PKS Siap Jadi Partai Moderat

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Jumat, 10 September 2010
Islamic Update » 19 Juni 2010 » Hit: 459
PKS Siap Jadi Partai Moderat

Jakarta - Musyawarah Nasional (Munas) II PKS resmi dimulai sejak 16 Juni dan bakal berakhir pada empat hari selanjutnya. Bulan Juni 2010 akan menjadi momentum bersejarah bagi partai dakwah ini. Karena PKS secara formal akan meninggalkan stigmatisasi sebagai partai ‘kanan’, eksklusif, dan penganut faham Islam ‘konservatif’ yang selama ini begitu lekat dengan PKS. Inilah niat serius PKS untuk melebarkan sayap dakwah politiknya dengan mentitahkan dirinya sebagai partai yang siap terbuka dan moderat.

Niat PKS untuk menjadi partai tengah tak akan terbendung lagi. Momentum tertinggi di PKS melalui Munas bakal dimanfaatkan secara maksimal untuk menegaskan jati diri partai sebagai partai terbuka, inklusif, dan toleran yang tidak lagi diklaim sebagai penganut faham keagamaan yang konservatif dan tidak toleran.

Kali ini, PKS betul-betul ingin membuktikan diri mereka sebagai partai moderat dan terbuka. Lihat saja misalnya dalam pembukaan Munasnya yang dihadiri puluhan Dubes negara tetangga seperti Dubes Australia dan AS. Melalui undangan kepada Dubes AS dan Australia itu, PKS ingin menyampaikan kepada dunia internasional bahwa Islam Indonesia tidak sama dengan Islam yang persepsikan dunia barat yang terkadang dicap negatif.

Kedatangan sejumlah Dubes ke Munas PKS harus dimaknai sebagai simbolisasi bahwa jubah ekslusivisme ala PKS sudah ditinggalkan. Kalangan PKS nampaknya meyakini bahwa gelombang Islamisme yang keras dengan aneka teror dan kekerasan di dalamnya, hanya akan merugikan citra umat Islam, termasuk PKS.

Untuk itulah, Bang Zul disela-sela obrolannya dengan sejumlah wartawan beberapa waktu lalu menegaskan kembali, ke depan PKS ingin menjadi partai yang bisa diterima semua kalangan tanpa mengenal sekat agama dan budaya, menjaga nilai-nilai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan yang utuh, serta lebih realistis dalam melihat pluralitas sosial di republik ini.

Di ranah publik, PKS masih dirasakan sebagai partai eksklusif meski sebenarnya sudah bergerak ke tengah dan moderat sejak Munas I di Bali. Bahkan, PKS sudah merekrut kader-kader non-muslim di sejumlah daerah terutama di kawasan Indonesia Timur. Namun, publik tetap saja ingin melihat PKS betul-betul menampakkan diri mereka sebagai partai yang bisa mengayomi semua golongan. Karena memang dalam praktiknya, PKS masih dilihat sebagai partai berbasis massa Islam yang eksklusif dengan tingkat doktrin yang ketat.

Eksklusifisme PKS inilah yang membuat kalangan NU dan Muhammadiyah melihat partai ini sebagai ancaman atas kohesitas dan pengaruh sosial-kultural dua organisasi massa Islam terbesar itu. Bahkan tidak jarang terjadi ketegangan antara kader PKS dengan dua ormas Islam ini. Dalam 10 tahun terakhir ini, memang terjadi ketegangan antara PKS dengan sejumlah ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah. Pokok masalahnya soal 'perebutan' masjid antara kader PKS dengan NU maupun Muhammadiyah. Ketegangan ini ditanggapi serius dengan reaksi dari pimpinan ormas Islam baik NU maupun Muhammadiyah.

Perebutan masjid tidak sekadar ‘akuisisi’ oleh sejumlah kader PKS. Lebih dari itu, ketegangan yang lain juga bermuara dari praktik keagamaan. Seperti praktik tahlilan, Maulid Nabi Muhammad, yasinan, dibaiyyah yang kerap menjadi sumber persoalan antara PKS dengan sejumlah warga ormas Islam. Meski dalam perkembangannya, PKS juga turut serta dalam praktik-praktik keagamaan yang kerap dilakukan muslim tradisional.

Selain itu, opsi menjadi partai moderat ini sekaligus menegaskan PKS sudah mengakhiri perdebatan seputar isu Nasionalisme. Sudah bukan saatnya lagi PKS dituduh anti Pancasila dan ingin menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. PKS sudah menjadikan Nasionalisme sebagai konsensus nasional yang tidak bisa ditawar lagi. PKS sudah meninggalkan tradisi lamanya yang lebih menekankan aspek formal ritual dan beralih pada Islam yang substantif.

Tentu saja, berubahnya PKS menjadi partai moderat bukan berangkat dari ruang kosong. Melainkan hasil dari sebuah refleksi dan renungan mendalam betapa PKS harus menjadi partai yang bisa mengejawantahkan suasana batin seluruh masyarakat Indonesia yang plural. Di samping itu, perubahan ini mesti difahami sebagai manifestasi dari pemahaman keislaman para aktivis PKS yang kian kondusif, inklusif, dan toleran. Semoga!!. (Adi Prayitno)