Pilkada » 23 November 2006 » Hit: 476
Semangat Orang Muda
Pasangan Zulkieflimansyah dan Marissa Haque mencerminkan semangat kaum muda untuk membangun Banten. Zulkieflimansyah atau akrab dipanggil Zul, saat ini Wakil Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPR. Lelaki ini kelahiran Sumbawa Besar, 18 Mei 1972.
Sedangkan Marissa Haque atau Icha kelahiran Balikpapan, 15 Oktober 1962, sebelumnya anggota DPR dari PDI-P, kemudian terjadi perselisihan politik yang menyebabkan Icha di-recall. Meskipun keduanya bukan putra kelahiran Banten, pasangan yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Sarikat Indonesia (PSI) ini tinggal di Tangerang, Banten.
Bagi pasangan ini, yang terpenting bukan putra daerah, tetapi bagaimana komitmen memajukan Banten, provinsi muda di ujung barat Pulau Jawa. Zul melihat Banten begitu dekat dengan ibu kota negara, Jakarta, tetapi disparitas begitu lebar. Banten sangat tertinggal dari Jakarta.
"Kita menyaksikan masyarakat yang tidak diurus. Di desa-desa, kita berhadapan dengan mata-mata tanpa harapan. Mudah-mudahan kehadiran kami memberi cahaya di ujung terowongan yang gelap," kata Zul.
Sebagai calon yang diusung PKS, partai dengan jargon "bersih dan peduli", Zul berpendapat monopoli proyek harus dihapuskan, dan diskresi, keistimewaan, harus ditiadakan, serta akuntabilitas harus dilakukan. "Sebab, korupsi adalah masalah serius di Banten. Monopoli ditambah diskresi minus akuntabilitas sama dengan korupsi," ungkap peneliti muda bidang ekonomi dan manajemen (2003) itu.
Meskipun demikian, Zul sangat paham bahwa perubahan tak boleh menakutkan orang, tetapi harus membawa suasana tenang. "Tidak mentang-mentang pemerintahan baru, lalu merusak sistem. Pengalaman di negara berkembang, kalau kita terlalu keras, menekan sistem, hal itu akan berbalik lebih dahsyat ke arah kita," kata Zul.
Zul berjanji tidak serta-merta membuat perubahan sehingga membuat orang tidak nyaman. Sebab, bagaimanapun reformasi birokrasi harus dilakukan bertahap. "Yang paling utama, bagaimana memberikan keteladanan. Mempraktikkan apa yang selalu dikhotbahkan selama ini," katanya.
Sama dengan calon lainnya, Zul berjanji meningkatkan kesejahteraan rakyat Banten dan menaikkan standar kehidupan masyarakatnya. Dia melihat produktivitas masyarakat Banten sangat rendah. Zul berkeinginan memudahkan akses pendidikan, kalau perlu digratiskan, meski membutuhkan biaya sangat besar. Pelayanan kesehatan harus makin baik, murah, dan kalau bisa, tanpa biaya.
Menciptakan lapangan kerja di Banten, salah satu janji Zul dan Icha. "Kami ingin menciptakan lapangan kerja. Di Banten, di mana-mana dibangun pabrik, tapi banyak warga sekitar pabrik menganggur. Kami akan ciptakan Banten lingkungan yang nyaman bagi investor karena investorlah yang menghidupkan perekonomian di Banten," ungkap Direktur National Leadership Centre itu.
Memberdayakan pesantren di Banten juga menjadi perhatian Zul. Jumlah pesantren di Banten yang terdaftar saat ini 2.000-an, diklaim sebagai yang terbanyak di dunia. "Mesti ada kerendahan hati untuk berdialog dengan pemuka agama. Jadi, paradigma yang mendasar bukan lagi dilayani, tetapi melayani dengan kerendahan hati," kata Zul yang melihat potensi pesantren sangat besar.
Kehadiran PKS di Banten, kata Zul, ingin mengedukasi orang Islam tentang Islam. Bahwa Islam tidak identik dengan kemiskinan dan kebodohan. Sebab, jika itu dibiarkan, akan muncul radikalisme. "Kita ingin bisa memaknai toleransi dengan pengertian yang benar. Dengan pendidikan yang baik, orang memaknai perbedaan sebagai bentuk kekayaan. Dengan pendidikan yang baiklah orang memaknai perbedaan keyakinan sebagai bentuk cara kita belajar untuk saling menghargai," katanya.
Popularitas Marissa
Ihwal hasil pilkada, pasangan ini optimistis meraih 60 persen suara pemilih di Banten. Di samping yakin dengan soliditas PKS, Zul juga yakin popularitas Marissa Haque akan membuat pemilih di pelosok Banten memilih artis itu. Meskipun Icha di-recall oleh DPP PDI-P karena "menyeberang" menjadi calon Wakil Gubernur Banten yang diusung PKS dan PSI, diyakini 50 persen massa akar rumput PDI-P di Banten masih di belakang Marissa.
Dalam masa kampanye, Icha memegang peranan penting karena kehadiran artis itu akan menarik perhatian masyarakat di pelosok Banten. "Massa akar rumput tidak perlu visi, misi, platform. Icha hadir, warga berkumpul, ingin mencium tangan Icha dan berfoto bersamanya. Apa pun yang diucapkan Icha, menjadi buah manis bagi warga. Ini sangat meringankan pekerjaan kami," ungkap Zul.
Dia yakin, dengan soliditas PKS dan popularitas Icha, aura kemenangan terasa. Jika tak ada kecurangan dan penggelembungan suara, pasangan nomor empat ini yakin akan memenangi Pilkada Banten.
Meski yakin unggul, Zul dan Icha menyatakan siap kalah. "Ini proses demokrasi. Ini game. Karena itu, masyarakat jangan diadu domba, dipaksa memilih salah satu kandidat," kata Zul.
Pasangan ini menghadapi kenyataan bahwa jalan menuju kursi gubernur dan wakil gubernur tidaklah gampang. Banyak jalan terjal dan mendaki yang harus dilalui. Begitu dideklarasikan Zul berpasangan dengan Icha, kader PDI-P, pengurus DPP PDI-P langsung bereaksi. Icha pun di-recall.
Icha sempat berharap Megawati Soekarnoputri—yang mengajaknya bergabung masuk PDI-P—untuk berbicara. Tetapi, keputusan DPP PDI-P akhirnya membuat Icha harus meninggalkan partai politik berlambang banteng itu. Bukan hanya itu. Icha juga dilaporkan ke Polda Banten oleh sebuah LSM setempat karena ucapannya yang dinilai menjelekkan Banten.
Tetapi, begitulah dunia politik. Tak ada kawan atau lawan abadi. Yang ada hanya kepentingan abadi. Meskipun di tingkat nasional PDI-P memosisikan diri sebagai oposisi, di tingkat provinsi PDI-P malah mendukung calon yang diusung Golkar, bahkan kader Golkar untuk menjadi gubernur.
Dalam Pilkada Banten ini, Icha tentu saja bukan sekadar vote getter. Ketika menjabat sebagai anggota DPR, dia bekerja keras dan vokal, sampai akhirnya menggiring delapan orang yang korupsi masuk penjara, termasuk mantan Menteri Agama.
Icha awalnya terjun dalam dunia film, lalu dia bekerja sebagai pengacara dan menjadi pekerja seni. Istri Ikang Fawzi dan ibu dari dua anak, Isabella Muliawati (18) dan Marsha Chikita (17), ini kemudian memilih terjun ke dunia politik. Dia selalu menjadikan pembicaraan di meja makan pertemuan yang demokratis. Dimulai dari yang kecil, kehidupan demokrasi dapat dibangun. ( R Adhi Kusumaputra).
Sumber : www.kompas.co.id
Sedangkan Marissa Haque atau Icha kelahiran Balikpapan, 15 Oktober 1962, sebelumnya anggota DPR dari PDI-P, kemudian terjadi perselisihan politik yang menyebabkan Icha di-recall. Meskipun keduanya bukan putra kelahiran Banten, pasangan yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Sarikat Indonesia (PSI) ini tinggal di Tangerang, Banten.
Bagi pasangan ini, yang terpenting bukan putra daerah, tetapi bagaimana komitmen memajukan Banten, provinsi muda di ujung barat Pulau Jawa. Zul melihat Banten begitu dekat dengan ibu kota negara, Jakarta, tetapi disparitas begitu lebar. Banten sangat tertinggal dari Jakarta.
"Kita menyaksikan masyarakat yang tidak diurus. Di desa-desa, kita berhadapan dengan mata-mata tanpa harapan. Mudah-mudahan kehadiran kami memberi cahaya di ujung terowongan yang gelap," kata Zul.
Sebagai calon yang diusung PKS, partai dengan jargon "bersih dan peduli", Zul berpendapat monopoli proyek harus dihapuskan, dan diskresi, keistimewaan, harus ditiadakan, serta akuntabilitas harus dilakukan. "Sebab, korupsi adalah masalah serius di Banten. Monopoli ditambah diskresi minus akuntabilitas sama dengan korupsi," ungkap peneliti muda bidang ekonomi dan manajemen (2003) itu.
Meskipun demikian, Zul sangat paham bahwa perubahan tak boleh menakutkan orang, tetapi harus membawa suasana tenang. "Tidak mentang-mentang pemerintahan baru, lalu merusak sistem. Pengalaman di negara berkembang, kalau kita terlalu keras, menekan sistem, hal itu akan berbalik lebih dahsyat ke arah kita," kata Zul.
Zul berjanji tidak serta-merta membuat perubahan sehingga membuat orang tidak nyaman. Sebab, bagaimanapun reformasi birokrasi harus dilakukan bertahap. "Yang paling utama, bagaimana memberikan keteladanan. Mempraktikkan apa yang selalu dikhotbahkan selama ini," katanya.
Sama dengan calon lainnya, Zul berjanji meningkatkan kesejahteraan rakyat Banten dan menaikkan standar kehidupan masyarakatnya. Dia melihat produktivitas masyarakat Banten sangat rendah. Zul berkeinginan memudahkan akses pendidikan, kalau perlu digratiskan, meski membutuhkan biaya sangat besar. Pelayanan kesehatan harus makin baik, murah, dan kalau bisa, tanpa biaya.
Menciptakan lapangan kerja di Banten, salah satu janji Zul dan Icha. "Kami ingin menciptakan lapangan kerja. Di Banten, di mana-mana dibangun pabrik, tapi banyak warga sekitar pabrik menganggur. Kami akan ciptakan Banten lingkungan yang nyaman bagi investor karena investorlah yang menghidupkan perekonomian di Banten," ungkap Direktur National Leadership Centre itu.
Memberdayakan pesantren di Banten juga menjadi perhatian Zul. Jumlah pesantren di Banten yang terdaftar saat ini 2.000-an, diklaim sebagai yang terbanyak di dunia. "Mesti ada kerendahan hati untuk berdialog dengan pemuka agama. Jadi, paradigma yang mendasar bukan lagi dilayani, tetapi melayani dengan kerendahan hati," kata Zul yang melihat potensi pesantren sangat besar.
Kehadiran PKS di Banten, kata Zul, ingin mengedukasi orang Islam tentang Islam. Bahwa Islam tidak identik dengan kemiskinan dan kebodohan. Sebab, jika itu dibiarkan, akan muncul radikalisme. "Kita ingin bisa memaknai toleransi dengan pengertian yang benar. Dengan pendidikan yang baik, orang memaknai perbedaan sebagai bentuk kekayaan. Dengan pendidikan yang baiklah orang memaknai perbedaan keyakinan sebagai bentuk cara kita belajar untuk saling menghargai," katanya.
Popularitas Marissa
Ihwal hasil pilkada, pasangan ini optimistis meraih 60 persen suara pemilih di Banten. Di samping yakin dengan soliditas PKS, Zul juga yakin popularitas Marissa Haque akan membuat pemilih di pelosok Banten memilih artis itu. Meskipun Icha di-recall oleh DPP PDI-P karena "menyeberang" menjadi calon Wakil Gubernur Banten yang diusung PKS dan PSI, diyakini 50 persen massa akar rumput PDI-P di Banten masih di belakang Marissa.
Dalam masa kampanye, Icha memegang peranan penting karena kehadiran artis itu akan menarik perhatian masyarakat di pelosok Banten. "Massa akar rumput tidak perlu visi, misi, platform. Icha hadir, warga berkumpul, ingin mencium tangan Icha dan berfoto bersamanya. Apa pun yang diucapkan Icha, menjadi buah manis bagi warga. Ini sangat meringankan pekerjaan kami," ungkap Zul.
Dia yakin, dengan soliditas PKS dan popularitas Icha, aura kemenangan terasa. Jika tak ada kecurangan dan penggelembungan suara, pasangan nomor empat ini yakin akan memenangi Pilkada Banten.
Meski yakin unggul, Zul dan Icha menyatakan siap kalah. "Ini proses demokrasi. Ini game. Karena itu, masyarakat jangan diadu domba, dipaksa memilih salah satu kandidat," kata Zul.
Pasangan ini menghadapi kenyataan bahwa jalan menuju kursi gubernur dan wakil gubernur tidaklah gampang. Banyak jalan terjal dan mendaki yang harus dilalui. Begitu dideklarasikan Zul berpasangan dengan Icha, kader PDI-P, pengurus DPP PDI-P langsung bereaksi. Icha pun di-recall.
Icha sempat berharap Megawati Soekarnoputri—yang mengajaknya bergabung masuk PDI-P—untuk berbicara. Tetapi, keputusan DPP PDI-P akhirnya membuat Icha harus meninggalkan partai politik berlambang banteng itu. Bukan hanya itu. Icha juga dilaporkan ke Polda Banten oleh sebuah LSM setempat karena ucapannya yang dinilai menjelekkan Banten.
Tetapi, begitulah dunia politik. Tak ada kawan atau lawan abadi. Yang ada hanya kepentingan abadi. Meskipun di tingkat nasional PDI-P memosisikan diri sebagai oposisi, di tingkat provinsi PDI-P malah mendukung calon yang diusung Golkar, bahkan kader Golkar untuk menjadi gubernur.
Dalam Pilkada Banten ini, Icha tentu saja bukan sekadar vote getter. Ketika menjabat sebagai anggota DPR, dia bekerja keras dan vokal, sampai akhirnya menggiring delapan orang yang korupsi masuk penjara, termasuk mantan Menteri Agama.
Icha awalnya terjun dalam dunia film, lalu dia bekerja sebagai pengacara dan menjadi pekerja seni. Istri Ikang Fawzi dan ibu dari dua anak, Isabella Muliawati (18) dan Marsha Chikita (17), ini kemudian memilih terjun ke dunia politik. Dia selalu menjadikan pembicaraan di meja makan pertemuan yang demokratis. Dimulai dari yang kecil, kehidupan demokrasi dapat dibangun. ( R Adhi Kusumaputra).
Sumber : www.kompas.co.id