Energy & Mineral Resource Update » 14 November 2007 » Hit: 487
Subsidi Itu Untuk Siapa Sebenarnya
Oleh : Imam Sugema, Direktur Inter CAFE IPB-Tim Indonesia Bangkit
Subsidi BBM akan kembali dipangkas secara signifikan. Salah satunya adalah subsidi minyak tanah. Dengan pengurangan subsidi minyak tanah diyakini akan lebih mendorong rakyat untuk segera mengkonversi konsumsi minyak tanah dengan gas.
Sulit meyakini jika kebijakan itu akan berhasil dan memberikan manfaat bagi rakyat. Kenyataannya hingga saat ini implementasi program tersebut telah gagal sehingga semakin menambah berat beban rakyat.
Saat subsidi BBM rakyat dipangkas, di sisi lain Indonesia justru akan segera mensubsidi konsumsi gas rakyat Cina. Mengapa ini terjadi? Alasannya karena pemerintah telah memutuskan untuk mengobral kekayaan sumber daya alamnya termasuk gas. Tahun depan, lapangan LNG Tangguh akan segera mulai beroperasi. Semua hasil eksploitasi LNG tersebut telah dikontrak jual kepada Cina dengan harga miring. Dalam kontrak dengan Cina, harga dipatok untuk setiap milion milion british termal unit (mmbtu) LNG adalah maksimum 3,25 dolar AS.
Dengan patokan harga minyak mentah saat ini, kontrak ini akan merugikan Indonesia karena harga kontrak gas mestinya adalah 10 dolar AS per mmbtu. Bagaimana mungkin dengan harga pasar Internasional yang tinggi pemerintah Indonesia justru melepas sumber gas dengan sangat murah?
Dengan kontrak yang disepakati berarti Indonesia siap memberi subsidi sebesar dua pertiga harga dari setiap kilogram LPG yang diekspor ke Cina. Sungguh sebuah kesepakatan yang tak masuk akal. Dengan mengalikan total volume ekspor dengan selisih harga kontrak dan harga pasar, Indonesia berpotensi dirugikan tidak kurang dari Rp 3 triliun. Jumlah yang tidak sedikit karena akan sangat bermanfaat untuk memompa ekonomi rakyat.
Lebih gila lagi, ternyata PLN harus membeli gas dari dalam negeri dengan harga yang lebih mahal, yaitu sekitar 5 dolar AS per mmbtu. Apa yang terjadi dengan republik ini? Siapa yang bodoh? Untuk kepentingan negara sendiri kok malah dijual mahal? Bukankah mestinya kepentingan nasional yang harus lebih didahulukan? Seperti telah kita ketahui Indonesia telah terpaksa menutup beberapa pabrik pupuk karena kekurangan pasokan gas. Petani pun harus rela membayar mahal pupuk yang dibutuhkannya. Jelas ada yang tidak sinkron di antara para petinggi kita dalam mengelola negara ini.
Tentunya tidak tega mengatakan bahwa para pejabat kita terlalu bodoh dalam menentukan harga yang tepat dalam transaksi gas tersebut. Menteri ESDM dan stafnya adalah orang-orang pintar dan sudah bertahan selama tiga periode kepresidenan. Namun, banyak kebijakan lain yang juga menunjukkan para sangat pintar dalam membodohi rakyatnya. Hebatnya lagi, hal seperti ini tidak pernah terjamah oleh KPK atau aparat penegakan hukum lainnya. Padahal, kontrak seperti ini sangat berpotensi dijerat pasal korupsi. rm
Subsidi BBM akan kembali dipangkas secara signifikan. Salah satunya adalah subsidi minyak tanah. Dengan pengurangan subsidi minyak tanah diyakini akan lebih mendorong rakyat untuk segera mengkonversi konsumsi minyak tanah dengan gas.
Sulit meyakini jika kebijakan itu akan berhasil dan memberikan manfaat bagi rakyat. Kenyataannya hingga saat ini implementasi program tersebut telah gagal sehingga semakin menambah berat beban rakyat.
Saat subsidi BBM rakyat dipangkas, di sisi lain Indonesia justru akan segera mensubsidi konsumsi gas rakyat Cina. Mengapa ini terjadi? Alasannya karena pemerintah telah memutuskan untuk mengobral kekayaan sumber daya alamnya termasuk gas. Tahun depan, lapangan LNG Tangguh akan segera mulai beroperasi. Semua hasil eksploitasi LNG tersebut telah dikontrak jual kepada Cina dengan harga miring. Dalam kontrak dengan Cina, harga dipatok untuk setiap milion milion british termal unit (mmbtu) LNG adalah maksimum 3,25 dolar AS.
Dengan patokan harga minyak mentah saat ini, kontrak ini akan merugikan Indonesia karena harga kontrak gas mestinya adalah 10 dolar AS per mmbtu. Bagaimana mungkin dengan harga pasar Internasional yang tinggi pemerintah Indonesia justru melepas sumber gas dengan sangat murah?
Dengan kontrak yang disepakati berarti Indonesia siap memberi subsidi sebesar dua pertiga harga dari setiap kilogram LPG yang diekspor ke Cina. Sungguh sebuah kesepakatan yang tak masuk akal. Dengan mengalikan total volume ekspor dengan selisih harga kontrak dan harga pasar, Indonesia berpotensi dirugikan tidak kurang dari Rp 3 triliun. Jumlah yang tidak sedikit karena akan sangat bermanfaat untuk memompa ekonomi rakyat.
Lebih gila lagi, ternyata PLN harus membeli gas dari dalam negeri dengan harga yang lebih mahal, yaitu sekitar 5 dolar AS per mmbtu. Apa yang terjadi dengan republik ini? Siapa yang bodoh? Untuk kepentingan negara sendiri kok malah dijual mahal? Bukankah mestinya kepentingan nasional yang harus lebih didahulukan? Seperti telah kita ketahui Indonesia telah terpaksa menutup beberapa pabrik pupuk karena kekurangan pasokan gas. Petani pun harus rela membayar mahal pupuk yang dibutuhkannya. Jelas ada yang tidak sinkron di antara para petinggi kita dalam mengelola negara ini.
Tentunya tidak tega mengatakan bahwa para pejabat kita terlalu bodoh dalam menentukan harga yang tepat dalam transaksi gas tersebut. Menteri ESDM dan stafnya adalah orang-orang pintar dan sudah bertahan selama tiga periode kepresidenan. Namun, banyak kebijakan lain yang juga menunjukkan para sangat pintar dalam membodohi rakyatnya. Hebatnya lagi, hal seperti ini tidak pernah terjamah oleh KPK atau aparat penegakan hukum lainnya. Padahal, kontrak seperti ini sangat berpotensi dijerat pasal korupsi. rm