News » 09 Juni 2007 » Hit: 798
Pembekalan Wawasan BMT Ibu Mandiri
Mendirikan serta mengelola Baitul Mal wa Tamwil (BMT) begitu mudah. Cukup bermodal Rp 15 juta kita dapat mengoperasikannya. Yang dipentingkan adalah strategi manajemen pengembangan usaha BMT agar lembaga micro finance ini dapat langgeng dalam jangka panjang.
"Ciri utama BMT adalah mencari laba untuk kesejahteraan bersama. Jangan sampai BMT diasosiasikan dengan lembaga sosial yang melulu berkhidmat untuk umat tanpa memikirkan profit," kata Arrison Hendry, Kapala Cabang Permodalan Nasional Madani (PT PNM). Ia menyatakan hal itu dalam acara pembekalan dan pra-launching BMT Ibu Mandiri di rumah dinas Dr. Zulkieflimansyah, Kalibata, Jakarta Selatan.
Prinsip utama BMT, kata Arrison, adalah mudharabah mutlaqah, yakni bagi hasil yang didasarkan pada revenue sharing. Prinsip kerja BMT, lanjutnya, sejalan dengan lembaga keuangan syariah (LKS) lainnya seperti Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) dan perbankan syariah lainnya. Pengelolaannya, katanya, tidak bisa tidak harus ditangani secara profesional.
Selain berlandaskan prinsip bagi hasil, Arrison menyinggung perbedaan lainnya dengan lembaga keuangan konvensional. "Lembaga keuangan syariah juga menempatkan dewan pengawas syariah dalam mengawasi perputaran dana yang diputarkannya. Jadi, dana-dana yang digulirkan ke debitur, baik perorangan maupun lembaga, dipastikan tersalurkan pada usaha-usaha yang halal," demikian Arrison.
Sementara itu, pembina BMT Ibu Mandiri, Niken Saptarini SE, M.Sc. menyatakan bahwa BMT yang akan dioperasikan pertengahan Juni di sekitar pasar tradisional Serpong, Tangerang, ini merupakan bidang usaha dari Koperasi Ibu Mandiri. Koperasi ini, katanya, didirikan khusus oleh kaum ibu. "Sasaran nasabahnya juga ibu-ibu yang punya kegiatan usaha mikro," katanya.
Tak hanya menghimpun dan menyalurkan dana nasabahnya, kata Niken, manajemen BMT juga akan melakukan edukasi pemberdayaan ekonomi terhadap para debiturnya. "Kita harapkan para peminjam dana dari BMT tidak bergantung terus pada dana kredit, tapi mereka dapat mandiri sehingga mereka bisa menjadi nasabah yang dananya dapat dimanfaatkan oleh usahawan lain yang membutuhkan," tandas Niken.
Koperasi menjadi perhatian serius Dr. Zulkieflimansyah yang pernah duduk di Komisi VI, dimana salah satu mitra kerjanya adalah Departemen Koperasi dan UKM. Meski ia belum lama ini di-rolling ke Komisi VII, ia tetap punya tekad untuk memberdayakan ekonomi kader dan simpatisan PKS di daerah pemilihannya, Kabupaten dan Kota Tangerang, terutama di bidang koperasi. Koperasi, kata Dr Zul dalam berbagai kesempatan, merupakan bentuk implementasi usaha bersama (amal jama`i).
(Roji)
"Ciri utama BMT adalah mencari laba untuk kesejahteraan bersama. Jangan sampai BMT diasosiasikan dengan lembaga sosial yang melulu berkhidmat untuk umat tanpa memikirkan profit," kata Arrison Hendry, Kapala Cabang Permodalan Nasional Madani (PT PNM). Ia menyatakan hal itu dalam acara pembekalan dan pra-launching BMT Ibu Mandiri di rumah dinas Dr. Zulkieflimansyah, Kalibata, Jakarta Selatan.
Prinsip utama BMT, kata Arrison, adalah mudharabah mutlaqah, yakni bagi hasil yang didasarkan pada revenue sharing. Prinsip kerja BMT, lanjutnya, sejalan dengan lembaga keuangan syariah (LKS) lainnya seperti Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) dan perbankan syariah lainnya. Pengelolaannya, katanya, tidak bisa tidak harus ditangani secara profesional.
Selain berlandaskan prinsip bagi hasil, Arrison menyinggung perbedaan lainnya dengan lembaga keuangan konvensional. "Lembaga keuangan syariah juga menempatkan dewan pengawas syariah dalam mengawasi perputaran dana yang diputarkannya. Jadi, dana-dana yang digulirkan ke debitur, baik perorangan maupun lembaga, dipastikan tersalurkan pada usaha-usaha yang halal," demikian Arrison.
Sementara itu, pembina BMT Ibu Mandiri, Niken Saptarini SE, M.Sc. menyatakan bahwa BMT yang akan dioperasikan pertengahan Juni di sekitar pasar tradisional Serpong, Tangerang, ini merupakan bidang usaha dari Koperasi Ibu Mandiri. Koperasi ini, katanya, didirikan khusus oleh kaum ibu. "Sasaran nasabahnya juga ibu-ibu yang punya kegiatan usaha mikro," katanya.
Tak hanya menghimpun dan menyalurkan dana nasabahnya, kata Niken, manajemen BMT juga akan melakukan edukasi pemberdayaan ekonomi terhadap para debiturnya. "Kita harapkan para peminjam dana dari BMT tidak bergantung terus pada dana kredit, tapi mereka dapat mandiri sehingga mereka bisa menjadi nasabah yang dananya dapat dimanfaatkan oleh usahawan lain yang membutuhkan," tandas Niken.
Koperasi menjadi perhatian serius Dr. Zulkieflimansyah yang pernah duduk di Komisi VI, dimana salah satu mitra kerjanya adalah Departemen Koperasi dan UKM. Meski ia belum lama ini di-rolling ke Komisi VII, ia tetap punya tekad untuk memberdayakan ekonomi kader dan simpatisan PKS di daerah pemilihannya, Kabupaten dan Kota Tangerang, terutama di bidang koperasi. Koperasi, kata Dr Zul dalam berbagai kesempatan, merupakan bentuk implementasi usaha bersama (amal jama`i).
(Roji)