Semangat Baru Tahun Baru Islam

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Kamis, 29 Juli 2010
Kabar Konstituen » 20 Desember 2009 » Hit: 451
Semangat Baru Tahun Baru Islam
Tanpa terasa kita berada di ujung tahun 1430 Hijriyah dan segera memasuki awal Muharram 1431. Berbagai kejadian dan peristiwa dalam derapan langkah turut mewarnai dinamika hidup. Tak ada pengecualian dalam sejarah selain suatu kaitan kejadian yang terpaut di bawah lingkaran waktu. Dari rahim waktu lahirlah kelampauan (masa lalu), kekinian (masa sekarang), dan kenantian (masa akan datang).

Bahwa masa akan terus berganti dari hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun merupakan suatu keniscayaan dari perjalanan sang waktu. Masalahnya bagaimana kita mengisi dan memerankan setiap moment dalam masa yang terkerangkeng oleh waktu? Jika sejarah merupakan kaitan kejadian yang saling terpaut, maka antara masa lalu, sekarang, dan masa akan datang adalah lingkaran yang selalu hadir (perlu dihadirkan) bahkan saling menentukan.

Karena itu, pergantian tahun Hijriyah menjadi momentum kekinian untuk merefleksikan masa lalu dalam rangka menatap masa akan datang. Masa lalu bukan hanya sebatas kenangan tetapi harus dihadirkan sekarang agar tercurah pada masa depan yang lebih baik. Hal ini senada dengan perintah al-Qur’an bahwa wa al-tandzur nafsun ma qaddamat lighadin... (hendaklah seseorang melihat masa lalu untuk hari esok).

Kondisi Bangsa
Sepanjang tahun 1430 Hijriyah, terdapat beberapa peristiwa penting yang meliputi perjalanan bangsa. Ambil contoh euphoria Pemilu, tragedi kemanusiaan gempa bumi, dan gegap gempita korupsi yang memuncak pada peringatan hari Anti Korupsi Sedunia 9 Desember. Di samping itu berbagai persoalan menuntut untuk segera diselaikan mulai dari tingginya angka kemiskinan, besarnya jumlah pengangguran hingga maraknya korupsi.

Sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia masih jauh dari cita-cita kemakmuran sebagaimana tertuang dalam Pancasila. Hal ini tentu harus menjadi perhatian dan keprihatinan bersama baik pemerintah maupun masyarakat. Sebab, Indonesia adalah negara besar dengan kekayaan bumi yang subur dan berlimpah. Tetapi mengapa rakyatnya miskin beras di lumbung padi?

Tentu kesalahan ada di tangan manusianya. Sumber Daya Alam yang berlimpah itu anugerah, tetapi kesalahan dalam menanganinya adalah musibah. Apalagi tidak disertai dengan pengetahuan memadai (kapabelitas) dan tanggung jawab moral yang tinggi (integritas). Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia harus berjalan seimbang sebagai syarat utama dalam mewujudkan proyek pembangunan bangsa.

Kesalahan menangani kekayaan alam tidak hanya mengakibatkan kemiskinan tetapi juga bagi alam itu sendiri dan kehidupan lingkungan. Begitu banyak sumber daya alam kita mati (tidak bisa diproduksi lagi) bahkan berbalik menyerang kehidupan lingkungan seperti lumpur lapindo, global warming, dan sebagainya. Artinya, kekayaan alam bukanlah segala-galanya karena justru tangan manusialah yang lebih menentukan. Hal ini digarisbawahi dalam alQur’an bhawa dzahara al-fasadu fi al-barri wa al-bahri bima kasabat aidi an-nas... (kerusakan di darat maupun di laut disebabkan oleh ulah tangan manusia...).

Memanfaatkan Waktu
Sejak kemerdekaan 1945 hingga sekarang, Indonesia tetap berkutat dalam kubangan kemiskinan. Hal ini berarti kemerdekaan pada satu sisi memang diperlukan tetapi belum tentu menentukan bagi terwujudnya kesejahteraan. Sebab hal terpenting dari kemerdekaan adalah bagaimana mengisinya dengan potensi yang dimiliki bangsa demi tujuan kesejahteraan. Meski demikian, bukan berarti tertutup harapan untuk menggapai cita yang diinginkan. Semuanya bergantung pada seberapa besar perhatian kita dalam memanfaatkan momen di bawah kisaran waktu serta belajar dari kesalahan masa lalu.

Sebagai umat muslim, penting kiranya membuka lembaran sejarah terkait filosofi lahirnya tahun hijriyah. Sebuah tahun yang diawali dan dihitung dari hijrah Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah pada 1 Muharram sebagai strategi perjuangan Islam. Dakwah yang dilakukan di Madinah ditujukan untuk membumikan nilai-nilai kemanusiaan demi terwujudnya masyarakat yang beradab. Misi moral yang dibawa tidak lain hanya untuk mengangkat martabat manusia menuju kehidupan yang adil dan sejahtera. Bagi beliau, tiap detik waktu adalah pertaruhan jiwa dan raga dan karena itu harus diperjuangkan.

Begitu pentingnya waktu hingga pepatah Arab mengibaratkannya dengan pedang (al-waqt ka al-saif). Bila tidak dimanfaatkan dengan benar, proporsional, dan efisien maka pedang itu akan memenggal diri kita sendiri. Inilah yang disebut dengan bom waktu. Sebab itu, dalam konteks perjuangan kebangsaan, ada tuntutan besar untuk memanfaatkan waktu setepat mungkin agar tidak tergilas pergantian masa. Yakni, waktu yang tercurah pada upaya membangun kehidupan bangsa yang adil, makmur, dan sejahtera yang diridhoi Allah swt (baldatun thayyibatun wa rabbun wafur).

Krisis ekonomi, politik, moral dan lingkungan tak akan teratasi bila tidak ada kesadaran yang disematkan pada waktu. Demi waktu! Demikianlah sumpah Allah untuk menggarisbawahi peluang (moment) berikut konsekuensi dari waktu. Karena itu, perjuangan dalam bingkai batasan waktu merupakan keharusan sejarah.

Untuk itu, tahun baru Hijriah mestinya dijadikan momentum untuk melakukan lompatan perubahan besar sebagai pengejawantahan dari refleksi kemunduran umat manusia. Hijrahnya Sang Nabi dari Mekkah ke Madinah bukan semata perpindahan fisik, melainkan sebuah upaya dan strategi dakwah guna membangun masyarakat berkeadilan yang diberkati Allah. Tentu saja, hijrahnya Muhammad diiringi dengan semangat baru untuk memulai sebuah kehidupan baru yang lebih maju, beradab, dan mapan.

Semangat baru harapan baru. Setidaknya hal itulah yang menjadi poin terpenting dari setiap pergantian tahun. Semangat baru itu diturunkan dalam bentuk berabagai rencana aksi strategis positif guna memulai sebuah kehidupan baru. Rencana itu mencakup upaya taktis dan strategis dalam merubah nasib bangsa. Tahun baru hanya akan menjadi pergantian tahun semata tanpa dibarengi dengan rencana dan harapan untuk memulai sesuatu yang baru. Mari sambut tahun baru dengan semangat baru.

*Tulisan ini disarikan dari presentasi Bang Zul dalam acara “Menyambut Tahun Baru Islam” di Masjid An-nur Rumah Sakit Sari Serang, 17 Desember. Hadir juga dalam acara ini pendiri Rumah Dunia, Gola Gong dan Direktur R S Sari Asih, dr Budi.*(Adi)