News » 25 April 2009 » Hit: 311
Hidayat Nur Wahid Calon Kuat Pendamping SBY
Jakarta - Hengkangnya Golkar dalam perahu koalisi bersama Partai Demokrat menandai babak baru peta koalisi Pemilu Presiden (Pilres) 2009. Sikap Golkar ini mencairkan tesis yang berkembang selama ini bahwa peta koalisi melulu didasarkan pada persamaan ideologi dan platform partai. Nyatanya, Demokrat maupun Golkar yang sama-sama berhaluan nasionalis, akhirnya bisa bercerai juga.
Dinamika politik pun kian semarak menyusul ditetapkannya Jusuf Kalla (JK) sebagai calon Presiden dari Partai berlambang pohon beringin itu. Munculnya JK sebagai kandidat Capres semakin menambah hangatnya bursa pertarungan menuju RI 1 di jagad politik Indonesia Raya. Sekaligus menambah Satu Capres selain SBY dan Megawati Soekarno Putri. Praktis, jika tidak ada perubahan lagi, maka Pilpres 2009 akan diikuti tiga Capres yang siap berkompetisi.
Banyak kalangan menengarai, pecah kongsi antara Golkar dan Demokrat membuat posisi tawar PKS – sebagai partai terbesar keempat dengan raihan suara 8 persen - semakin kuat untuk mensandingkan Hidayat Nur Wahid (HNW) dengan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono.
Menanggapi hal itu, Ketua Bidang Politik DPP PKS Zulkieflimansyah mengatakan, kepastian apakah HNW yang diusulkan PKS untuk mendampingi SBY akan ditetapkan dalam Pertemuan Nasional Majelis Syuro PKS yang akan berlangsung pada Sabtu-Ahad (25-26/04). “Sejauh ini, kader-kader PKS di bawah memang menginginkan HNW yang mendampingi SBY,” tuturnya.
Pertemuan Majelis Syuro PKS kali ini bukan semata membincangkan soal koalisi jelang pilpres 2009. Melainkan juga membicarakan satu agenda lain yang tak kalah pentingnya yaitu, mengevaluasi hasil pemilu legislatif 2009. “Pertemuan Majlis Syuro ini akan membicarakan setidaknya dua agenda penting. Pertama, evaluasi pemilu legislatif dan kedua menentukan siapa calon dari PKS,” ungkapnya dalam konferensi pers yang digelar di Kelapa Dua, Jakarta, Jumat (24/04).
Ketika ditanya apakah PKS akan membuka koalisi dengan partai lain, pria murah senyum ini menegaskan, semuanya menunggu hasil pertemuan Majelis Syuro. “Namun sejauh ini opsi koalisi dengan demokrat lebih dominan di kalangan kader PKS,” tambahnya.
PKS menginginkan koalisi yang dibangun mesti berdasarkan atas nilai, mengutamakan kebersamaan, kekompakan dan kesamaan visi. Untuk itu, koalisi yang dirajut harus solid dan kokoh mengingat tantangan ekonomi ke depan semakin sulit.
Koalisi yang didasarkan pada nilai dan etika ini untuk menganulir penilaian sejumlah kalangan, seolah penjajakan koalisi yang dibangun selama ini hanya mengejar kekuasaan, sharing power, dan bagi bagi jatah kursi. “Sharing power tidak bisa dinafikan, tapi yang terpenting mengantarkan koalisi ini menang. Jangan terjebak, seolah koalisi ini sudah menang” lanjutnya.
Di samping itu, jika ada mitra koalisi lain yang mengusulkan kadernya untuk bersandingan dengan SBY, PKS mempersilahkan saja mengingat bangunan koalisi yang dibangun berdiri di atas banyak partai. Menurut Doktor lulusan Inggris ini, tak etis jika PKS memaksakan kehendak untuk menyandingkan calonnya dengan SBY. “Jika ada mitra koalisi yang juga mengajukan cawapres, silahkan saja. Kita tidak akan memaksakan kehendak “ ungkapnya penuh bijak.
Seperti diketahui, bangunan koalisi bersama PD terdiri dari sejumlah Partai, di anataranya PKS mengusung HNW, PAN mengusung Hatta Radjasa, dan PKB mengusung Muhaimin Iskandar sebagai calon pasangan SBY. Banyaknya opsi dan teka teki siapa yang akan bersanding dengan SBY, semuanya biarkan SBY yang menentukan. (Adi)
Dinamika politik pun kian semarak menyusul ditetapkannya Jusuf Kalla (JK) sebagai calon Presiden dari Partai berlambang pohon beringin itu. Munculnya JK sebagai kandidat Capres semakin menambah hangatnya bursa pertarungan menuju RI 1 di jagad politik Indonesia Raya. Sekaligus menambah Satu Capres selain SBY dan Megawati Soekarno Putri. Praktis, jika tidak ada perubahan lagi, maka Pilpres 2009 akan diikuti tiga Capres yang siap berkompetisi.
Banyak kalangan menengarai, pecah kongsi antara Golkar dan Demokrat membuat posisi tawar PKS – sebagai partai terbesar keempat dengan raihan suara 8 persen - semakin kuat untuk mensandingkan Hidayat Nur Wahid (HNW) dengan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono.
Menanggapi hal itu, Ketua Bidang Politik DPP PKS Zulkieflimansyah mengatakan, kepastian apakah HNW yang diusulkan PKS untuk mendampingi SBY akan ditetapkan dalam Pertemuan Nasional Majelis Syuro PKS yang akan berlangsung pada Sabtu-Ahad (25-26/04). “Sejauh ini, kader-kader PKS di bawah memang menginginkan HNW yang mendampingi SBY,” tuturnya.
Pertemuan Majelis Syuro PKS kali ini bukan semata membincangkan soal koalisi jelang pilpres 2009. Melainkan juga membicarakan satu agenda lain yang tak kalah pentingnya yaitu, mengevaluasi hasil pemilu legislatif 2009. “Pertemuan Majlis Syuro ini akan membicarakan setidaknya dua agenda penting. Pertama, evaluasi pemilu legislatif dan kedua menentukan siapa calon dari PKS,” ungkapnya dalam konferensi pers yang digelar di Kelapa Dua, Jakarta, Jumat (24/04).
Ketika ditanya apakah PKS akan membuka koalisi dengan partai lain, pria murah senyum ini menegaskan, semuanya menunggu hasil pertemuan Majelis Syuro. “Namun sejauh ini opsi koalisi dengan demokrat lebih dominan di kalangan kader PKS,” tambahnya.
PKS menginginkan koalisi yang dibangun mesti berdasarkan atas nilai, mengutamakan kebersamaan, kekompakan dan kesamaan visi. Untuk itu, koalisi yang dirajut harus solid dan kokoh mengingat tantangan ekonomi ke depan semakin sulit.
Koalisi yang didasarkan pada nilai dan etika ini untuk menganulir penilaian sejumlah kalangan, seolah penjajakan koalisi yang dibangun selama ini hanya mengejar kekuasaan, sharing power, dan bagi bagi jatah kursi. “Sharing power tidak bisa dinafikan, tapi yang terpenting mengantarkan koalisi ini menang. Jangan terjebak, seolah koalisi ini sudah menang” lanjutnya.
Di samping itu, jika ada mitra koalisi lain yang mengusulkan kadernya untuk bersandingan dengan SBY, PKS mempersilahkan saja mengingat bangunan koalisi yang dibangun berdiri di atas banyak partai. Menurut Doktor lulusan Inggris ini, tak etis jika PKS memaksakan kehendak untuk menyandingkan calonnya dengan SBY. “Jika ada mitra koalisi yang juga mengajukan cawapres, silahkan saja. Kita tidak akan memaksakan kehendak “ ungkapnya penuh bijak.
Seperti diketahui, bangunan koalisi bersama PD terdiri dari sejumlah Partai, di anataranya PKS mengusung HNW, PAN mengusung Hatta Radjasa, dan PKB mengusung Muhaimin Iskandar sebagai calon pasangan SBY. Banyaknya opsi dan teka teki siapa yang akan bersanding dengan SBY, semuanya biarkan SBY yang menentukan. (Adi)