Green Building, Menghambat Laju Pemanasan Global

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Kamis, 29 Juli 2010
Environmental Update » 04 September 2007 » Hit: 12105
Green Building, Menghambat Laju Pemanasan Global
01/09/2007 02:06:53 WIB

JAKARTA, Investor Daily

Pemanasan global (global warming) menjadi salah satu isu penting yang disuarakan di sejumlah negara. Gedung-gedung bertingkat menjadi salah satu penyebab terjadinya pemanasan global. Berdasarkan riset sebuah lembaga di Amerika Serikat, 68% total emisi CO2 di bumi dihasilkan bangunan gedung bertingkat. Apa yang dapat dilakukan dunia properti menghadapi pemanasan global?

Pertanyaan itu menjadi tema diskusi panel yang diselenggarakan Colliers Internasional, Ikatan Arsitek DKI Jakarta, Real Estat Indonesia DKI Jakarta, Asosiasi Manajemen Properti Indonesia dan Ikatan Ahli Fisika Bangunan Indonesia di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Semua pihak yang terlibat dalam bisnis properti dituntut untuk memasukkan agenda upaya pengurangan laju pemanasan global sebagai prioritas kebijakan. Sebab, isu pemanasan global ini memunculkan potensi hilangnya pemasukan bagi pengembang, arsitek, konsultan mekanikal-elektrikal, manajemen properti, dan bidang profesional lainnya jika mereka tidak peduli dengan konsep bangunan yang berwawasan lingkungan (green building).

Konsep green building sebenarnya telah mengemuka sejak dua dekade belakangan. Konsep tersebut digulirkan karena banyak bangunan atau gedung bertingkat yang lebih memprioritaskan aspek arsitektur, tanpa memerhatikan efisiensi penggunaan energi. Dengan kata lain, green building merupakan salah satu solusi bagi insan dunia properti untuk mengambil peran dalam mengurangi laju pemanasan global.

Tak satu pun gedung pencakar langit di Indonesia memiliki ciri bangunan iklim tropis, apalagi didesain dengan arsitektur khas Indonesia.

Sebaliknya, tidak mudah juga menerapkan arsitektur tropis pada gedung-gedung bertingkat tinggi di Indonesia. Hal itu karena kaca jendela di ruang gedung lantai atas harus tertutup rapat untuk mencegah masuknya tiupan angin yang keras. Akibatnya, udara di bagian dalam ruangan akan menjadi lebih pengab. Solusi yang dilakukan oleh kebanyakan pengembang adalah memasang pendingin ruangan (air conditioning/AC).

Padahal, penggunaan pendingin ruangan yang memakai bahan pendingin (refrigen) dari CFC (khloro fluoro carbon) dapat menyebabkan penipisan lapisan ozon di atmosfer. Akibatnya, radiasi matahari yang dipantulkan oleh bumi tak bisa menembus atmosfir tak terperangkap di permukaan bumi sehingga meningkatnya suhu permukaan bumi atau terjadilah pemanasan global.

Penyebab utama pemanasan global adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batubara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepas CO2 dan gas-gas lain yang dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer. Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari matahari yang dipancarkan ke bumi.

Dampak pemanasan global di antaranya adalah mencairnya bongkahan-bongkahan es (glezer) di Kutub Utara. Konon, pencairan es itu sudah mencapai 10 kilometer.

Menarik Perhatian

Konsep green building kini semakin menarik perhatian para pelaku industri properti di Jakarta. "Kalangan profesional properti dan arsitektur kerap mengadakan pertemuan untuk membahas penerapan pembangunan berwawasan lingkungan. Ini untuk mengantisipasi terjadinya pemanasan global secara luas," kata Cahyono Siswanto, research manager BCI Asia (Indonesia).

Konsep acuan paling populer untuk penerapan green building dikeluarkan oleh US Green Building Council, yaitu Leadership in Energy and Environmental Design (LEED).

"Konsep ini bisa menghilangkan kerancuan pengertian bahwa penerapan green building itu mahal, sulit dan tidak layak secara bisnis. Di Indonesia, belum ada proyek yang terintegrasi menggunakan konsep LEED," kata Tondy O Lubis, direktur manajemen fasilitas dan properti Colliers Internasional.

Dia menjelaskan, untuk mengurangi laju pemanasan global, semua pihak pelaku industri tak perlu merasa `terpaksa` memasukkan konsep LEED dalam pertimbangan bisnis properti.

"Isu pemanasan global memunculkan potensi hilangnya pemasukan bagi pengembang, arsitek, konsultan mekanikal-elektrikal, manajemen properti dan lainnya jika mereka tidak peduli dengan konsep green building," ujar Tondy.

Menurut Meiko Handoyo dari REI DKI Jakarta, kunci sukses penerapan konsep LEED adalah sosialisasi yang baik kepada para pelaku properti. Di banyak negara, pembangunan sebuah gedung telah memakai pendekatan ekologi, dan hal ini ternyata menjadi nilai tambah dari produk properti itu. "Namun, di negara berkembang seperti Indonesia, hal itu masih membutuhkan proses edukasi yang cukup panjang," jelas Meiko.

Anggota Badan Pendidikan Arsitektur Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta Yandi Andri Yatmo mengatakan, green building merupakan bentuk bangunan yang terintegrasi dengan alam. "Di sinilah peran seorang arsitek diperlukan sebagai steward of the earth. Selama ini, dalam dunia profesi dan pendidikan arsitektur ada kecenderungan untuk melihat arsitektur sebagai bangunan yang berdiri sendiri," ujar Yandi.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Manajemen Properti Indonesia (AMPI) Stephanus D Satriyo juga menilai, seharusnya para pengelola gedung-gedung yang menggunakan energi yang cukup besar, memiliki tanggung jawab moral untuk mengurangi pemanasan global.

"Misalnya dengan melakukan penghematan energi. Penghematan yang dapat dilakukan antara lain hemat energi listrik, hemat pemakaian air, hemat pemakaian bahan bakar. Sekecil apapun kontribusi yang kita berikan, akan sangat berarti dalam mengurangi pemanasan global," ujar Stephanus meyakinkan.

Direktur PT Duta Cermat Mandiri/Denton Corker MarshalI Indonesia Budiman menambahkan, penerapan konsep green building akan sukses ketika dia menjadi bagian dari good design is good business bagi produk properti.

Sayangnya, "Pertimbangan biaya masih menjadi bagian penting bagi pengembang dalam konteks penerapan konsep green building pada bangunan properti," kata Budiman dalam seminar bertema Future Green House, di sela acara OZBuild Expo 2007 yang diselenggarakan Australian Trade Commission (Austrade) di Jakarta, belum lama ini.

Norbert M Lechner saat berbicara di seminar Architecture in the Future di Gedung Chefron, Fakultas Teknik Universitas Indonesia, beberapa waktu lalu, mengatakan, solusi desain diharapkan menjadi sumbangan kalangan arsitek bagi program pelestarian lingkungan hidup.

"Caranya tak sulit. Penghematan energi dapat dimulai dari tahap desain. Bentuk bangunan serta lokasi yang dipilih menjadi contoh aspeknya. Dengan itu saja, sudah 60% energi yang bisa dihemat," jelas penulis buku Heating, Cooling, Lighting, ini.

Lakukan Survei

Untuk mengukur pemahaman para profesional tentang konsep green building, BCI Group menyelenggarakan survei. Survei ini melibatkan arsitek, engineer, pengembang, pemilik gedung, dan kontraktor.

Country Manager BCI Asia di Indonesia Agus Dinar menyatakan, hasil survei akan menganalisis seberapa cepat penerapan dan perilaku para profesional di Asia Tenggara, Tiongkok, dan Australia terkait dengan konsep green building.

Chief Executive Officer (CEO) BCI Group of Companies Matthias Krups menambahkan, menjadi perusahaan yang baik (good corporate citizen) adalah lebih dari sekadar basa-basi. "Tahun lalu, kami bekerja sama dengan Green Building Council of Australia (GBCA) menerbitkan Green Building Market Report 2006," kata Matthias.

Menurut Matthias, pihak Green Building Council of Australia dan institusi lain yang sejenis di Asia Tenggara, Tiongkok, dan Australia ingin meningkatkan pemahaman umum tentang isu keberlanjutan melalui publikasi dan presentasi hasil survei.

Pertanyaannya adalah apakah di Indonesia, khususnya Jakarta, konsep green building akan diterapkan atau sekadar tetap menjadi wacana? Kita tunggu saja. (heriyono)