Seorang Tamu Di Jam Tidur Siang

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Kamis, 29 Juli 2010
Book Review » 03 Februari 2010 » Hit: 248
Seorang Tamu Di Jam Tidur Siang
Siang-siang, datang tamu seorang anak muda, yang tanpa berkata pun sudah tau saya apa maksudnya. Ia sopan, berkeringat dengan segepok map ditangannya. Siang di hari libur, adalah siang yang amat strategis untuk tidur siang, yang bagi saya serupa kemewahan. Maka kedatangan tamu ini pasti salah waktu. Apalagi, seperti saya katakan, jauh sebelum ia membuka suara, saya sudah faham apa maksudnya.

Anak muda ini, atau siapapun tamu dengan gaya senada, adalah pencari derma dengan atas nama apa saja, tapi terbanyak adalah untuk anak-anak yatim, pembangunan tempat-tempat ibadah, dan santunan untuk anak-anak yayasan amal. Dari manapun datangnya, pembukaan tamu semacam ini khas. Itulah kenapa jauh-jauh hari mengakrabinya. Ketika dia membuka suara dengan:

“Kedatangan saya kemari, pertama-tama untuk…” kata anak muda itu.
“Sudah! Langsung ke dua dan seterusnya saja,” kata saya.

Maka seperti dugaan saya, ia memang segera menyodorkan mapnya dan tanpa membukanya pun saya sudah tau apa isinya. Di dalamnya pasti ada penjelasana ini dan itu, ada pengantar dari si anu dan anu, lalu yang terakhir adalah daftar orang yang memberrikan sumbangan dan ujung-ujungnya adalah agar saya ikut mencantumkan nama dan sumbangan saya di situ.

“Anda tidak membawa barang yang saya beli,” tanya saya. Pertanyaan yang tak butuh jawaban karena saya memang sudah tahu jawaban tamu saya. Pertanyaan ini saya lontarkan lebih karena saya butuh punya pintu masuk untuk berkhotbah di depannya. Dan inilah khotbah saya selengkapnya:

Begini ya! Mestinya menjual barang itu lebih baik, lebih produktif, ketimbang sekedar langsung minta bantuan seperti ini. Cara begini tidak keren. Memelas, mengiba. Lagian cara-cara serupa sudah dipakai oleh banyak sekali pencari derma dengan modus dan alasan yang sama.

Apa akibatnya? Masyarakat yang kamu datangi menjadi sinis, kan? Karena masyarakat itu tidak bodoh. Mereka itu cerdas. Apalagi semakin susah sebuah masyarakat, semakin cerdas dalam mencurigai para pencari derma. Benak mereka dibebani sikap curiga yang seharusnya menyakitkan hatimu; Waa.. jangan-jangan ini hanya akal-akalan, mengatasnamakan anak-anak yatim, anak cacat, dan rumah-rumah ibadah hanya untuk keuntungan kalian sendiri. Begitu!!

Lagipula apa susahnya memalsukan stempel, membikin surat pengantar palsu, sedang ijazah dan gelar saja sekarang bisa dipalsukan dengan gampang. Kamu ini masih muda. Tolong, berilah masukan bagi yayasanmu itu agar jangan memakai cara-cara yang sudah banyak disalahfahami orang sperti ini. Kebetulan agamamu adalah agama saya. Kita datang dari agama yang sama. Jadi kita ini adalah sesama saudara.

Sebagai saudara saya berhak beramanat kepadamu. Kasihanilah agamamu sendiri. Jangan dinistakan seperti ini. Agama kita ini kaya. Tidak perlu meminta-minta seperti ini. Beragama itu mbok yang keren abis, gitu loh. Boleh miskin asal mental kita kaya. Jangan pernah mau meminta, tapi ayo bekerja. Ayo menawarkan sesuatu agar berharga di mata orang lain sehingga kita makan dari keringat dan kerja keras. Bukan dari hasil mengiba-ngiba seperti ini.

Tamu saya itu melotot. Ia menunggu khotbah saya dengan sabar. Saya dengan cerdas menebak-nebak kesabarannya. Dan khotbah saya selanjutnya: Oke jangan khawatir. Meskipun Cuma sekedarnya, saya pasti menulis nama dan jumlah sumbangan di formulir itu. Jika soal sumbangan itu mudah. Bagi sesama saudara, tidak yang harus dibikin ruwet. Tapi tahukah kamu, ini menyangkut hal-hal yang fundamental dan prinsipil. Saya Cuma sedang menasehatimu, mengkritik cara-caramu. Kasihanilah agamamu. Jangan kau rendahkan seperti ini. Masak kamu merelakan dirimu dihargai murah, ditatap dengan pandangan sinis dan merendahkan. Celaka pula jika kesabaranmu atas hinaan ini bukan karena kamu rendah hati, melainkan kamu tak peduli. Apa pentingnya hinaan jika hasilnya adalah adalah sumbangan!! Waa…gaya hidup seperti ini sungguh tidak layak dipertahankan.

Ya, panjang sekali khotbah saya. Yakinkah kamu, apakah petuah saya yang panjang-panjang ini benar-benar digerakkan karena saya ingin berwasiat tentang kebaikan? Saya sendiri ragu-ragu, karena jangan-jangan semua ini hanya sebentuk kejengkelan saya gara-gara tidur siang saya terganggu.

Tulisan di atas merupakan refleksi Prie Gs dalam bukunya Catatan Harian Penggoda Indonesia atas realitas sosial yang belakangan marak terjadi terutama terhadap fenomena masyarakat yang suka minta sumbangan di tempat-tempat umum seperti terminal, bus kota, angkotan umum, ataupun yang langsung door to door ke setiap rumah dengan atas nama apapun.

Dengan nadanya yang datar, Prie Gs ingin menyadarkan pada kita bahwa banyak generasi muda diusia yang masih belia sudah tak lagi punya harapan apapun selain mengemis dan memelas. Meminta sumbangan dengan mengatasnamakan agama dan anak miskin merupakan cara yang paling sering ditempuh.

Anak muda semacam ini, sebenarnya sudah mati di dalam hidup. Ia memang hidup, tapi hidupnya sudah tak berarti lagi, ia hanya menjadi sampah bagi masyarakat, otak warasnya sudah digadaikan dengan kemalasan-kemalasan yang ada. Padahal agama manapun di dunia mengajarkan bahwa kerja keras merupakan ajaran paling essensial dan prinsipil.

Berbanding lurus dengan tulisan Prie Gs, Bang Zul dalam setiap kunjungan ke konstituennya di dapil 2 Serang dan Cilegon selalu mengungkapkan hasil penelitian yang menegaskan bahwa, saat ini banyak anak muda yang mati di usia 20 tahun akan tetapi dikubur nanti saat umur 65 tahun.

Maksud ungkapan Bang Zul ini yaitu, saat ini banyak anak muda dengan usia dikisaran 20 tahun sudah tak punya harapan lagi terhadap masa depannya. Pandangan matanya nanar, hidupnya tanpa tujuan. Anak muda semacam ini tak memiliki arti bagi siapapun termasuk keluarganya. Ia hanya menunggu mati datang menjemputnya. Dengan nada berkelakarnya, menurut Bang Zul, anak muda model begini sebenarnya sudah mati, akan tetapi menunggu dikubur saat ajal menjemputnya dikisaran usia 65-70 tahun.

Bang Zul sebenarnya hanya ingin mengingatkan bahwa, selagi masih muda gunakan waktu sebaik mungkin untuk belajar guna meningkatkan skill dan kreatifitas sebagai bekal untuk menghadapi arus modernitas yang kian menggila. Anak muda harus menjadi tulang punggung kemajuan sebuah peradaban negara. Jika pemudanya pemalas suatu negara akan menuju jurang kehancuran.