strategic sales bukan merupakan opsi terbaik karena tidak dipersiapkan dengan matang.

"Opsi ini membuka peluang terjadinya praktek KKN oleh sejumlah oknum yang membuat hasil penjualan yang diperoleh tidak memberikan keuntungan maksimal bagi negara," ujarnya.

Sejumlah calon pembeli KS melalui strategic sale sudah disampaikan ke pemerintah. Calon pembeli KS yang sudah menyatakan minatnya adalah ArcelorMittal, BlueScope International, Tata Steel.

Komisaris Utama PT Krakatau Steel Taufiequrachman Ruki mengatakan jejak ArcelorMittal di belahan dunia lain terbukti selalu menuai protes.

"Karena kebijakannya yang kerap mengorbankan kesejahteraan karyawan melalui pemotongan gaji dan pemecatan massal," ujar Ruki.

Ruki juga menilai perusahaan baja yang didirikan Mittal 30 tahun lalu yakni PT Ispat Indo di Sidoarjo Jawa Timur juga tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap industri baja nasional.

( ddn / ir )