PUASA DAN KESALEHAN SOSIAL

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Kamis, 29 Juli 2010
Islamic Update » 16 September 2008 » Hit: 561
PUASA DAN KESALEHAN SOSIAL
Tanpa terasa, umat muslim di seluruh penjuru dunia kembali menjalankan ibadah puasa untuk sebulan lamanya. Sebuah ibadah yang khusus dijalankan di bulan ramadhan yang penuh berkah dan ampunan. Puasa memiliki arti sangat luas, tidak sekedar menahan diri dari makan dan minum mulai terbit fajar hingga matahari terbenam. Namun, lebih dari itu, sebagai momentum meningkatkan kesalehan sosial antar sesama manusia di muka bumi.

Di Indonesia, entah kebetulan atau tidak, bulan puasa selalu bertepatan dengan setting sosial di mana masyarakat sibuk berjibaku dengan kesulitan mempertahankan hidup akibat kenaikan BBM. Masih segar dalam ingatan kita, tahun 2007 lalu, umat Islam menjalani ibadah puasa di bawah tekanan ekonomi yang maha sulit karena BBM naik 50 %. Tahun ini pun umat Islam seolah ‘dipaksa’ menjalankan ibadah puasa dalam kondisi sama akibat kenaikan BBM yang diikuti dengan melambungnya harga bahan-bahan pokok.

Antrian panjang akibat langkanya minyak tanah, melambungnya harga gas elpiji, badai kekeringan, gagal panen, dan sulitnya air bersih seakan menjadi pelengkap penderitaan dalam menghadapi bulan yang penuh hidayah ini.

Itulah sebabnya puasa kali ini harus dijadikan momentum kepedulian sosial dengan rasa simpati dan empati terhadap sesama, jauh dari sekedar persoalan ibadah spiritual. Kesalehan pribadi yang didapat selama bulan puasa tidak akan sempurna jika tidak dibarengi dengan kesalehan sosial seperti membantu meringankan penderitaan masyarakat.

Sebagai penduduk mayoritas, umat Islam tidak boleh berpangku tangan melihat potret penderitaan masyarakat hanya dengan berdoa dan berharap datangnya seorang penyelamat yang akan membebaskan masyarakat dari kelaparan, kesulitan, dan kesusahan.

Tentu, bulan suci ini akan terasa hampa jika amalan-amalan puasa yang dijalankan sebatas ritual belaka. Puasa akan jauh lebih bermakna ketika unsur-unsur ilahiyah yang inhern dalam ibadah puasa mampu memberi manfaat kepada orang lain.

Sebagai manifestasi kesalehan individual dan sosial, puasa menjadi sangat penting ketika mampu menciptakan kondisi kondusif untuk terjadinya perubahan demi terciptanya masyarakat yang egaliter, toleran, dinamis dan beradab. Dan, orang yang mampu menciptakan masyarakat seperti itu sudah mendekati ambang puasa ideal.

Masyarakat dinamis adalah masyarakat yang bersedia berkorban bagi orang lain tanpa melihat agama, etnis, dan keturunan dalam hal berbuat kebaikan. Puasa orang beradab bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tapi sekaligus puasa dari segala bentuk sahwat manusiawi yang rakus. Menuju puasa seperti ini memang tidak mudah sebab sudah mendekati puasanya kaum khas (khusus) yang mengerti hakikat puasa itu sendiri.

Sebagian besar umat Islam masih dalam taraf puasa orang-orang awam, yakni sekedar menahan makan dan minum. Akan tetapi, puasa awam bukan berarti tidak berdampak pada perubahan perilaku masyarakat karena di dalamnya terdapat transformasi mental dan perasaan atas kaum miskin yang kurang beruntung.

Semoga pada puasa 1429 H kali ini, umat Islam mampu menjadi pelopor perubahan di tengah masyarakat yang kian frustasi karena nyaris tak ada harapan hidup lagi. Karena itu, puasa dan kesalehan sosial diharapkan mampu memberikan dampak pada perubahan peradaban manusia menuju kesuksesan hidup di dunia maupun akhirat.(adm)