Sektor elektronik memikat

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Kamis, 29 Juli 2010
Economy » 12 Desember 2006 » Hit: 748
Sektor elektronik memikat
Jakarta-Kendati 40% pasar elektronik nasional saat ini diisi produk ilegal dan daya beli konsumen domestik terus menurun, Depperin tetap optimistis industri tersebut masih memiliki daya tarik dan mampu menarik investasi senilai US$2,5 miliar pada 2007.
Investasi tersebut diharapkan akan mendorong laju pertumbuhan industri elektronik pada tahun depan sebesar 13,2% dan membuka peluang tenaga kerja baru sebanyak 150.000 orang.

Tingkat utilisasi industri elektronik nasional pada 2007 juga ditargetkan naik menjadi 80% dari sekitar 64% pada saat ini.
Nilai ekspor industri elektronik pada 2007 juga ditargetkan naik menjadi US$8,8 miliar dibandingkan US$7,7 miliar pada tahun ini.
Direktur Industri Elektronika Ditjen Industri Alat Transportasi dan Telematika (IATT) Depperin Abdul Wahid mengatakan sejumlah produsen elektronik telah berencana menambah investasi mereka di Indonesia.

Masalah di industri elektronik nasional
1. Sebanyak 40% produk yang beredar merupakan produk ilegal.
2. Ekonomi biaya tinggi, pungutan di pelabuhan, masalah distribusi, dan sistem perpajakan.
3. Infrastruktur terbatas.
4. Pengelolaan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang masih belum jelas.
5. Laboratorium uji sangat terbatas.
6. Masalah pengelolaan energi dan keterbatasan gas nasional.
7. Terkonsentrasi di Jawa dan Banten
Sumber: Depperin

"Hambatannya memang cukup banyak, namun kami susun dulu targetnya dan strateginya," ujarnya dalam Seminar Industri Elektronika Nasional, kemarin.
Abdul menambahkan Sanyo dan LG merupakan dua produsen elektronik yang telah menyampaikan rencana untuk menambah investasi di Indonesia meskipun nilainya tidak terlalu signifikan.
Dia juga menyebutkan Depperin akan fokus pada kebijakan penyebaran industri elektronik di luar Pulau Jawa dan Batam. "Kami sudah ada kesepakatan dengan Sumatra Utara untuk pengembangan industri komponen elektronik di sana, sehingga bisa men-support [mendukung] industri elektronik yang ada di Jawa, Batam, dan Singapura," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Abdul menambahkan Depperin akan mengembangkan industri elektronik konsumsi khususnya televisi berukuran di atas 29 inci, mesin cuci satu tabung, alat pendingin ruangan (air conditioner/AC) berkapasitas di atas 1,5 PK, dan kulkas di atas 180 liter, serta mini kompo.

"Kebijakan khusus untuk pengembangan produk-produk itu memang belum ada, tapi itu akan menjadi patokan kami dalam memberikan fasilitas dan stimulus," katanya.
Sementara itu, Manager PT Panasonic Manufacturing Indonesia Daniel Suhardiman mengatakan industri elektronik nasional saat ini menghadapi masalah besar berupa maraknya produk selundupan.
Menurut dia, sekitar 40% pasar elektronik di dalam negeri diisi oleh barang ilegal dan produk palsu.

Dukungan minim

Dukungan pemerintah terhadap industri elektronik juga masih minim, terlihat dari kandungan bahan baku atau komponen lokal yang hanya sekitar 40%.
Bahan baku utama seperti kompresor, motor, plastik, tembaga, dan baja, masih diimpor.
Daniel menambahkan 70% cetakan (mold and die) masih dibuat di luar negeri sehingga membuat biaya produksi menjadi lebih tinggi. "Indonesia merupakan pasar elektronik yang sangat besar. Namun tanpa strategi dan kebijakan yang tepat, industri elektronik nasional akan terpuruk dan kita tidak bisa lagi mengandalkan kontribusi ekspor yang tinggi dari industri elektronik," ujarnya.

Iklim investasi di sektor elektronik Indonesia juga kurang menarik karena belum ada kebijakan yang memadai saat memasuki era perdagangan bebas, seperti hambatan nontarif dan insentif fiskal yang menarik.
Penghargaan dan perlindungan terhadap hak atas kekayaan intelektual (HaKI) juga masih sangat lemah sehingga tingkat pemalsuan merek dan desain masih sangat tinggi.
Abdul juga mengakui industri elektronik nasional masih menghadapi berbagai tantangan. "Masalahnya memang banyak. Tapi kami harus tetap optimistis bahwa investasi akan tetap ada," ujarnya.

Sebelumnya Ketua Umum Gabungan Elektronik Indonesia Rachmat Gobel mendesak pemerintah untuk memberikan insentif fiskal untuk meningkatkan daya saing industri ini. (Yeni H. Simanjuntak)

Sumber:Bisnis Indonesia