Political Update » 04 September 2007 » Hit: 1708
Kepak Garuda di Libanon
Koran Tempo, Senin, 20 Agustus 2007
Pengiriman pasukan perdamaian yang dilakukan Indonesia sudah terjadi beberapa kali. Kali ini Indonesia mengirim pasukan Garuda XXIII ke Libanon. Mereka sudah bertugas hampir delapan bulan. Bagaimana kondisi mereka dan apa saja yang dilakukan, Markas Besar TNI mengajak Tempo dan beberapa wartawan lain menengok dari dekat kegiatan pasukan Baret Biru ke Libanon dua pekan lalu.
Sebuah insiden yang nyaris fatal terjadi di Syekh Abbad Tomb, sebuah tempat di perbukitan Libanon Selatan, awal bulan ini. Tempat tersebut berada dalam wilayah operasi Pasukan Garuda XXIII-A Indonesia, yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). UNIFIL adalah pengemban misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di negara itu.
Suatu siang, tiga pemulung warga setempat tengah mengais besi rongsokan yang berserakan di tempat ini. Untuk memotong besi yang akan dijual kembali itu, sejumlah peralatan, seperti pemotong besi dan alat las, mereka tenteng.
Sayangnya, tempat mereka mengais barang rongsokan itu merupakan bekas daerah latihan militer Hizbullah. Di tempat tersebut memang banyak terdapat reruntuhan bunker yang dibangun Hizbullah, kelompok Islam Syiah yang kini berkuasa di Libanon, saat berperang melawan Israel. Sudah tentu tempat itu belum lepas dari "pengamatan" Israel meski PBB sudah turun tangan.
Rupanya ketiga pemulung ini tak sadar mereka tengah berada di daerah rawan. Gerak-gerik mereka langsung terdeteksi radar Israel. Apalagi mereka membawa sejumlah peralatan yang mungkin dianggap "mirip" senjata. Alhasil, hanya dalam hitungan menit, sebuah pesawat tempur angkatan bersenjata Israel (Israel Defense Forces) melintas di atas kepala mereka untuk "melakukan pengawasan".
Tempat tersebut memang tidak jauh dari pagar besi yang dililit kawat berduri setinggi 3-4 meter yang membentang sepanjang 121 kilometer. Pagar itu memisahkan Libanon dengan Israel, dua negara yang selama bertahun-tahun terlibat konflik bersenjata. Tempat ini diberi nama Syekh Abbad Tomb karena di sana terdapat makam (tomb) Syekh Abbad, seorang ulama besar pelopor gerakan Syiah.
Makam itu sampai sekarang "diperebutkan" dua negara tersebut karena Israel juga mengklaim makam tersebut "dihuni" Rabi Rav Ashi, tokoh suci Israel. Konflik tersebut membuat makan "dibelah" menjadi dua bagian. Nah, tepat di sebelah makam itulah berdiri "angkuh" pos pengamatan Israel yang dilengkapi sejumlah alat pendeteksi canggih.
Selain mengerahkan pesawat, satu kelompok tentara Israel--yang setiap saat berpatroli--langsung bersiaga di balik pagar. Senjata pun siap digunakan untuk menghadapi kemungkinan "ancaman" dari ketiga orang itu. Beruntung bagi ketiga pemulung itu, Pasukan Garuda XXIII-A yang bertugas di pos 8-33 Syekh Abbad Tomb, yang bersebelahan dengan pos Israel, segera ambil langkah untuk mencegah insiden yang tak diinginkan. Dua buah panser jenis VAB berwarna putih dengan lambang PBB langsung "dikerahkan" untuk menghalangi mereka dari kemungkinan ancaman kekerasan tentara Israel.
"Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 menyatakan, salah satu tugas UNIFIL adalah melindungi penduduk sipil dari ancaman kekerasan," ujar
perwira penerangan Kontingen Garuda XXIII-A, Mayor Muhammad Irawadi, kepada Tempo saat mengunjungi Libanon Selatan dua pekan lalu.
Ya, melindungi warga sipil. Itulah salah satu tugas utama Pasukan Garuda, yang telah lebih dari delapan bulan mengemban misi perdamaian di Libanon. Saat menjalankan tugas, berbagai risiko harus diambil. Terkadang "pagar badan" pun dibentuk agar warga sipil yang tak berdosa tidak menjadi korban.
Syekh Abbad Tomb hanyalah satu tempat yang keamanannya jadi tanggung jawab Pasukan Garuda. Sejak bertugas di Libanon Selatan, UNIFIL memberi "jatah" 12 desa sebagai wilayah operasi pasukan dari Indonesia itu.
Seratus persen penduduk di tempat pasukan ini bertugas beragama Islam Syiah. Saat memasuki musim panas (Juni-Agustus), jumlah penduduk desa meningkat tiga hingga empat kali lipat dibanding saat musim dingin (Desember-Maret). Akibatnya, risiko terjadi gesekan antara warga sipil Libanon dan tentara Israel juga turut meningkat.
Wilayah operasi Pasukan Garuda adalah ladang ranjau dan bahan peledak yang disebar kedua belah pihak. Meski ranjau sudah dibersihkan, sejumlah tempat masih belum cukup aman karena masih banyak terdapat ranjau. Ini karena seluruh wilayah itu dulunya basis atau bekas daerah latihan militer Hizbullah, yang tentu saja sampai sekarang bakal tak luput dari "pengindraan" Israel.
Komandan Satuan Tugas Kontingen Garuda XXIII-A Kolonel Infanteri Surawahadi mengatakan, Juni lalu sempat terjadi aksi pelemparan bom ke wilayah Israel. "Ini membuat situasi terus berubah," ujarnya. Belum lagi beberapa kali terjadi insiden pelemparan batu ke arah tentara Israel yang sedang berpatroli.
Bagi pendatang, memasuki wilayah ini tidaklah mudah. Saat Tempo mengunjungi tempat ini bersama rombongan Markas Besar TNI, yang membawa bantuan untuk masyarakat Libanon, rombongan tetap harus dikawal sejumlah kendaraan UNIFIL. Melewati Sungai Litani, yang membelah Libanon, merupakan pertanda memasuki wilayah operasi UNIFIL. Di sini, kendaraan pengawal wajib memasang bendera PBB demi keamanan. "Ini sudah prosedur yang sudah ditetapkan UNIFIL," kata Irawadi.
Di wilayah operasi ini, Pasukan Garuda menempati empat pos. Pos satu dengan yang lain dapat ditempuh dalam 20-30 menit.
Saat ini sedang disiapkan Kontingen Garuda XXIII-B, yang akan menggantikan Garuda XXIII-A yang akan habis masa tugasnya dalam waktu dekat. Pasukan dengan jumlah personel yang sama dengan pendahulunya, sebanyak 850 orang, akan dilatih di Bandung, Jawa Barat. Pasukan pengganti tentu harus berlatih ekstra dan menyiapkan segala sesuatunya karena kondisi di Libanon tentu berbeda jauh dengan Tanah Air.
Namun, tugas yang diemban Garuda XXIII-B tentu akan lebih ringan daripada XXIII-A, yang sebelumnya melakukan babat alas, terutama karena Garuda XXIII-A kini telah berhasil melakukan "pendekatan" dengan masyarakat setempat.
Seperti pada peringatan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus lalu, yang dipusatkan di Pos 7-1. Acara ini melibatkan warga. Sejumlah bantuan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dikirim dari Indonesia dua pekan lalu, seperti puluhan komputer jinjing (laptop) dan printer serta ribuan tas sekolah dan buku tulis, dibagikan ke sejumlah sekolah dan siswa Libanon Selatan. Kini sayap Garuda membentang semakin lebar, yang seakan "meneduhkan" warga Libanon Selatan.
by DIMAS ADITYO (BEIRUT, Libanon)
Pengiriman pasukan perdamaian yang dilakukan Indonesia sudah terjadi beberapa kali. Kali ini Indonesia mengirim pasukan Garuda XXIII ke Libanon. Mereka sudah bertugas hampir delapan bulan. Bagaimana kondisi mereka dan apa saja yang dilakukan, Markas Besar TNI mengajak Tempo dan beberapa wartawan lain menengok dari dekat kegiatan pasukan Baret Biru ke Libanon dua pekan lalu.
Sebuah insiden yang nyaris fatal terjadi di Syekh Abbad Tomb, sebuah tempat di perbukitan Libanon Selatan, awal bulan ini. Tempat tersebut berada dalam wilayah operasi Pasukan Garuda XXIII-A Indonesia, yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). UNIFIL adalah pengemban misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di negara itu.
Suatu siang, tiga pemulung warga setempat tengah mengais besi rongsokan yang berserakan di tempat ini. Untuk memotong besi yang akan dijual kembali itu, sejumlah peralatan, seperti pemotong besi dan alat las, mereka tenteng.
Sayangnya, tempat mereka mengais barang rongsokan itu merupakan bekas daerah latihan militer Hizbullah. Di tempat tersebut memang banyak terdapat reruntuhan bunker yang dibangun Hizbullah, kelompok Islam Syiah yang kini berkuasa di Libanon, saat berperang melawan Israel. Sudah tentu tempat itu belum lepas dari "pengamatan" Israel meski PBB sudah turun tangan.
Rupanya ketiga pemulung ini tak sadar mereka tengah berada di daerah rawan. Gerak-gerik mereka langsung terdeteksi radar Israel. Apalagi mereka membawa sejumlah peralatan yang mungkin dianggap "mirip" senjata. Alhasil, hanya dalam hitungan menit, sebuah pesawat tempur angkatan bersenjata Israel (Israel Defense Forces) melintas di atas kepala mereka untuk "melakukan pengawasan".
Tempat tersebut memang tidak jauh dari pagar besi yang dililit kawat berduri setinggi 3-4 meter yang membentang sepanjang 121 kilometer. Pagar itu memisahkan Libanon dengan Israel, dua negara yang selama bertahun-tahun terlibat konflik bersenjata. Tempat ini diberi nama Syekh Abbad Tomb karena di sana terdapat makam (tomb) Syekh Abbad, seorang ulama besar pelopor gerakan Syiah.
Makam itu sampai sekarang "diperebutkan" dua negara tersebut karena Israel juga mengklaim makam tersebut "dihuni" Rabi Rav Ashi, tokoh suci Israel. Konflik tersebut membuat makan "dibelah" menjadi dua bagian. Nah, tepat di sebelah makam itulah berdiri "angkuh" pos pengamatan Israel yang dilengkapi sejumlah alat pendeteksi canggih.
Selain mengerahkan pesawat, satu kelompok tentara Israel--yang setiap saat berpatroli--langsung bersiaga di balik pagar. Senjata pun siap digunakan untuk menghadapi kemungkinan "ancaman" dari ketiga orang itu. Beruntung bagi ketiga pemulung itu, Pasukan Garuda XXIII-A yang bertugas di pos 8-33 Syekh Abbad Tomb, yang bersebelahan dengan pos Israel, segera ambil langkah untuk mencegah insiden yang tak diinginkan. Dua buah panser jenis VAB berwarna putih dengan lambang PBB langsung "dikerahkan" untuk menghalangi mereka dari kemungkinan ancaman kekerasan tentara Israel.
"Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 menyatakan, salah satu tugas UNIFIL adalah melindungi penduduk sipil dari ancaman kekerasan," ujar
perwira penerangan Kontingen Garuda XXIII-A, Mayor Muhammad Irawadi, kepada Tempo saat mengunjungi Libanon Selatan dua pekan lalu.
Ya, melindungi warga sipil. Itulah salah satu tugas utama Pasukan Garuda, yang telah lebih dari delapan bulan mengemban misi perdamaian di Libanon. Saat menjalankan tugas, berbagai risiko harus diambil. Terkadang "pagar badan" pun dibentuk agar warga sipil yang tak berdosa tidak menjadi korban.
Syekh Abbad Tomb hanyalah satu tempat yang keamanannya jadi tanggung jawab Pasukan Garuda. Sejak bertugas di Libanon Selatan, UNIFIL memberi "jatah" 12 desa sebagai wilayah operasi pasukan dari Indonesia itu.
Seratus persen penduduk di tempat pasukan ini bertugas beragama Islam Syiah. Saat memasuki musim panas (Juni-Agustus), jumlah penduduk desa meningkat tiga hingga empat kali lipat dibanding saat musim dingin (Desember-Maret). Akibatnya, risiko terjadi gesekan antara warga sipil Libanon dan tentara Israel juga turut meningkat.
Wilayah operasi Pasukan Garuda adalah ladang ranjau dan bahan peledak yang disebar kedua belah pihak. Meski ranjau sudah dibersihkan, sejumlah tempat masih belum cukup aman karena masih banyak terdapat ranjau. Ini karena seluruh wilayah itu dulunya basis atau bekas daerah latihan militer Hizbullah, yang tentu saja sampai sekarang bakal tak luput dari "pengindraan" Israel.
Komandan Satuan Tugas Kontingen Garuda XXIII-A Kolonel Infanteri Surawahadi mengatakan, Juni lalu sempat terjadi aksi pelemparan bom ke wilayah Israel. "Ini membuat situasi terus berubah," ujarnya. Belum lagi beberapa kali terjadi insiden pelemparan batu ke arah tentara Israel yang sedang berpatroli.
Bagi pendatang, memasuki wilayah ini tidaklah mudah. Saat Tempo mengunjungi tempat ini bersama rombongan Markas Besar TNI, yang membawa bantuan untuk masyarakat Libanon, rombongan tetap harus dikawal sejumlah kendaraan UNIFIL. Melewati Sungai Litani, yang membelah Libanon, merupakan pertanda memasuki wilayah operasi UNIFIL. Di sini, kendaraan pengawal wajib memasang bendera PBB demi keamanan. "Ini sudah prosedur yang sudah ditetapkan UNIFIL," kata Irawadi.
Di wilayah operasi ini, Pasukan Garuda menempati empat pos. Pos satu dengan yang lain dapat ditempuh dalam 20-30 menit.
Saat ini sedang disiapkan Kontingen Garuda XXIII-B, yang akan menggantikan Garuda XXIII-A yang akan habis masa tugasnya dalam waktu dekat. Pasukan dengan jumlah personel yang sama dengan pendahulunya, sebanyak 850 orang, akan dilatih di Bandung, Jawa Barat. Pasukan pengganti tentu harus berlatih ekstra dan menyiapkan segala sesuatunya karena kondisi di Libanon tentu berbeda jauh dengan Tanah Air.
Namun, tugas yang diemban Garuda XXIII-B tentu akan lebih ringan daripada XXIII-A, yang sebelumnya melakukan babat alas, terutama karena Garuda XXIII-A kini telah berhasil melakukan "pendekatan" dengan masyarakat setempat.
Seperti pada peringatan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus lalu, yang dipusatkan di Pos 7-1. Acara ini melibatkan warga. Sejumlah bantuan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang dikirim dari Indonesia dua pekan lalu, seperti puluhan komputer jinjing (laptop) dan printer serta ribuan tas sekolah dan buku tulis, dibagikan ke sejumlah sekolah dan siswa Libanon Selatan. Kini sayap Garuda membentang semakin lebar, yang seakan "meneduhkan" warga Libanon Selatan.
by DIMAS ADITYO (BEIRUT, Libanon)