Nonton Konser Bee Gees

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Rabu, 08 September 2010
Book Review » 24 Juli 2010 » Hit: 157
Nonton Konser Bee Gees
Oleh: Prie Gs

Di sebuah waktu luang seharian saya membongkar-bongkar barang-barang lama. Saya membaca ulang buku-buku lama, dan menonton rekaman DVD lama. Saya membaca ulang novel Max Havelaar yang saya beli tapi tidak pernah saya baca dengan seksama. Aduh, berdosa benar saya. Buku itu ternyata karya sastra yang luar biasa. Sebuah novel sejarah yang mencekam. Dan gaya Multatuli alias Douwes Dekker dalam bercerita benar-benar bergelora ketika saya dengan teliti menyimaknya. Sinis, lucu, dan cerdas. Tergelak-gelak saya dibuatnya dan bodoh benar saya bahwa humor seperti ini pernah saya biarkan teronggok begitu lama.

Buku ini dibuka dengan narasi seorang pedagang yang hanya memikirkan uang. Seluruh soal yang tidak mendatangkan uang ia cibir habis-habisan, termasuk kesenian. Kepada sepotong sajak yang mengatakan: udara hitam pekat… dan waktu sudah jam empat, misalnya, ia umpat sebagai kebohongan. “Mana mungkin ada udara sudah hitam pekat tepat pada jam empat. Bisa jadi waktu itu baru pukul tiga seperempat,” begitulah kira-kira rasa sinisnya.

Saya baca ulang buku-buku Kahlil Gibran. Kecil, tipis, murah, dan seperti barang tak berharga. Tapi, ya ampun, baru membuka selembar halamannya saja, saya seperti terlempar ke sebuah galaksi yang jauh. Ia langsung menggedor saya: “Suka cita tak lebih adalah duka yang telah terbuka kedoknya,” katanya. Sangar benar penyair ini! Baru satu kalimat sudah sedemikian besar dampaknya. Padahal, seluruh buku itu berisi ribuan kata yang semuanya tak selalu saya mengerti tapi entah kenapa keindahannya terasa di hati.

Saya menonton ulang biografi Muhammad Ali. Edan, keberanian orang ini keterlaluan. Di depan wartawan saat ia hendak menantang juara dunia, ia tidak cuma menjawab, tetapi juga bertanya. “Apa kabar Sony Liston? Apa dia masih jelek? Juara dunia harus ganteng seperti saya!” teriaknya.

Ali tidak cuma berani berkelahi, tetapi juga berani disalahpahami. Dan keberanian itu melebar ke mana-mana hingga jauh di luar dunia tinju. Sendiri, ia menantang politik Amerika yang hendak mengirimnya ke Vietnam sebagai wajib militer. “Tak ada alasan saya pergi untuk membunuh sesama orang miskin. Lagipula, tak pernah ada Vietkong yang memanggil saya Negro!” Untuk keyakinannya ini, ia merelakan gelar juaranya dicopot paksa dan terancam masuk penjara. Meletup-letup gairah saya melihat keberanian semacam ini.

Saya lalu menonton ulang dokumentasi Bruce Lee. Wuaaah… pede-nya setengah mati. Tubuhnya kecil, tetapi seluruhnya seperti cuma terdiri atas otot. Itulah otot yang sanggup melahirkan teknik pukulan satu inci yang fenomenal. Dalam tubuh sekecil itu menggelegak nyali yang menyala-nyala. Ia taklukkan Amerika dengan pukulan satu incinya dan memaksa orang-orang dua kali lipat tinggi tubuhnya harus datang sebagai murid.

Lalu saya nonton konser Bee Gees di Las Vegas. Haaa…, suara falset Gibb bersaudara yang sebetulnya aneh itu menjelma sebagai koor yang memukau. Mereka telah menjadi para veteran. Si bungsu, Andi Gibb bahkan telah tiada saat konser itu berlangsung. Tetapi, tenggorokan mereka seperti masih tetap sedia kala. Seluruh penonton hafal hingga titik koma lagu mereka. Tapi tidak pernah sekalipun orang-orang ini terpancing untuk mengacungkan mikrofonnya kecarah penonton dan meminta untuk menirukan nyanyiannya. Di tengah lautan pemuja, orang-orang ini tidak sekalipun tergoda berimprovisasi macam-macam cuma karena dorongan untuk bergaya.

Ada jenis penyanyi yang begitu mendengar tepuk tangan langsung lenyap kesadarannya lalu bergaya terlalu dini. Baru masuk intro sudah melenggok-lenggokkan lagunya sedemikian rupa. Penonton pasti tidak butuh ini. Penonton butuh lagu yang secara persis telah ada dalam benak mereka, dan Bee Gees mengerti hukum ini. Di tengah histeria pemuja, dengan orang kaya raya tetapi tetap hidup bersahaja. Sungguh tirakat batin yang berat, dan hanya para juara yang sanggup melakukannya.

Lalu saya nonton konsernya Guns N Roses. Wuaaa…, urakan sekali AXL Roses itu. Kalau ia tetangga saya, biasa jadi saya sudah meminta Pak Lurah untuk mengusirnya. Tetapi, ketika ia sudah berada di depan piano dan menyanyikan November Rain itu…. Ups! Saya boleh tidak menyukai orang ini secara pribadi tetapi saya tidak bisa untuk tidak menghormati bakatnya.

Terakhir, sebetulnya saya bukan sedang ingin membuat resensi buku dan pertunjukan. Saya Cuma sedang ingin menunjukkan; ada banyak harta karun terpendam di rumah Anda. Bongkarlah dan temukan kebahagiaan yang terancam Anda lupakan!

Dikutip dari Buku Prie Gs dalam Catatan Harian Sang Penggoda Indonesia halaman 263-265.