Articles » 11 Oktober 2006 » Hit: 1640
Kosta Rika dan Upaya Menarik Investasi Asing [part 1 of 2]
artikel asli berjudul
"Attracting High Technology Foreign Investment"
Debora Spar tahun(1998)
Abstrak
Fenomena terpilihnya Kostarika sebagai negara tempat pembangunan pabrik perakitan dan pengujian semikonduktor oleh perusahaan Intel merupakan suatu kejutan. Hal ini setidaknya $ 300 juta dana segar akan digunakan dinegara kecil dengan penduduk sekitar 3,5 juta jiwa. Mengejutkan karena Kostarika telah berhasil mengalahkan negara-negara pesaingnya seperti Brazil, Chili, Mexico, Indonesia, Philipina dan Thailand. Penelaahan atas Intel dan proses pemilihan tempatnya, dengan mengamati secara dekat Kosta Rika dan strateginya dalam membidik industri elektronika sebagai investasi, mengungkapkan dasar keputusan Intel. Dengan dasar stabilitas politik, komitmen terhadap keterbukaan ekonomi, dan sistem pendidikan yang sangat baik, Kosta Rika memasarkan dirinya kepada Intel atas dasar “kecil itu indah”(small is beautiful). Ukuran yang kecil membuat mereka mampu memobilisasi dukungan dalam komunitas politik dan bisnis serta merespons permintaan Intel akan informasi dan pendampingan dalam waktu yang sangat singkat. Keberhasilan Kosta Rika buah dari dari kerjasama Pengembangan strategi elektronika serta kegiatan promosi dan fasilitasi yang ditangani oleh CINDE, badan promosi nasional Kosta Rika, dukungan dari Presiden Kosta Rika terhadap proyek tersebut, dan koordinasi Kementerian Perdagangan Luar Negeri untuk menangani interaksi antara Intel dan pemerintah merupakan beberapa faktor yang membuat raksasa semikonduktor ini terkesan. Tidak adanya konsesi spesifik perusahaan untuk Intel, side-deals, atau hibah pemerintah yang besar menjadi kontras dengan taktik yang digunakan banyak negara untuk menarik investor besar semacam ini. Pertemuan antara prosedur pemilihan tempat Intel dan upaya promosi investasi Kosta Rika merupakan kilasan proses keputusan investasi yang sedang berlangsung yang sulit ditemui. Pelajaran yang didapat dari mengkaji kasus ini dapat membantu negara lain dalam menyusun strategi promosi investasinya sendiri.
Pendahuluan
Pada bulan November 1996, Intel Corporation mengumumkan rencana untuk membangun pabrik perakitan dan pengujian semikonduktor senilai $300 juta di Kosta Rika. Ini merupakan kejutan bagi pemerintah Kosta Rika, yang telah bekerja keras selama berbulan-bulan untuk menarik perusahaan teknologi yang bermarkas di Amerika Serikat (AS) itu. Hal itu juga meningkatkan minat sungguh-sungguh di dalam komunitas penanaman modal asing yang lebih luas. Dengan pendapatan tahunan sebesar lebih dari $20 milyar, Intel menjadi salah satu perusahaan terbesar dan pencetak untung terbesar di dunia. Perusahaan ini merupakan pelaku utama dalam industri elektronika dunia dan telah mempelopori inovasi teknologi dalam pasar semikonduktor dan komputer. Pabrik khas Intel bisa menghabiskan biaya $1 milyar dan membutuhkan kemahiran teknik tingkat tinggi dan operasi clean-room. Padahal, Kosta Rika hanyalah sebuah negara kecil. Dengan jumlah penduduk 3,5 juta jiwa dan dengan hanya sedikit pengembangan elektronika dan sektor teknologi lainnya, negara ini sepertinya bukanlah pilihan yang tepat bagi Intel. Biaya pembangunan fasilitas semikonduktor akan membuahkan enam kali lipat dari nilai penanaman modal asing (PMA) tahunan di Kosta Rika dan ekspor yang dihasilkan dari pabrik akan menggandakan nilai ekspor negara ini pada tahun 2000. Produk Nasional Bruto (PNB) Kosta Rika hanyalah sepertiga dari pendapatan tahunan Intel di seluruh dunia.
Jadi, mengapa dan bagaimana Intel memilih Kosta Rika? Percabangannya berada jauh di luar pabrik di Kosta Rika ini dan keputusan tunggal ini. Kosta Rika (sebagaimana negara berkembang lainnya) secara tersurat menargetkan sektor elektronika sebagai wilayah pertumbuhan potensial yang tinggi. Seperti negara lain, Kosta Rika memfokuskan pada peningkatan arus PMA ke dalam negeri dan membentuk badan promosi investasi untuk menarik dan meyakinkan investor potensial. Namun, ketika upaya promosi spesifik industri yang dilakukan negara lain stagnan atau terantuk-antuk, Kosta Rika justru nampak berhasil dengan cukup brilian.
Maka, investasi Intel memberikan dasar yang kuat untuk membahas bagaimana cara suatu negara bisa meningkatkan iklim investasi asingnya secara bertahap dan menyusun strategi promosi investasi dengan canggih. Keputusan Intel untuk berinvestasi di Kosta Rika, merupakan contoh yang sangat baik yang memperlihatkan bagaimana negara kecil tanpa pasar domestik masih mampu menarik perusahaan teknologi tinggi kelas dunia. Hal itu juga memberikan kesempatan untuk menelaah secara dekat dua dinamika paralel yang mengarahkan keputusan tersebut: kriteria dan proses seleksi Intel dan kegiatan promosi investasi Kosta Rika serta pendekatan kepada Intel. Bila dilihat secara bersamaan, dua lini analisis tersebut menekankan sebuah hal penting: promosi investasi merupakan proses yang interaktif, yang tidak hanya melibatkan kegiatan badan promosi investasi, tetapi juga tindakan dan kebutuhan serta kepentingan dari investor potensial. Analisis tersebut juga merupakan ulasan promosi investasi yang sulit ditemui dan menunjukkan proses keputusan investasi yang sedang berlangsung––sebuah gambaran yang dapat membantu negara lain dalam menyusun strategi promosi investasinya sendiri.
Analisis selanjutnya dibagi ke dalam empat bagian besar. Bagian pertama membahas latar belakang pasar semikonduktor internasional dan peran serta posisi persaingan Intel dalam pasar. Bagian kedua merupakan kelanjutan dari proses pengambilan keputusan yang menetapkan pilihan Intel yang jatuh ke Kosta Rika, dan upaya langsung Kosta Rika untuk memasarkan dirinya kepada tim seleksi Intel. Bagian ketiga menguraikan bagaimana Kosta Rika mampu memenangkan investasi Intel. Bagian keempat merupakan kesimpulan, dengan beberapa pelajaran yang bisa diambil dari keberhasilan Kosta Rika.
Apa yang lebih baik dari menguasai pasar? Menguasai pasar yang bertumbuh cepat dan bermarjin tinggi. Itulah rumusan di balik Intel si no. 1, yang mikroprosesornya tertanam di dalam PC-PC di seluruh dunia. Di samping posisi nyaris monopolinya, Intel tidak perlu lagi melakukan perubahan. Intel sangat waspada dalam berjaga-jaga dari serangan musuh dan kecakapan pemasarannya menjadi legenda. Saksikanlah kampanye Intel inside, yang telah membentuk identitas merek untuk sebuah produk yang konsumennya tidak pernah lihat dan hanya bisa memahami garis besarnya.
Industri Semikonduktor Internasional
Pada tahun 1971, Intel Corporation memperkenalkan cip 4004, mikroprosesor pertama di dunia. Pengenalan ini melahirkan revolusi industri komputer dan menciptakan pertumbuhan fenomenal yang telah dinikmati, baik oleh industri komputer maupun Intel selama itu. Pada tahun 1995, produksi komputer yang mendunia bernilai $237 milyar, meningkat 13,5% dari jumlah total pada tahun 1994. Penjualan semi konduktor saja bernilai $123 milyar dan diramalkan akan terus bertumbuh sebesar 20% per tahun antara tahun 1995 dan 2002. Angka-angka pertumbuhan ini dipicu oleh penggunaan mikroprosesor yang makin beragam dan meningkat, yaitu semikonduktor canggih dan kompleks yang menjadi inti bisnis Intel.
Mikroprosesor amatlah penting sebagai “otak” yang mengendalikan sebagian besar fungsi perhitungan elektronik. Fungsi itu menjadi satu dengan fungsi komputer mainframe, personal computers (PC), komunikasi nirkabel, dan menjadi pemandu produk konsumsi elektronik. Karena penggunaannya yang makin meningkat, mikroprosesor secara umum dipandang sebagai komponen kunci pertumbuhan industri–dan simbol kecakapan ekonomi dan industri. Maka, walaupun perusahaan dari AS dan Jepang terus mendominasi industri, Pemerintah Republik Korea, Taiwan (Cina), dan Singapura telah mendukung pengembangan perusahaan-perusahaan semikonduktor mereka. Selain itu, Cina, Irlandia, Israel, dan Malaysia telah berupaya menarik investasi dari perusahaan-perusahaan asing terkemuka. Bagi negara berkembang, industri semikonduktor mungkin menawarkan janji tinggi akan dampak positif––seperti lapangan pekerjaan dan inovasi teknologi dan pengembalian jangka panjang yang telah menjadikan Intel sebagai salah satu perusahaan paling menguntungkan di dunia.
Intel Corporation
Dalam industri semikonduktor, posisi Intel merupakan perusahaan legendaris. Dengan tingkat penjualan mikroprosesor sebesar 85% di seluruh dunia, Intel menjadi produsen terkemuka dunia. Pada tahun 1996, Intel membukukan pendapatan sebesar $20,8 milyar dan penghasilan bersih sebesar $5,1 milyar. Sejak tahun 1987, pengembalian rata-rata perusahaan terhadap investor mencapai 44% pertahun. Cip canggihnya terjual pada awal 1997 dengan marjin laba kotor sebesar hampir 60%.
Fakta lebih mengesankan lagi, di samping angka-angka di atas, adalah posisinya sebagai pemimpin teknologi dan strategi industri yang tak dapat dipungkiri. Sejak didirikan pada tahun 1968, Intel adalah yang pertama kali memperkenalkan mikroprosesor tercanggih dan tercepat. Atas bimbingan sang pendiri, Gordon Moore dengan “hukum”nya yang terkenal hingga menyebabkan kekuatan dari cip komputer ini meningkat dua kali lipat setiap 18 bulan, Intel telah menciptakan secara konsisten generasi penerus cip yang makin kuat. Sementara itu, para pesaingnya hanyalah mengekor keberhasilan engineering Intel, dengan meniru desain baru (yang disebut “arsitektur” di dalam penjualannya) tanpa harus berinvestasi untuk penelitian dan pengembangan yang menyokong setiap peluncuran produk baru Intel. Para pesaing ini kemudian bersaing dengan Intel hanya dalam harga. Kemudian, sementara para pesaingnya berlomba-lomba menurunkan harga dan marjin mereka, Intel beralih ke generasi prosesor berikutnya yang lebih canggih dan inovatif.
Dalam beberapa tahun belakangan, Intel telah berupaya keras meningkatkan sisi permintaan dalam industrinya. Daripada berisiko kekurangan permintaan akan cip yang baru dan lebih canggih, Intel mendorong perusahaan lain, seperti Microsoft, untuk merancang peranti lunak yang membutuhkan kemampuan pemrosesan yang lebih cepat. Dorongan itu menciptakan dinamika yang unik, tetapi menguntungkan, yang digambarkan oleh salah seorang eksekutif Intel bagaikan “pertandingan gulat dan tarian yang terjadi bersamaan.” Intel membantu menciptakan permintaan akan produknya dan memungkinkan mitranya untuk berbagi keberhasilan dengannya. Pada tahun 1996, perusahaan membelanjakan $500 juta untuk membiayai tahap awal pembuatan peranti lunak dan untuk mendorong pengembangan pengguna potensial dari mikroprosesor generasi baru. Investasi ini merupakan yang terbesar dengan pembelanjaan sebesar $5 milyar untuk proyek utama dan kegiatan penelitian dan pengembangan.
Strategi Operasi dan Ekspansi
Posisi bergengsi Intel dalam kancah industri semikonduktor telah membuatnya menjadi pelopor strategi operasi dan investasi yang tak kalah bergengsinya. Pada dasarnya, strategi diarahkan oleh teknologi canggih dan kecepatan tinggi. Setiap sembilan bulan sekali, Intel membangun pabrik baru. Hampir semua pabrik ini dibangun untuk memenuhi permintaan di masa depan, bukan masa kini. Craig Barrett, presiden direktur perusahaan ini yang baru saja diangkat, mengakui, “Kami membangun pabrik dua tahun sebelum kami merasa memerlukannya, sebelum kami memiliki produk yang akan dibuat di dalamnya, sebelum industri terus bertumbuh.”
Optimisme itu masuk akal, dan bahkan diperlukan, dalam pasar semikonduktor yang berjalan cepat ini. Hal itu terjadi karena ini adalah industri di mana produsen mengambil laba total mereka di awal, biasanya pada enam bulan pertama sebelum pengenalan produk. Pada saat itu, perusahaan bisa mengenakan biaya sebesar $1.000 per cip. Namun, setelah enam bulan, produk tiruan/imitasi yang berharga murah cenderang memberikan penekanan pada harga, biasanya dengan menekan hingga sekitar $200. Bagi Intel, siklus dasar ini berdampak pada kebutuhan konstan untuk berinovasi, dan untuk meningkatkan kapasitas produksi secepat mungkin untuk tiap generasi baru prosesor.
Dasar pemikiran ekspansi ini telah mengarahkan Intel untuk mengembangkan serentetan sarana di luar negeri. Ketika sedang memikirkan investasi seperti apa di Kosta Rika, perusahaan telah memiliki pabrik pembuatan wafer di Irlandia dan Israel dan pabrik perakitan dan pengujian di Malaysia, China, dan Filipina. Tidak seperti kebanyakan perusahaan lain, Intel lazimnya tidak berinvestasi di luar negeri untuk melayani pasar lokal atau mengurangi biaya transportasi. Tidak perlu melakukan itu. Prinsip Intel mikroprosesor lebih berharga daripada segenggam emas, biaya transportasi cip hanyalah beberapa persen dari biaya akhir. Perusahaan semikonduktor sedikit enggan mengurangi biaya ini dengan memindahkan fasilitas produksi mereka sehingga dekat dengan wilayah yang permintaannya akan cip tinggi. Sebaliknya, investasi di luar negeri, seperti investasi pada umumnya, didorong oleh keinginan untuk meningkatkan kapasitas baru dalam jumlah yang besar dengan biaya seefisien mungkin untuk mengurangi risiko yang timbul dari kegiatan produksi di sejumlah pabrik yang berbeda.
Kecepatan adalah hal yang terpenting. Strategi Intel dalam inovasi pembuatan cip (fab) adalah dengan terus menerus mengembangkan cip generasi yang lebih cangih sehingga para pesaing tidak mampu untuk menyaingi Intel Hal ini pada gilirannya mengharuskan Intel untuk meng-upgrade pabrik-pabrik yang ada atau, bila ekspansi tidak layak lagi, untuk mengembangkan lokasi baru. “Peningkatan” kapasitas produksi baru haruslah cepat dan berpadu secara baik dengan kapasitas yang ada bila Intel ingin mempertahankan posisinya di teknologi dan memperoleh pengembalian yang selama ini menjadi pendukung pertumbuhan perusahaan. Atau sebagaimana dijelaskan oleh salah seorang manajer Intel, “Penundaan satu minggu saja bisa menimbulkan kerugian puluhan juta dolar dalam penjualan––dan risiko kehilangan posisi puncak atas para pesaing.”
Selain kecepatan, Intel (seperti halnya perusahaan teknologi canggih lainnya) bergantung pada tenaga kerja yang dapat diandalkan dan terdidik. Meskipun pembuatan cip, pengujian dan perakitannya pada dasarnya adalah kegiatan padat modal, pabrik membutuhkan kemahiran manufaktur yang spesifik dan agak kompleks. Akibatnya, Intel hanya akan membangun pabrik di tempat yang ada jaminan akses ke tenaga kerja yang sangat teknis dan sangat bisa dilatih. Sekali memilih telah berinvestasi pada tenaga kerja macam itu, Intel sulit pergi, bahkan bila teknologi di pabrik itu menjadi cepat usang. Sebaliknya, perusahaan secara tradisional telah memilih untuk reinvestasi pada lokasi-lokasi yang ada, dengan menggunakan tenaga kerja terlatihnya untuk sesegera mungkin meluncurkan produksi di dalam sarana yang berbeda. Atau seperti penjelasan Presiden Direktur Barett, “lebih mudah untuk beralih ke cip generasi masa depan di fasilitas yang ada dengan staf yang berpengalaman daripada memulai dari nol dengan orang-orang baru dan belum teruji.”
Bukti dari pemilihan lokasi ini kentara pada startegi investasi luar negeri. Pada tahun 1972, Intel membuka fasilitas manufaktur di luar negeri pertamanya di Penang, Malaysia. Selama 25 tahun berikutnya, walaupun tumbuh secara dahsyat, perusahaan ini terus saja memperluas dan melengkapi pabrik di Penang. Pada tahun 1996, mengakui bahwa akhirnya mereka telah “pada dasarnya menghabiskan seluruh tenaga kerja yang ada (di Penang)”, Intel membangun $100 juta fasilitas lapangan hijau––25 mil jaraknya dari Kulim Hi Tech Park. Pola serupa nampak di Irlandia, ketika fasilitas manufaktur papan sistem dibangun dan diikuti dengan, pada tahun 1997, pabrik pembuatan senilai $1,5 milyar.
Dalam memilih lokasi untuk pabrik luar negerinya, Intel nampaknya tidak kebal terhadap godaan padat modal. Pembuatan, perakitan dan pengujian semikonduktor bagaimanapun juga amatlah mahal; dan antara tahun 1994 dan 1997 harga fasilitas semacam ini meningkat tiga kali lipat. Tidak seperti para pesaingnya, Intel cenderung membangun fasilitas mahal macam ini bahkan sebelum permintaan akan produknya muncul. Hal itu menyiratkan, setidaknya berpotensi, adanya strategi investasi yang berisiko, yang ingin ditanggulangi oleh Intel melalui paket insentif dari pemerintah setempat.Pada awal 1990-an strategi Intel dalam invesatsi dan pemilihan lokasi sangat memeperhatikan insentif baik pajak bumi bangunan maupun insentif lainnya.
Bagi Intel, insentif semacam itu diyakini dapat menentukan kelayakan ekonomi dari sebuah investasi, terutama pabrik pembuatan, yang lebih padat modal daripada fasilitas perakitan dan pengujian. Selain itu strategi lain Intel adalah dengan mengharapkan hibah dari pemerintah negara mitra, misalnya ketika Intel membangun pabrik di Dorman Israel.
Memilih Kosta Rica: Inside Intel
Kami berpertaruh pada produk yang belum didesain dan pasar yang tidak eksis. Fab kami adalah lahan impian. Kami membangunnya dan berharap orang akan datang.
Andy Grove, CEO Intel
Keputusan untuk Berekspansi
Keputusan yang membawa Intel ke Kosta Rika lebih merupakan proses yang berkelanjutan, bukanlah tindakan diam tanpa rencana. Karena begitu sering memperluas kapasitasnya, pada dasarnya Intel selalu berada dalam kegiatan meninjau lokasi-loksai yang memungkinkan dan mengevaluasi alternatif-alternatif investasi. Fasilitas di Kosta Rika timbul dari salah satu proses berkelanjutan itu.
Pada awal tahun 1996, para eksekutif Intel memutuskan untuk mencari lokasi untuk pabrik perakitan dan pengujian yang baru. Mereka membentuk tim ahli fungsional, yang terdiri atas, terutama (walaupun tidak seluruhnya) orang-orang yang memiliki banyak pengalaman dalam seleksi tempat. Tim itu diketuai oleh Chuck Pawlak, Wakil Direktur Seleksi Tempat Internasional. Anggota tim manajemen kunci lainnya adalah Frank Alvarez, Wakil Direktur Kelompok Teknologi dan Manajemen, Bob Perlman, Wakil Direktur Keuangan dan Direktur Pajak, Cukai, dan Perizinan, serta Ted Telford, Analis Seleksi Tempat Internasional. Tim juga terdiri atas ahli fungsional dari departemen operasi, kesehatan dan keamanan lingkungan, sumber daya manusia, hukum, keuangan, administrasi, dan hubungan masyarakat. Tugas dari para anggota tim ini adalah untuk melakukan riset dan mengevaluasi tempat-tempat potensial dari sudut pandang departemen masing-masing.
Sebelum meminta tim untuk memulai proses seleksi tempat, eksekutif Intel telah menentukan bentuk dari investasi yang direncanakan. Akan dibangun pabrik seluas 400.000 kaki persegi yang mempekerjakan hingga 2000 orang untuk merakit dan menguji mikroprosesor Intel Pentium yang terbaru. Pabrik jenis ini, yang dikenal dengan nama ATP (assembly and test plant/pabrik perakitan dan pengujian), merupakan salah satu dari dua jenis pabrik yang membentuk basis manufaktur Intel. Jenis pertama, pabrik pembuatan (fab) untuk memproduksi jantung dari mikroprosesor. Pada intinya, fab mengambil lapisan tipis silikon, yang disebut wafer, dan menggunakan proses fotolitografik yang canggih untuk menggoreskan lapisan sistem sirkuit elektronik di atas tiap wafer yang berukuran 8 inci. Proses ini membutuhkan lingkungan ultra-bersih dan kemampuan teknis dan modal tingkat tinggi. Setelah proses fab selesai, wafer dikirim ke ATP. Di sana, wafer ditipiskan untuk mengurangi tekanan internal, dan dipotong-potong menjadi 300–500 cip atau sirkuit terintegrasi. Cip kemudian dipasang di atas rangka timbal dan direkatkan ke kabel emas tebal yang akan menghubungkannya dengan elemen lain di dalam komputer. Pada tahap akhir proses manufaktur, cip dibungkus dalam kemasan keramik atau plastik dan harus melalui serangkaian pengujian yang ketat.
Bila dibandingkan dengan pabrik pembuatan, ATP relatif murah dan padat karya. Pabrik itu menghabiskan biaya pembangunan sekitar $100 juta atau $300 juta dan biasanya mempekerjakan antara 1500 dan 4000 orang. Pengeluaran untuk gaji merupakan biaya tidak tetap yang paling penting untuk fasilitas ini, umumnya berkisar 25–30% dari biaya operasi total. Untuk menjalankan ATP baru seefisien biaya mungkin, Intel tahu bahwa ia harus mencari tenaga kerja yang berbiaya rendah, tetapi sangat bisa dilatih. Intel juga harus mencari tempat yang menyediakan para insinyur berkualitas dan pergantian pegawainya bisa ditekan secara wajar hingga titik minimum.
Sebelum meluncurkan secara resmi proses seleksi tempat, eksekutif Intel telah memutuskan untuk menjadikan ATP itu pabrik baru di negara baru, bukan ekspansi dari kapasitas yang ada. Keputusan ini berasal dari tekad manajemen untuk memberagamkan basis aset-asetnya secara geografis dan agar terhindar dari konsentrasi lebih dari 30% pendapatannya dari kategori produk mana pun pada fasilitas apa pun atau dalam wilayah geografi tunggal.
Proses Seleksi Tempat
Bila kriteria dasar telah ditetapkan, tim seleksi tempat Pawlak bekerja. Mereka mulai, sebagaimana kebiasaan di Intel, dengan daftar panjang negara-negara yang memungkinkan. Karena perusahaan terus mencari lokasi, baik di pasar yang berkembang maupun pasar yang maju, para pengambil keputusan seperti Pawlak mempertahankan daftar panjang negara-negara yang bisa mendukung fasilitas perakitan dan pengujian Intel. Ini adalah daftar cair, daftar negara-negara bisa bertambah dan berkurang bersamaan dengan keadaan yang berubah-ubah dan sesuai dengan persepsi kebutuhan Intel. Namun, ini adalah titik awal yang penting, terutama ketika keputusan seleksi tempat dipengaruhi oleh lamanya berada di posisi puncak yang singkat yang berlaku dalam industri semikonduktor. Untuk itu, tim Pawlak berencana untuk tidak menghabiskan lebih dari 6–9 bulan.
Pada masa-masa awal, Kosta Rika tidak dipandang secara khusus sebagai pesaing yang kuat. Negara itu masuk dalam daftar, sesungguhnya, secara tidak sengaja. Selama dua tahun, CINDE (la Coalición Costarricense de Initiativas para el Desarrollo) telah secara aktif membidik dan mendekati perusahaan-perusahaan elektronik yang berbasis di AS. Pada akhir tahun 1980-an, CINDE telah secara eksplisit memutuskan untuk mengikuti strategi penarikan terfokus, dengan memasarkan dirinya ke kelompok investor potensial tertentu, alih-alih menyebarluaskan sumber dayanya yang terbatas ke berbagai arah yang tidak jelas. Selama beberapa tahun, fokusnya adalah tekstil, tetapi sejak gaji penduduk Kosta Rika meningkat dan kompetisi dalam pasar berkembang gaji rendah meningkat, CINDE beralih tiba-tiba dari tekstil dan berkonsentrasi kepada elektronika. Dengan tingkat pengetahuan teknis yang tinggi di negara ini, tenaga kerja yang relatif murah (untuk industri ini), dan banyaknya pekerja dwibahasa, Kosta Rika sepertinya sesuai dengan kebutuhan industri elektronik global yang terus berkembang. Maka, sejak tahun 1993, CINDE telah secara tekun mendekati Intel dan industri elektronik kelas kakap lainnya. Pada bulan November 1995, Intel akhirnya merespons dengan menunjukkan minat, dan mengundang direktur CINDE kantor New York, Armando Heilbron, ke markas Intel di Santa Clara, California. Hampir segera setelah mendengar ketertarikan Intel, Egloff menugasi tiga staf investasi secara khusus untuk “proyek” ini. Trio yang dikepalai Danilo Arias, direktur promosi investasi CINDE, terdiri atas Julissa Bravo dan Marcela Mora. Masing-masing bertanggung jawab atas bidang tertentu terkait dengan proses investasi. Arias menangani peraturan hukum, perpajakan, dan isu kawasan bebas, Bravo mengurusi sumber daya manusia dan pendidikan, serta Mora membidangi real estat, konstruksi, dan perizinan. Beberapa bulan kemudian, usai pertemuan pertama di Santa Clara dan sehabis staf CINDE mengirim paket informasi yang detail dan padat ke Intel, Kosta Rika berhasil masuk ke dalam daftar panjang tempat investasi yang memungkinkan yang dibuat Intel. Pada masa itu, negara-negara lain yang masuk dalam daftar panjang itu adalah Argentina, Brazil, Chili, Cina, India, Indonesia, Korea, Meksiko, Puerto Rico, Singapura, Taiwan dan Thailand.
Tim mulai dari riset dasar di belakang meja, yaitu mencari alasan untuk mengeluarkan negara dari daftar panjang kandidat potensial. Proses pada tahapan ini tidak dimaksudkan untuk menjadi ilmiah atau formal secara khusus. Alih-alih, proses itu merupakan upaya untuk mengidentifikasi karakteristik tiap negara yang paling relevan, dengan tujuan untuk mengkonfirmasi hal tersebut dengan investor lain dan ahli dari luar dan untuk membuat kesepakatan umum di dalam lingkup kelompok Intel tentang negara mana yang paling layak untuk diburu. Untuk mencapai kesepakatan tersebut, anggota tim mengevaluasi sederetan kriteria tingkat negara, dengan tiap anggotanya berfokus pada kepentingan tertentu dari bidang fungsional masing-masing. Kriteria tersebut tidak pernah diperingkatkan secara resmi, tetapi secara umum mencakupi beberapa pertimbangan di bawah ini:
Kondisi ekonomi dan politik yang stabil
Untuk menjadi pesaing kuat, negara yang bersangkutan harus memiliki kondisi ekonomi prospektif, sistem politik yang stabil, mapan dan dapat diandalkan, serta lingkungan operasi dan hukum yang relatif transparan.
Sumber daya manusia
Negara harus memiliki pasokan operator profesional dan teknis yang memadai dan lingkungan pekerjaan tanpa serikat pekerja.
Struktur biaya yang wajar
Negara harus menyajikan kepada Intel keadaan keuangan yang dapat bekerja. Hal itu sebagian besar dipengaruhi oleh biaya tenaga kerja dan biaya overhead, tingkat pajak, bea cukai, dan kemudahan repatriasi modal, Karena semua produk pabrik dimaksudkan untuk ekspor, bea dan cukai amatlah penting.
Lingkungan “pro-bisnis”
Tanpa dibatasi secara ketat, negara harus memiliki pemerintah yang tertarik untuk membantu pengembangan ekonomi dan penanaman modal asing. Beberapa tanda liberalisasi ekonomi juga harus nampak.
Logistik dan waktu manufaktur
Lagi-lagi, dengan adanya tekanan waktu yang membatasi operasinya, Intel harus memastikan bahwa produk yang berasal dari pabriknya dapat berpindah secara efisien dari pabrik ke titik keberangkatan internasional dan kemudian melalui bea cukai dan prosedur ekspor lainnya.
Proses perizinan jalur cepat
Sebelum berinvestasi di suatu negara, Intel harus memastikan bahwa ia telah memperoleh izin yang diperlukan dalam waktu 4–6 bulan. Tiap penundaan dalam proses perizinan dapat mengkompromikan jadwal proyek yang padat.
Atas dasar kriteria kasar ini, anggota perlahan-lahan menyeleksi daftar mereka. Pada tahap ini, mereka tidak tertarik untuk memilih pemenang, tetapi mengeliminasi pecundang––membuang negara-negara yang, untuk suatu alasan, memperlihatkan masalah yang dapat mematahkan kesepakatan. Mereka juga mempertimbangkan kandidat atas dasar posisi strategi Intel yang luas, dengan menelaah lokasi potensial, yaitu mempertimbangkan percampuran geografis perusahaan secara keseluruhan, kapasitas pegawai regional, hubungan masyarakat, keinginan untuk menyebarkan risiko geografis, dan lain-lain.
Pada akhir proses ini, daftar yang tadinya dua belas kini menjadi tujuh. Di samping Kosta Rika, kandidat yang tersisa adalah Indonesia, Thailand, Brazil, Argentina, Chile, dan Meksiko. Dengan maksud untuk memperbesar keberagaman regional dari operasinya dan dengan kepercayaan diri bahwa setidaknya salah satu kandidat mumpuni sebagai tempat untuk pabrik perakitan dan pengujian yang baru, para pesaing dari Asia Timur berguguran dari daftar dan fokus beralih ke Amerika Latin. Para kandidat terbaik dalam kelompok itu adalah, Brazil, Chili, Kosta Rika, dan Meksiko.
Pada musim semi tahun 1996, tim seleksi tempat Intel meluncurkan fase kedua dari riset spesifik tempat mereka. Dalam fase ini, mereka beranjak dari kursi mereka dan pergi untuk mengunjungi secara langsung negara-negara yang dipertimbangkan, untuk mencari perspektif “orang dalam” terhadap kondisi usaha dan praktik yang dilakukan negara masing-masing. Anggota tim melakukan wawancara panjang dengan perusahaan konsultan, pejabat pemerintah, dan para eksekutif perusahaan AS. Mereka bertemu dengan kantor pengacara dan akuntan publik, melakukan analisis mendalam tentang faktor kunci seperti kemampuan tenaga kerja dan sarana pembuangan limbah cair, dan mencoba untuk menggali pendapat dan pengalaman dari investor asing lainnya.
Kosta Rika mendapat kunjungan pertamanya pada bulan April. Tur dua hari itu dimulai dengan presentasi ulasan dari CINDE, yang juga mengkoordinasikan beberapa pertemuan turunan. Tim Intel kemudian berbicara dengan perwakilan dari Citibank, untuk mengetahui kemapanan infrastrutktur finansial negara itu dan dengan para eksekutif dari kantor akuntan publik internasional, KPMG Peat Marwick, Price Waterhouse, dan Ernst and Young, untuk menelaah keandalan dan transparansi lembaga-lembaga hukum dan keuangan Kosta Rika. Pertemuan tertutup dengan para eksekutif DSC Communications yang antusias, perusahaan elektronik terbesar di AS yang beroperasi di Kosta Rika, serta beberapa perusahaan manufaktur lain, sepertinya telah memberikan keyakinan tambahan akan iklim usaha negara itu secara umum dan kemampuannya untuk memproses dan mengkonversi aliran dana jutaan dolar AS mingguan.
Selama kunjungan awal ini, CINDE juga telah mengatur pertemuan antara tim seleksi tempat dengan Jose Rossi, Menteri Perdagangan Luar Negeri Kosta Rika, juga dengan Jose Maria Figueres, presiden negara itu. Sejak bulan November, Figueres selalu diberitahukan tentang interaksi CINDE dengan Intel dan secara terus menerus menyatakan minatnya untuk membantu proyek ini. Presiden muda lulusan Harvard itu, dalam masa jabatan pertama dan terakhirnya, amat menyadari dampak potensial yang dimiliki Intel dalam membantu pertumbuhan negaranya. Ia menunjukkan minat pribadi yang kuat terhadap Intel dan menjadi unsur penentu dalam keberhasilan Kosta Rika. Selama kunjungan awalnya, ia menghabiskan dua setengah jam dengan perwakilan dari Intel, yang pada saat itu menyatakan akan “melakukan apa pun yang diperlukan” untuk menjadikan Kosta Rika kompetitif. Ia sangat perhatian, antusias, dan enerjik dalam berbicara dan menanggapi langsung kepentingan Intel. Ketika tim mengungkapkan keraguan mereka akan kualitas tenaga kerja dan ketersediaan lulusan yang terlatih secara teknis di negara itu, Figueres melontarkan gagasan untuk mengadakan program pelatihan tingkat lanjut oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan Intel. Yang akhirnya menjadi tindakan penting adalah ketika Figueres juga menunjuk Rossi untuk mengelola proyek Intel untuk pemerintah Kosta Rika. CINDE tetap akan menjadi kontak kunci bagi Intel dan fasilitator bagi pertemuan-pertemuan dan negosiasi turunan, sementara Rossi, pejabat tinggi yang terhormat, akan menjadi titik tengah koordinasi dalam lingkup pemerintah Kosta Rika.
Seusai pertemuan, Perlman dari Intel berkomentar bahwa keterlibatan Presiden dan sikapnya merupakan suatu hal yang “luar biasa dan sangat tidak terduga bisa datang dari sesorang dengan posisi sepertinya.” Setali tiga uang, Menteri Rossi juga membuat para tamu itu terkesan dengan keterlibatan aktifnya dan pemahaman akan kebutuhan usaha perusahaan. Rossi sendiri adalah seorang pengusaha, yang mengelola perusahaan induk milik keluarga sebelum menjadi menteri di kabinet Figueres. Ia mengetahui pentingnya kecepatan dan nilai yang Intel lihat akan berasal dari proses yang lancar dan jelas, dan komunikasi konsisten dari pemerintah.
Nampaknya, tim Intel awalnya datang ke Kosta Rika dengan ekspektasi relatif rendah tentang tingkat pengembangan dan pencanggihan secara umum dari negara kecil tersebut. Akan tetapi, ketika mereka pergi, Kosta Rika langsung menanjak ke puncak dalam daftar mereka.
"Attracting High Technology Foreign Investment"
Debora Spar tahun(1998)
Abstrak
Fenomena terpilihnya Kostarika sebagai negara tempat pembangunan pabrik perakitan dan pengujian semikonduktor oleh perusahaan Intel merupakan suatu kejutan. Hal ini setidaknya $ 300 juta dana segar akan digunakan dinegara kecil dengan penduduk sekitar 3,5 juta jiwa. Mengejutkan karena Kostarika telah berhasil mengalahkan negara-negara pesaingnya seperti Brazil, Chili, Mexico, Indonesia, Philipina dan Thailand. Penelaahan atas Intel dan proses pemilihan tempatnya, dengan mengamati secara dekat Kosta Rika dan strateginya dalam membidik industri elektronika sebagai investasi, mengungkapkan dasar keputusan Intel. Dengan dasar stabilitas politik, komitmen terhadap keterbukaan ekonomi, dan sistem pendidikan yang sangat baik, Kosta Rika memasarkan dirinya kepada Intel atas dasar “kecil itu indah”(small is beautiful). Ukuran yang kecil membuat mereka mampu memobilisasi dukungan dalam komunitas politik dan bisnis serta merespons permintaan Intel akan informasi dan pendampingan dalam waktu yang sangat singkat. Keberhasilan Kosta Rika buah dari dari kerjasama Pengembangan strategi elektronika serta kegiatan promosi dan fasilitasi yang ditangani oleh CINDE, badan promosi nasional Kosta Rika, dukungan dari Presiden Kosta Rika terhadap proyek tersebut, dan koordinasi Kementerian Perdagangan Luar Negeri untuk menangani interaksi antara Intel dan pemerintah merupakan beberapa faktor yang membuat raksasa semikonduktor ini terkesan. Tidak adanya konsesi spesifik perusahaan untuk Intel, side-deals, atau hibah pemerintah yang besar menjadi kontras dengan taktik yang digunakan banyak negara untuk menarik investor besar semacam ini. Pertemuan antara prosedur pemilihan tempat Intel dan upaya promosi investasi Kosta Rika merupakan kilasan proses keputusan investasi yang sedang berlangsung yang sulit ditemui. Pelajaran yang didapat dari mengkaji kasus ini dapat membantu negara lain dalam menyusun strategi promosi investasinya sendiri.
Pendahuluan
Pada bulan November 1996, Intel Corporation mengumumkan rencana untuk membangun pabrik perakitan dan pengujian semikonduktor senilai $300 juta di Kosta Rika. Ini merupakan kejutan bagi pemerintah Kosta Rika, yang telah bekerja keras selama berbulan-bulan untuk menarik perusahaan teknologi yang bermarkas di Amerika Serikat (AS) itu. Hal itu juga meningkatkan minat sungguh-sungguh di dalam komunitas penanaman modal asing yang lebih luas. Dengan pendapatan tahunan sebesar lebih dari $20 milyar, Intel menjadi salah satu perusahaan terbesar dan pencetak untung terbesar di dunia. Perusahaan ini merupakan pelaku utama dalam industri elektronika dunia dan telah mempelopori inovasi teknologi dalam pasar semikonduktor dan komputer. Pabrik khas Intel bisa menghabiskan biaya $1 milyar dan membutuhkan kemahiran teknik tingkat tinggi dan operasi clean-room. Padahal, Kosta Rika hanyalah sebuah negara kecil. Dengan jumlah penduduk 3,5 juta jiwa dan dengan hanya sedikit pengembangan elektronika dan sektor teknologi lainnya, negara ini sepertinya bukanlah pilihan yang tepat bagi Intel. Biaya pembangunan fasilitas semikonduktor akan membuahkan enam kali lipat dari nilai penanaman modal asing (PMA) tahunan di Kosta Rika dan ekspor yang dihasilkan dari pabrik akan menggandakan nilai ekspor negara ini pada tahun 2000. Produk Nasional Bruto (PNB) Kosta Rika hanyalah sepertiga dari pendapatan tahunan Intel di seluruh dunia.
Jadi, mengapa dan bagaimana Intel memilih Kosta Rika? Percabangannya berada jauh di luar pabrik di Kosta Rika ini dan keputusan tunggal ini. Kosta Rika (sebagaimana negara berkembang lainnya) secara tersurat menargetkan sektor elektronika sebagai wilayah pertumbuhan potensial yang tinggi. Seperti negara lain, Kosta Rika memfokuskan pada peningkatan arus PMA ke dalam negeri dan membentuk badan promosi investasi untuk menarik dan meyakinkan investor potensial. Namun, ketika upaya promosi spesifik industri yang dilakukan negara lain stagnan atau terantuk-antuk, Kosta Rika justru nampak berhasil dengan cukup brilian.
Maka, investasi Intel memberikan dasar yang kuat untuk membahas bagaimana cara suatu negara bisa meningkatkan iklim investasi asingnya secara bertahap dan menyusun strategi promosi investasi dengan canggih. Keputusan Intel untuk berinvestasi di Kosta Rika, merupakan contoh yang sangat baik yang memperlihatkan bagaimana negara kecil tanpa pasar domestik masih mampu menarik perusahaan teknologi tinggi kelas dunia. Hal itu juga memberikan kesempatan untuk menelaah secara dekat dua dinamika paralel yang mengarahkan keputusan tersebut: kriteria dan proses seleksi Intel dan kegiatan promosi investasi Kosta Rika serta pendekatan kepada Intel. Bila dilihat secara bersamaan, dua lini analisis tersebut menekankan sebuah hal penting: promosi investasi merupakan proses yang interaktif, yang tidak hanya melibatkan kegiatan badan promosi investasi, tetapi juga tindakan dan kebutuhan serta kepentingan dari investor potensial. Analisis tersebut juga merupakan ulasan promosi investasi yang sulit ditemui dan menunjukkan proses keputusan investasi yang sedang berlangsung––sebuah gambaran yang dapat membantu negara lain dalam menyusun strategi promosi investasinya sendiri.
Analisis selanjutnya dibagi ke dalam empat bagian besar. Bagian pertama membahas latar belakang pasar semikonduktor internasional dan peran serta posisi persaingan Intel dalam pasar. Bagian kedua merupakan kelanjutan dari proses pengambilan keputusan yang menetapkan pilihan Intel yang jatuh ke Kosta Rika, dan upaya langsung Kosta Rika untuk memasarkan dirinya kepada tim seleksi Intel. Bagian ketiga menguraikan bagaimana Kosta Rika mampu memenangkan investasi Intel. Bagian keempat merupakan kesimpulan, dengan beberapa pelajaran yang bisa diambil dari keberhasilan Kosta Rika.
Apa yang lebih baik dari menguasai pasar? Menguasai pasar yang bertumbuh cepat dan bermarjin tinggi. Itulah rumusan di balik Intel si no. 1, yang mikroprosesornya tertanam di dalam PC-PC di seluruh dunia. Di samping posisi nyaris monopolinya, Intel tidak perlu lagi melakukan perubahan. Intel sangat waspada dalam berjaga-jaga dari serangan musuh dan kecakapan pemasarannya menjadi legenda. Saksikanlah kampanye Intel inside, yang telah membentuk identitas merek untuk sebuah produk yang konsumennya tidak pernah lihat dan hanya bisa memahami garis besarnya.
Industri Semikonduktor Internasional
Pada tahun 1971, Intel Corporation memperkenalkan cip 4004, mikroprosesor pertama di dunia. Pengenalan ini melahirkan revolusi industri komputer dan menciptakan pertumbuhan fenomenal yang telah dinikmati, baik oleh industri komputer maupun Intel selama itu. Pada tahun 1995, produksi komputer yang mendunia bernilai $237 milyar, meningkat 13,5% dari jumlah total pada tahun 1994. Penjualan semi konduktor saja bernilai $123 milyar dan diramalkan akan terus bertumbuh sebesar 20% per tahun antara tahun 1995 dan 2002. Angka-angka pertumbuhan ini dipicu oleh penggunaan mikroprosesor yang makin beragam dan meningkat, yaitu semikonduktor canggih dan kompleks yang menjadi inti bisnis Intel.
Mikroprosesor amatlah penting sebagai “otak” yang mengendalikan sebagian besar fungsi perhitungan elektronik. Fungsi itu menjadi satu dengan fungsi komputer mainframe, personal computers (PC), komunikasi nirkabel, dan menjadi pemandu produk konsumsi elektronik. Karena penggunaannya yang makin meningkat, mikroprosesor secara umum dipandang sebagai komponen kunci pertumbuhan industri–dan simbol kecakapan ekonomi dan industri. Maka, walaupun perusahaan dari AS dan Jepang terus mendominasi industri, Pemerintah Republik Korea, Taiwan (Cina), dan Singapura telah mendukung pengembangan perusahaan-perusahaan semikonduktor mereka. Selain itu, Cina, Irlandia, Israel, dan Malaysia telah berupaya menarik investasi dari perusahaan-perusahaan asing terkemuka. Bagi negara berkembang, industri semikonduktor mungkin menawarkan janji tinggi akan dampak positif––seperti lapangan pekerjaan dan inovasi teknologi dan pengembalian jangka panjang yang telah menjadikan Intel sebagai salah satu perusahaan paling menguntungkan di dunia.
Intel Corporation
Dalam industri semikonduktor, posisi Intel merupakan perusahaan legendaris. Dengan tingkat penjualan mikroprosesor sebesar 85% di seluruh dunia, Intel menjadi produsen terkemuka dunia. Pada tahun 1996, Intel membukukan pendapatan sebesar $20,8 milyar dan penghasilan bersih sebesar $5,1 milyar. Sejak tahun 1987, pengembalian rata-rata perusahaan terhadap investor mencapai 44% pertahun. Cip canggihnya terjual pada awal 1997 dengan marjin laba kotor sebesar hampir 60%.
Fakta lebih mengesankan lagi, di samping angka-angka di atas, adalah posisinya sebagai pemimpin teknologi dan strategi industri yang tak dapat dipungkiri. Sejak didirikan pada tahun 1968, Intel adalah yang pertama kali memperkenalkan mikroprosesor tercanggih dan tercepat. Atas bimbingan sang pendiri, Gordon Moore dengan “hukum”nya yang terkenal hingga menyebabkan kekuatan dari cip komputer ini meningkat dua kali lipat setiap 18 bulan, Intel telah menciptakan secara konsisten generasi penerus cip yang makin kuat. Sementara itu, para pesaingnya hanyalah mengekor keberhasilan engineering Intel, dengan meniru desain baru (yang disebut “arsitektur” di dalam penjualannya) tanpa harus berinvestasi untuk penelitian dan pengembangan yang menyokong setiap peluncuran produk baru Intel. Para pesaing ini kemudian bersaing dengan Intel hanya dalam harga. Kemudian, sementara para pesaingnya berlomba-lomba menurunkan harga dan marjin mereka, Intel beralih ke generasi prosesor berikutnya yang lebih canggih dan inovatif.
Dalam beberapa tahun belakangan, Intel telah berupaya keras meningkatkan sisi permintaan dalam industrinya. Daripada berisiko kekurangan permintaan akan cip yang baru dan lebih canggih, Intel mendorong perusahaan lain, seperti Microsoft, untuk merancang peranti lunak yang membutuhkan kemampuan pemrosesan yang lebih cepat. Dorongan itu menciptakan dinamika yang unik, tetapi menguntungkan, yang digambarkan oleh salah seorang eksekutif Intel bagaikan “pertandingan gulat dan tarian yang terjadi bersamaan.” Intel membantu menciptakan permintaan akan produknya dan memungkinkan mitranya untuk berbagi keberhasilan dengannya. Pada tahun 1996, perusahaan membelanjakan $500 juta untuk membiayai tahap awal pembuatan peranti lunak dan untuk mendorong pengembangan pengguna potensial dari mikroprosesor generasi baru. Investasi ini merupakan yang terbesar dengan pembelanjaan sebesar $5 milyar untuk proyek utama dan kegiatan penelitian dan pengembangan.
Strategi Operasi dan Ekspansi
Posisi bergengsi Intel dalam kancah industri semikonduktor telah membuatnya menjadi pelopor strategi operasi dan investasi yang tak kalah bergengsinya. Pada dasarnya, strategi diarahkan oleh teknologi canggih dan kecepatan tinggi. Setiap sembilan bulan sekali, Intel membangun pabrik baru. Hampir semua pabrik ini dibangun untuk memenuhi permintaan di masa depan, bukan masa kini. Craig Barrett, presiden direktur perusahaan ini yang baru saja diangkat, mengakui, “Kami membangun pabrik dua tahun sebelum kami merasa memerlukannya, sebelum kami memiliki produk yang akan dibuat di dalamnya, sebelum industri terus bertumbuh.”
Optimisme itu masuk akal, dan bahkan diperlukan, dalam pasar semikonduktor yang berjalan cepat ini. Hal itu terjadi karena ini adalah industri di mana produsen mengambil laba total mereka di awal, biasanya pada enam bulan pertama sebelum pengenalan produk. Pada saat itu, perusahaan bisa mengenakan biaya sebesar $1.000 per cip. Namun, setelah enam bulan, produk tiruan/imitasi yang berharga murah cenderang memberikan penekanan pada harga, biasanya dengan menekan hingga sekitar $200. Bagi Intel, siklus dasar ini berdampak pada kebutuhan konstan untuk berinovasi, dan untuk meningkatkan kapasitas produksi secepat mungkin untuk tiap generasi baru prosesor.
Dasar pemikiran ekspansi ini telah mengarahkan Intel untuk mengembangkan serentetan sarana di luar negeri. Ketika sedang memikirkan investasi seperti apa di Kosta Rika, perusahaan telah memiliki pabrik pembuatan wafer di Irlandia dan Israel dan pabrik perakitan dan pengujian di Malaysia, China, dan Filipina. Tidak seperti kebanyakan perusahaan lain, Intel lazimnya tidak berinvestasi di luar negeri untuk melayani pasar lokal atau mengurangi biaya transportasi. Tidak perlu melakukan itu. Prinsip Intel mikroprosesor lebih berharga daripada segenggam emas, biaya transportasi cip hanyalah beberapa persen dari biaya akhir. Perusahaan semikonduktor sedikit enggan mengurangi biaya ini dengan memindahkan fasilitas produksi mereka sehingga dekat dengan wilayah yang permintaannya akan cip tinggi. Sebaliknya, investasi di luar negeri, seperti investasi pada umumnya, didorong oleh keinginan untuk meningkatkan kapasitas baru dalam jumlah yang besar dengan biaya seefisien mungkin untuk mengurangi risiko yang timbul dari kegiatan produksi di sejumlah pabrik yang berbeda.
Kecepatan adalah hal yang terpenting. Strategi Intel dalam inovasi pembuatan cip (fab) adalah dengan terus menerus mengembangkan cip generasi yang lebih cangih sehingga para pesaing tidak mampu untuk menyaingi Intel Hal ini pada gilirannya mengharuskan Intel untuk meng-upgrade pabrik-pabrik yang ada atau, bila ekspansi tidak layak lagi, untuk mengembangkan lokasi baru. “Peningkatan” kapasitas produksi baru haruslah cepat dan berpadu secara baik dengan kapasitas yang ada bila Intel ingin mempertahankan posisinya di teknologi dan memperoleh pengembalian yang selama ini menjadi pendukung pertumbuhan perusahaan. Atau sebagaimana dijelaskan oleh salah seorang manajer Intel, “Penundaan satu minggu saja bisa menimbulkan kerugian puluhan juta dolar dalam penjualan––dan risiko kehilangan posisi puncak atas para pesaing.”
Selain kecepatan, Intel (seperti halnya perusahaan teknologi canggih lainnya) bergantung pada tenaga kerja yang dapat diandalkan dan terdidik. Meskipun pembuatan cip, pengujian dan perakitannya pada dasarnya adalah kegiatan padat modal, pabrik membutuhkan kemahiran manufaktur yang spesifik dan agak kompleks. Akibatnya, Intel hanya akan membangun pabrik di tempat yang ada jaminan akses ke tenaga kerja yang sangat teknis dan sangat bisa dilatih. Sekali memilih telah berinvestasi pada tenaga kerja macam itu, Intel sulit pergi, bahkan bila teknologi di pabrik itu menjadi cepat usang. Sebaliknya, perusahaan secara tradisional telah memilih untuk reinvestasi pada lokasi-lokasi yang ada, dengan menggunakan tenaga kerja terlatihnya untuk sesegera mungkin meluncurkan produksi di dalam sarana yang berbeda. Atau seperti penjelasan Presiden Direktur Barett, “lebih mudah untuk beralih ke cip generasi masa depan di fasilitas yang ada dengan staf yang berpengalaman daripada memulai dari nol dengan orang-orang baru dan belum teruji.”
Bukti dari pemilihan lokasi ini kentara pada startegi investasi luar negeri. Pada tahun 1972, Intel membuka fasilitas manufaktur di luar negeri pertamanya di Penang, Malaysia. Selama 25 tahun berikutnya, walaupun tumbuh secara dahsyat, perusahaan ini terus saja memperluas dan melengkapi pabrik di Penang. Pada tahun 1996, mengakui bahwa akhirnya mereka telah “pada dasarnya menghabiskan seluruh tenaga kerja yang ada (di Penang)”, Intel membangun $100 juta fasilitas lapangan hijau––25 mil jaraknya dari Kulim Hi Tech Park. Pola serupa nampak di Irlandia, ketika fasilitas manufaktur papan sistem dibangun dan diikuti dengan, pada tahun 1997, pabrik pembuatan senilai $1,5 milyar.
Dalam memilih lokasi untuk pabrik luar negerinya, Intel nampaknya tidak kebal terhadap godaan padat modal. Pembuatan, perakitan dan pengujian semikonduktor bagaimanapun juga amatlah mahal; dan antara tahun 1994 dan 1997 harga fasilitas semacam ini meningkat tiga kali lipat. Tidak seperti para pesaingnya, Intel cenderung membangun fasilitas mahal macam ini bahkan sebelum permintaan akan produknya muncul. Hal itu menyiratkan, setidaknya berpotensi, adanya strategi investasi yang berisiko, yang ingin ditanggulangi oleh Intel melalui paket insentif dari pemerintah setempat.Pada awal 1990-an strategi Intel dalam invesatsi dan pemilihan lokasi sangat memeperhatikan insentif baik pajak bumi bangunan maupun insentif lainnya.
Bagi Intel, insentif semacam itu diyakini dapat menentukan kelayakan ekonomi dari sebuah investasi, terutama pabrik pembuatan, yang lebih padat modal daripada fasilitas perakitan dan pengujian. Selain itu strategi lain Intel adalah dengan mengharapkan hibah dari pemerintah negara mitra, misalnya ketika Intel membangun pabrik di Dorman Israel.
Memilih Kosta Rica: Inside Intel
Kami berpertaruh pada produk yang belum didesain dan pasar yang tidak eksis. Fab kami adalah lahan impian. Kami membangunnya dan berharap orang akan datang.
Andy Grove, CEO Intel
Keputusan untuk Berekspansi
Keputusan yang membawa Intel ke Kosta Rika lebih merupakan proses yang berkelanjutan, bukanlah tindakan diam tanpa rencana. Karena begitu sering memperluas kapasitasnya, pada dasarnya Intel selalu berada dalam kegiatan meninjau lokasi-loksai yang memungkinkan dan mengevaluasi alternatif-alternatif investasi. Fasilitas di Kosta Rika timbul dari salah satu proses berkelanjutan itu.
Pada awal tahun 1996, para eksekutif Intel memutuskan untuk mencari lokasi untuk pabrik perakitan dan pengujian yang baru. Mereka membentuk tim ahli fungsional, yang terdiri atas, terutama (walaupun tidak seluruhnya) orang-orang yang memiliki banyak pengalaman dalam seleksi tempat. Tim itu diketuai oleh Chuck Pawlak, Wakil Direktur Seleksi Tempat Internasional. Anggota tim manajemen kunci lainnya adalah Frank Alvarez, Wakil Direktur Kelompok Teknologi dan Manajemen, Bob Perlman, Wakil Direktur Keuangan dan Direktur Pajak, Cukai, dan Perizinan, serta Ted Telford, Analis Seleksi Tempat Internasional. Tim juga terdiri atas ahli fungsional dari departemen operasi, kesehatan dan keamanan lingkungan, sumber daya manusia, hukum, keuangan, administrasi, dan hubungan masyarakat. Tugas dari para anggota tim ini adalah untuk melakukan riset dan mengevaluasi tempat-tempat potensial dari sudut pandang departemen masing-masing.
Sebelum meminta tim untuk memulai proses seleksi tempat, eksekutif Intel telah menentukan bentuk dari investasi yang direncanakan. Akan dibangun pabrik seluas 400.000 kaki persegi yang mempekerjakan hingga 2000 orang untuk merakit dan menguji mikroprosesor Intel Pentium yang terbaru. Pabrik jenis ini, yang dikenal dengan nama ATP (assembly and test plant/pabrik perakitan dan pengujian), merupakan salah satu dari dua jenis pabrik yang membentuk basis manufaktur Intel. Jenis pertama, pabrik pembuatan (fab) untuk memproduksi jantung dari mikroprosesor. Pada intinya, fab mengambil lapisan tipis silikon, yang disebut wafer, dan menggunakan proses fotolitografik yang canggih untuk menggoreskan lapisan sistem sirkuit elektronik di atas tiap wafer yang berukuran 8 inci. Proses ini membutuhkan lingkungan ultra-bersih dan kemampuan teknis dan modal tingkat tinggi. Setelah proses fab selesai, wafer dikirim ke ATP. Di sana, wafer ditipiskan untuk mengurangi tekanan internal, dan dipotong-potong menjadi 300–500 cip atau sirkuit terintegrasi. Cip kemudian dipasang di atas rangka timbal dan direkatkan ke kabel emas tebal yang akan menghubungkannya dengan elemen lain di dalam komputer. Pada tahap akhir proses manufaktur, cip dibungkus dalam kemasan keramik atau plastik dan harus melalui serangkaian pengujian yang ketat.
Bila dibandingkan dengan pabrik pembuatan, ATP relatif murah dan padat karya. Pabrik itu menghabiskan biaya pembangunan sekitar $100 juta atau $300 juta dan biasanya mempekerjakan antara 1500 dan 4000 orang. Pengeluaran untuk gaji merupakan biaya tidak tetap yang paling penting untuk fasilitas ini, umumnya berkisar 25–30% dari biaya operasi total. Untuk menjalankan ATP baru seefisien biaya mungkin, Intel tahu bahwa ia harus mencari tenaga kerja yang berbiaya rendah, tetapi sangat bisa dilatih. Intel juga harus mencari tempat yang menyediakan para insinyur berkualitas dan pergantian pegawainya bisa ditekan secara wajar hingga titik minimum.
Sebelum meluncurkan secara resmi proses seleksi tempat, eksekutif Intel telah memutuskan untuk menjadikan ATP itu pabrik baru di negara baru, bukan ekspansi dari kapasitas yang ada. Keputusan ini berasal dari tekad manajemen untuk memberagamkan basis aset-asetnya secara geografis dan agar terhindar dari konsentrasi lebih dari 30% pendapatannya dari kategori produk mana pun pada fasilitas apa pun atau dalam wilayah geografi tunggal.
Proses Seleksi Tempat
Bila kriteria dasar telah ditetapkan, tim seleksi tempat Pawlak bekerja. Mereka mulai, sebagaimana kebiasaan di Intel, dengan daftar panjang negara-negara yang memungkinkan. Karena perusahaan terus mencari lokasi, baik di pasar yang berkembang maupun pasar yang maju, para pengambil keputusan seperti Pawlak mempertahankan daftar panjang negara-negara yang bisa mendukung fasilitas perakitan dan pengujian Intel. Ini adalah daftar cair, daftar negara-negara bisa bertambah dan berkurang bersamaan dengan keadaan yang berubah-ubah dan sesuai dengan persepsi kebutuhan Intel. Namun, ini adalah titik awal yang penting, terutama ketika keputusan seleksi tempat dipengaruhi oleh lamanya berada di posisi puncak yang singkat yang berlaku dalam industri semikonduktor. Untuk itu, tim Pawlak berencana untuk tidak menghabiskan lebih dari 6–9 bulan.
Pada masa-masa awal, Kosta Rika tidak dipandang secara khusus sebagai pesaing yang kuat. Negara itu masuk dalam daftar, sesungguhnya, secara tidak sengaja. Selama dua tahun, CINDE (la Coalición Costarricense de Initiativas para el Desarrollo) telah secara aktif membidik dan mendekati perusahaan-perusahaan elektronik yang berbasis di AS. Pada akhir tahun 1980-an, CINDE telah secara eksplisit memutuskan untuk mengikuti strategi penarikan terfokus, dengan memasarkan dirinya ke kelompok investor potensial tertentu, alih-alih menyebarluaskan sumber dayanya yang terbatas ke berbagai arah yang tidak jelas. Selama beberapa tahun, fokusnya adalah tekstil, tetapi sejak gaji penduduk Kosta Rika meningkat dan kompetisi dalam pasar berkembang gaji rendah meningkat, CINDE beralih tiba-tiba dari tekstil dan berkonsentrasi kepada elektronika. Dengan tingkat pengetahuan teknis yang tinggi di negara ini, tenaga kerja yang relatif murah (untuk industri ini), dan banyaknya pekerja dwibahasa, Kosta Rika sepertinya sesuai dengan kebutuhan industri elektronik global yang terus berkembang. Maka, sejak tahun 1993, CINDE telah secara tekun mendekati Intel dan industri elektronik kelas kakap lainnya. Pada bulan November 1995, Intel akhirnya merespons dengan menunjukkan minat, dan mengundang direktur CINDE kantor New York, Armando Heilbron, ke markas Intel di Santa Clara, California. Hampir segera setelah mendengar ketertarikan Intel, Egloff menugasi tiga staf investasi secara khusus untuk “proyek” ini. Trio yang dikepalai Danilo Arias, direktur promosi investasi CINDE, terdiri atas Julissa Bravo dan Marcela Mora. Masing-masing bertanggung jawab atas bidang tertentu terkait dengan proses investasi. Arias menangani peraturan hukum, perpajakan, dan isu kawasan bebas, Bravo mengurusi sumber daya manusia dan pendidikan, serta Mora membidangi real estat, konstruksi, dan perizinan. Beberapa bulan kemudian, usai pertemuan pertama di Santa Clara dan sehabis staf CINDE mengirim paket informasi yang detail dan padat ke Intel, Kosta Rika berhasil masuk ke dalam daftar panjang tempat investasi yang memungkinkan yang dibuat Intel. Pada masa itu, negara-negara lain yang masuk dalam daftar panjang itu adalah Argentina, Brazil, Chili, Cina, India, Indonesia, Korea, Meksiko, Puerto Rico, Singapura, Taiwan dan Thailand.
Tim mulai dari riset dasar di belakang meja, yaitu mencari alasan untuk mengeluarkan negara dari daftar panjang kandidat potensial. Proses pada tahapan ini tidak dimaksudkan untuk menjadi ilmiah atau formal secara khusus. Alih-alih, proses itu merupakan upaya untuk mengidentifikasi karakteristik tiap negara yang paling relevan, dengan tujuan untuk mengkonfirmasi hal tersebut dengan investor lain dan ahli dari luar dan untuk membuat kesepakatan umum di dalam lingkup kelompok Intel tentang negara mana yang paling layak untuk diburu. Untuk mencapai kesepakatan tersebut, anggota tim mengevaluasi sederetan kriteria tingkat negara, dengan tiap anggotanya berfokus pada kepentingan tertentu dari bidang fungsional masing-masing. Kriteria tersebut tidak pernah diperingkatkan secara resmi, tetapi secara umum mencakupi beberapa pertimbangan di bawah ini:
Kondisi ekonomi dan politik yang stabil
Untuk menjadi pesaing kuat, negara yang bersangkutan harus memiliki kondisi ekonomi prospektif, sistem politik yang stabil, mapan dan dapat diandalkan, serta lingkungan operasi dan hukum yang relatif transparan.
Sumber daya manusia
Negara harus memiliki pasokan operator profesional dan teknis yang memadai dan lingkungan pekerjaan tanpa serikat pekerja.
Struktur biaya yang wajar
Negara harus menyajikan kepada Intel keadaan keuangan yang dapat bekerja. Hal itu sebagian besar dipengaruhi oleh biaya tenaga kerja dan biaya overhead, tingkat pajak, bea cukai, dan kemudahan repatriasi modal, Karena semua produk pabrik dimaksudkan untuk ekspor, bea dan cukai amatlah penting.
Lingkungan “pro-bisnis”
Tanpa dibatasi secara ketat, negara harus memiliki pemerintah yang tertarik untuk membantu pengembangan ekonomi dan penanaman modal asing. Beberapa tanda liberalisasi ekonomi juga harus nampak.
Logistik dan waktu manufaktur
Lagi-lagi, dengan adanya tekanan waktu yang membatasi operasinya, Intel harus memastikan bahwa produk yang berasal dari pabriknya dapat berpindah secara efisien dari pabrik ke titik keberangkatan internasional dan kemudian melalui bea cukai dan prosedur ekspor lainnya.
Proses perizinan jalur cepat
Sebelum berinvestasi di suatu negara, Intel harus memastikan bahwa ia telah memperoleh izin yang diperlukan dalam waktu 4–6 bulan. Tiap penundaan dalam proses perizinan dapat mengkompromikan jadwal proyek yang padat.
Atas dasar kriteria kasar ini, anggota perlahan-lahan menyeleksi daftar mereka. Pada tahap ini, mereka tidak tertarik untuk memilih pemenang, tetapi mengeliminasi pecundang––membuang negara-negara yang, untuk suatu alasan, memperlihatkan masalah yang dapat mematahkan kesepakatan. Mereka juga mempertimbangkan kandidat atas dasar posisi strategi Intel yang luas, dengan menelaah lokasi potensial, yaitu mempertimbangkan percampuran geografis perusahaan secara keseluruhan, kapasitas pegawai regional, hubungan masyarakat, keinginan untuk menyebarkan risiko geografis, dan lain-lain.
Pada akhir proses ini, daftar yang tadinya dua belas kini menjadi tujuh. Di samping Kosta Rika, kandidat yang tersisa adalah Indonesia, Thailand, Brazil, Argentina, Chile, dan Meksiko. Dengan maksud untuk memperbesar keberagaman regional dari operasinya dan dengan kepercayaan diri bahwa setidaknya salah satu kandidat mumpuni sebagai tempat untuk pabrik perakitan dan pengujian yang baru, para pesaing dari Asia Timur berguguran dari daftar dan fokus beralih ke Amerika Latin. Para kandidat terbaik dalam kelompok itu adalah, Brazil, Chili, Kosta Rika, dan Meksiko.
Pada musim semi tahun 1996, tim seleksi tempat Intel meluncurkan fase kedua dari riset spesifik tempat mereka. Dalam fase ini, mereka beranjak dari kursi mereka dan pergi untuk mengunjungi secara langsung negara-negara yang dipertimbangkan, untuk mencari perspektif “orang dalam” terhadap kondisi usaha dan praktik yang dilakukan negara masing-masing. Anggota tim melakukan wawancara panjang dengan perusahaan konsultan, pejabat pemerintah, dan para eksekutif perusahaan AS. Mereka bertemu dengan kantor pengacara dan akuntan publik, melakukan analisis mendalam tentang faktor kunci seperti kemampuan tenaga kerja dan sarana pembuangan limbah cair, dan mencoba untuk menggali pendapat dan pengalaman dari investor asing lainnya.
Kosta Rika mendapat kunjungan pertamanya pada bulan April. Tur dua hari itu dimulai dengan presentasi ulasan dari CINDE, yang juga mengkoordinasikan beberapa pertemuan turunan. Tim Intel kemudian berbicara dengan perwakilan dari Citibank, untuk mengetahui kemapanan infrastrutktur finansial negara itu dan dengan para eksekutif dari kantor akuntan publik internasional, KPMG Peat Marwick, Price Waterhouse, dan Ernst and Young, untuk menelaah keandalan dan transparansi lembaga-lembaga hukum dan keuangan Kosta Rika. Pertemuan tertutup dengan para eksekutif DSC Communications yang antusias, perusahaan elektronik terbesar di AS yang beroperasi di Kosta Rika, serta beberapa perusahaan manufaktur lain, sepertinya telah memberikan keyakinan tambahan akan iklim usaha negara itu secara umum dan kemampuannya untuk memproses dan mengkonversi aliran dana jutaan dolar AS mingguan.
Selama kunjungan awal ini, CINDE juga telah mengatur pertemuan antara tim seleksi tempat dengan Jose Rossi, Menteri Perdagangan Luar Negeri Kosta Rika, juga dengan Jose Maria Figueres, presiden negara itu. Sejak bulan November, Figueres selalu diberitahukan tentang interaksi CINDE dengan Intel dan secara terus menerus menyatakan minatnya untuk membantu proyek ini. Presiden muda lulusan Harvard itu, dalam masa jabatan pertama dan terakhirnya, amat menyadari dampak potensial yang dimiliki Intel dalam membantu pertumbuhan negaranya. Ia menunjukkan minat pribadi yang kuat terhadap Intel dan menjadi unsur penentu dalam keberhasilan Kosta Rika. Selama kunjungan awalnya, ia menghabiskan dua setengah jam dengan perwakilan dari Intel, yang pada saat itu menyatakan akan “melakukan apa pun yang diperlukan” untuk menjadikan Kosta Rika kompetitif. Ia sangat perhatian, antusias, dan enerjik dalam berbicara dan menanggapi langsung kepentingan Intel. Ketika tim mengungkapkan keraguan mereka akan kualitas tenaga kerja dan ketersediaan lulusan yang terlatih secara teknis di negara itu, Figueres melontarkan gagasan untuk mengadakan program pelatihan tingkat lanjut oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan Intel. Yang akhirnya menjadi tindakan penting adalah ketika Figueres juga menunjuk Rossi untuk mengelola proyek Intel untuk pemerintah Kosta Rika. CINDE tetap akan menjadi kontak kunci bagi Intel dan fasilitator bagi pertemuan-pertemuan dan negosiasi turunan, sementara Rossi, pejabat tinggi yang terhormat, akan menjadi titik tengah koordinasi dalam lingkup pemerintah Kosta Rika.
Seusai pertemuan, Perlman dari Intel berkomentar bahwa keterlibatan Presiden dan sikapnya merupakan suatu hal yang “luar biasa dan sangat tidak terduga bisa datang dari sesorang dengan posisi sepertinya.” Setali tiga uang, Menteri Rossi juga membuat para tamu itu terkesan dengan keterlibatan aktifnya dan pemahaman akan kebutuhan usaha perusahaan. Rossi sendiri adalah seorang pengusaha, yang mengelola perusahaan induk milik keluarga sebelum menjadi menteri di kabinet Figueres. Ia mengetahui pentingnya kecepatan dan nilai yang Intel lihat akan berasal dari proses yang lancar dan jelas, dan komunikasi konsisten dari pemerintah.
Nampaknya, tim Intel awalnya datang ke Kosta Rika dengan ekspektasi relatif rendah tentang tingkat pengembangan dan pencanggihan secara umum dari negara kecil tersebut. Akan tetapi, ketika mereka pergi, Kosta Rika langsung menanjak ke puncak dalam daftar mereka.