Ketika Saya Di Rumah Sendiri

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Kamis, 29 Juli 2010
Book Review » 13 Maret 2010 » Hit: 222
Ketika Saya Di Rumah Sendiri
Saat di rumah sendiri baru saya tau betapa repotnya di tinggal istri. Betapa tanpa anak-anak dunia seperti berhenti. Cuma hendak mencari gelas minuman saja tiba-tiba begitu susahnya. Setelah investigasi ke sana-kemari oo, baru ketemu barang itu ternyata ada di situ. Saya terancam terasing di rumah sendiri karena setiap sudut tidak lagi saya akrabi. Seluruh rumah baru rasanya sudah menjadi daerah kekuasaan istri.

Itulah kenapa setiap saya kebingungan mencari sesuatu, selalu ketemu dengan mudah jika istri datang membantu. Jangankan barang-barang yang sudah umum seperti anak kunci, pisau dapur, gunting, dan kuas cat, bahkan mencari kaos dan celana dalam sendiri saja hampir-hampir saya tidak mandiri. Selalu kebingungan jika harus mencari sendiri. Insting pencarian saya terhadap barang-barang di rumah nyaris lumpuh. Ini pasti bukan karena insting itu tak lagi saya miliki. Semua ini pasti karena kemanjaan saya yang keterlaluan di hadapan istri dan anak-anak. Bahkan, untuk mendekatkan gelas minuman pun, bahagia rasanya jika mereka yang melakukannya.

Kini, ketika saya di rumah sendiri, kemanjaan itu benar-benar menuai karma. Saat perut mulai kelaparan, saya mulai mencari-cari. Pertama mencari apa yang gampang untuk dimakan. Tidak mudah ternyata karena meskipun makanan itu ada, tetapi selera ini tetap tak mudah dijinakkan begitu saja. Setidaknya saya butuh mie panas untuk mengatasinya. Meskipun keadaan darurat, tetapi lidah harus tetap dimanja. Itulah kesalahan saya.

Karena untuk mencari letak mie itu berbeda ternyata sudah menyita waktu dan tenaga. Setelah mie ketemu, kompor harus dinyalakan. Di mana tombol kompor celaka itu, susah benar menemukannya. Dan ketika ia sudah ketemu malah menyisakan kebingungan ekstra. Ini harus ditekan atau diputar. Atau ditekan dulu atau diputar. Atau ditekan dan diputar secara bersama-sama. Ketika api benar-benar menyala, hampir saja saya berteriak gembira jika tak segera sadar bahwa ini baru langkah pertama. “Kerja belum selesai, belum apa-apa,”. Seperti kata Chairil Anwar dalam sajaknya.

Karena selanjutnya saya sudah harus butuh panci. Mencari panci yang cocok ternyata juga sangat sulit. Akhirnya panci apa saja saya tak perduli, walau yang saya temukan itu adalah sebuah panci raksasa yang lebih cocok untuk memasak di dapur umum bagi korban gempa. Padahal, yang saya perlukan sekedar untuk menjerang sebungkus mie. Tetapi, di zaman darurat jangan penuh syarat. Sekali dayung kapal harus menuju pelabuhan. Panci segera saya operasikan. Celakanya prosedur memasak juga tak lagi saya sadari. Benda itu saya taruh di perapian dalam keadaan kosong karena saya fikir air akan segera saya guyurkan. Tetapi di mana letak air itu berada? Sialan, nyelip di sana.

Memang akhirnya, saya temukan. Tetapi, panci yang malang itu telah mengepul ke gerahan dengan aroma alumunium gosong. Keringat mulai merembes di tengkuk saya dan kelaparan ini sudah pelan-pelan berganti kejengkelan. Tetapi, intinya, saya memang berhasil mengatasi kelaparan darurat itu tetapi dengan sebuah perjuangan yang tidak pernah saya bayangkan. Semuanya ini saya sadari semata-mata karena istri tak ada. Ketergantungan saya kepadanya sudah pada taraf keterlaluan dan belum saya putuskan. Ini termasuk berkah atau musibah?

Usai berkeringat, hasil makan mie sambil kepanasan, saya kegerahan dan mandi adalah soal yang saya bayangkan kemudian. Tetapi, aduh, air di bak mandi itu tinggal sedikit sekali dan kotor pula keadaannya. Saya tau, itulah air yang sengaja dibiarkan oleh istri dengan maksud hendak dikuras nanti. Saya menatap genangan air itu sambil termangu. Betapa lama saya sudah tak lagi mengerjakan pekerjaan ini; menguras bak mandi. Tersering memang istri saya dan saya tinggal mandi dalam keadaan air melimpah dengan kebeningan yang menyulut gairah. Telah begitu lama saya hanya terbiasa mandi tetapi tak lagi suka menguras bak mandi. Sebuah kebiasaan yang kemudian menjadi semacam konvensi: pekerjaan itu telah menjadi tugas istri.

Entah kebaikan apa yang melintas dalam benak saya saat itu, saya ingin menghadiahi istri dengan kado kecil itu: biarlah ia pulang sambil melihat pekerjaannya telah saya beresi. Bak mandi itu saya kuras sambil bernyanyi, akan saya sediakan air yang bersih dan melimpah untuknya, tepat ketika ia pulang dalam keadaan lelah dan gerah. Pulang lelah, sambil masih membayangkan menguras bak mandi pasti sebuah musibah. Belum pernah saya menunggu istri pulang dengan perasaan setegang ini. Dan ketika ia datang, lampu kamar mandi saya nyalakan, air yang penuh dan bersih itu saya perlihatkan. Istri saya berteriak dengan sangat gembira. Sementara perasaan saya saat itu, seperti Donald Trumph yang menghadiahi istri mudanya cincin berhias permata.

*Dikutip dari Buku Prie Gs dalam Catatan Harian Penggoda Indonesia halaman 171-173.