Indonesia Dalam Lelucon Budayawan

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Kamis, 11 Maret 2010
Book Review » 06 November 2009 » Hit: 420
Indonesia Dalam Lelucon Budayawan
Book Review
Judul buku : Catatan Harian Seorang Penggoda Indonesia
Penulis : Prie GS
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Dunia terasa berhenti ketika melihat koleksi buku Bang Zul di ruang perpustakaan pribadinya. Ungkapan ini mungkin agak hiperbolis, namun ungkapan subyektif ini sebagai gambaran betapa sang Doktor hobi mengoleksi buku-buku berkulitas tinggi. Mulai dari tema politik, ekonomi, budaya, sejarah hingga buku yang terkait dengan kehidupan sehari-hari, amat mudah didapatkan di jejeran rak pustaka pribadinya. Seolah dunia hanya sebuah ruangan kecil di rumahnya.

Salah satu koleksi bukunya yang cukup menarik adalah buku karangan Prie GS bertajuk “Catatan Harian Seorang Penggoda Indonesia”. Buku ini merupakan refleksi seorang pengamat sekaligus budayawan atas persoalan hidup dan rutinitas kesehariannya. Sang pengarang Prie Gs, dengan intonasi tulisan yang jenaka, ia mampu menyuguhkan sajian tulisan yang menggelitik. Dalam setiap kolom tulisannya, pilihan kata yang dipilih begitu apik; kata-katanya sungguh bertenaga.

Menjadi pengamat adalah kesukaannya. Mengamati apa saja, yang paling asyik adalah mengamati segenap kelucuan dalam hidup. Namun, pekerjaan yang dianggap kurang jelas itulah yang mengantarkan sosoknya menyandang atribut seorang budayawan tulen.

Prie GS merupakan sosok yang dikenal sangat jenaka dalam setiap kehidupannya. Dengan atribut budayawan, ia bisa berceramah penuh humor di depan anak-anak jalanan hingga eksekutif muda. Bahkan saat ini, ia sibuk menjadi intelektual publik dengan tema tak terbatas; mulai dari tema seputar politik, ekonomi, budaya, sosial, hingga bisnis. Tema-tema itu disampaikan dengan gayanya yang khas, penuh canda tapi menggugah. Selera humor merupakan hal tak terpisahkan dalam dirinya.

Diawali dengan tulisan yang berjudul “Ada Batman di Rumah Saya”, kita dapat menyimak persoalan yang biasa kita hadapi tampak sepele tapi ditulis dengan kritis hasil renungan sang budayawan. Di situ, misalnya, diceritakan bagian atas rumahnya yang tiap malam lampunya harus ia nyalakan bukan untuk menantang anjuran hemat listrik PLN, melainkan karena alasan yang dianggapnya agak kurang bermutu, yaitu ketakutan anak istrinya pada hantu.

Meski belum pernah menampakkan batang hidungnya, tapi sosok hantu itu menjadi teror bagi keluarganya. Berulangkali disadarkan bahwa dari 100 orang yang percaya akan penampakan hantu, 122 di antaranya belum pernah melihat hantu. Meski dijelaskan dengan berdarah-darah, tak bisa memupus ketakukan akan kehadiran sosok hantu yang menyeramkan itu.

Sampai suatu ketika, ada cara realistik untuk membuktikan keberadaan hantu tersebut. Anjuran hemat listrik itu pun diikuti. Jika menjelang malam, semua lampu rumah dimatikan. “Tetapi, baru kegelapan berlangsung berapa malam, telah terjadi keanehan di rumah saya,” tulis Prie Gs.

Setiap pagi, tangga rumahnya mulai berceceran kotoran. Seluruh isi rumah gempar dan sepakat bahwa hantu yang ditakuti itu tidak hanya ada tapi juga telah melakukan aksinya. Karena begitu tegangnya menanggapi aksi sang ‘hantu’ sampai lupa untuk melakukan refleksi. Refleksi apa?

Yang membuat kotoran itu bukanlah sang hantu menakutkan, melainkan kelelawar yang senang hidup dalam ruangan gelap. Mengetahui hal itu, kelelawar pun diusir karena kalau malam tidak hanya mengganggu dengan kotoran tapi wajahnya mirip dengan vampire penghisap darah.

Semua tulisan yang ada dalam buku ini hampir serupa bercerita persoalan sederhana tentang kehidupan sehari-hari yang bisa dihadapi siapa pun, namun persoalan tidak akan sesedarhana itu jika dilakukan pengkajian dan telaah mendalam guna melakukan refleksi hidup yang lebih baik.

Ada banyak judul tulisan yang cukup mengharu biru; sebut saja misalnya Banjir Besar Melanda Jakarta dan Surat Untuk Anak Saya. “Banjir besar melanda Jakarta, anakku. Mari aku ajari kau menatap banjir itu dari sudut yang lebih rendah hati”.

Jika cuma soal banjir, kota-kota di negari ini dalam ancaman bahaya yang sama. Seluruh kota di negari ini telah berkembang menjadi kota yang susah dinasehati. Jadi, Jakarta tidak sendiri. Ia hanya kota yang lebih dulu. Lebih dulu penuhnya dan lebih dulu majunya sehingga lebih dulu juga keruwetannya. Tapi, menjadi ramai itu tidak harus ruwet bukan?

Kerendahan hati kedua menatap banjir sebagai banjir semata. Tidak lebih. Banjir itu tak ada kaitannya dengan pendangkalan sungai, pembalakan hutan, dan semacamnya. Semua orang pasti ingat sejarah banjir besar di era Nabi Musa. Ia tak ada sangkut pautnya dengan illegal logging dan penjarahan bantaran sungai untuk perumahan seperti yang jamak terjadi di negeri ini. Banjir itu ya banjir saja, paket lansung dari Tuhan untuk sebuah maksud yang entah kita tidak tahu.

Kerendahan hati yang ketiga adalah memahami bahwa akan datang suatu era bahwa Jakarta terlalu kecil untuk mencegah banjir besar yang menimpanya karena apa yang ada di Jakarta sangat tergantung bagaimana keadaan Bogor. Apa yang ada di Bogor bergantung Jawa Barat,d an Jawa Barat itu Cuma bagian dari Indonesia. Lalu siapakah Indonesia itu? Ia adalah nama negara kita bukan? Tetapi, bisa apa Indonesia jika musuhnya adalah lapisan ozon yang kini menganga hingga 34 juta kilometer luasnya.

Keseluruhan tulisan dalam buku ini menjadikan manusia sebagai sudut pandangnya. Sudut pandang itu mengikuti kemanapun kita pergi. Dalam tulisan yang disebut refleksi ini, Prie GS dapat bicara apa saja tentang soal-soal yang sering kita lupakan. Mulai dari pemilihan RT, Banjir, atap rumah, kotoran hingga persoalan cinta dan olahraga. Prie GS jiwanya begitu menyatu dalam buku ini.

Bagi sang penulis, menjadi budayawan dan intelektual publik tidak semudah menjadi seorang suami bagi Istri dan bapak dari anak-anaknya. Pekerjaan penceramah memang menggembirakan; bicara hanya beberapa jam , dapat teput tangan serta honor pula. Tapi menjadi seorang suami bagi istri dan bapak anak-anaknya butuh amunisi dan keuletan yang ekstra. (adi)