Subsidi Itu Untuk Siapa Sebenarnya

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Kamis, 29 Juli 2010
Energy & Mineral Resource Update » 14 November 2007 » Hit: 487
Subsidi Itu Untuk Siapa Sebenarnya
Oleh : Imam Sugema, Direktur Inter CAFE IPB-Tim Indonesia Bangkit

Subsidi BBM akan kembali di­pangkas secara signifikan. Sa­lah satunya adalah subsidi mi­nyak tanah. Dengan pe­ngu­rangan subsidi minyak tanah di­yakini akan lebih mendorong rak­yat untuk segera meng­kon­ver­si konsumsi minyak tanah de­­ngan gas.

Sulit meyakini jika kebijakan itu akan berhasil dan mem­be­ri­kan manfaat bagi rakyat. Ke­nya­taannya hingga saat ini im­plementasi program tersebut telah gagal sehingga se­makin menambah berat beban rakyat.

Saat subsidi BBM rakyat dipangkas, di sisi lain Indo­nesia justru akan segera mensubsidi konsumsi gas rak­yat Cina. Mengapa ini terjadi? Alasannya karena pe­merintah telah memutuskan untuk mengobral ke­kayaan sumber daya alamnya termasuk gas. Tahun de­pan, lapangan LNG Tangguh akan segera mulai ber­operasi. Semua hasil eksploitasi LNG tersebut telah di­kontrak jual kepada Cina dengan harga miring. Da­lam kontrak dengan Cina, harga dipatok untuk setiap mi­lion milion british termal unit (mmbtu) LNG adalah mak­simum 3,25 dolar AS.

Dengan patokan harga minyak mentah saat ini, kon­trak ini akan merugikan Indonesia karena harga kon­trak gas mestinya adalah 10 dolar AS per mmbtu. Ba­gaimana mungkin dengan harga pasar Internasional yang tinggi pemerintah Indonesia justru melepas sumber gas dengan sangat murah?

Dengan kontrak yang disepakati berarti Indonesia siap memberi subsidi sebesar dua pertiga harga dari se­tiap kilogram LPG yang diekspor ke Cina. Sungguh se­buah kesepakatan yang tak masuk akal. Dengan me­ngalikan total volume ekspor dengan selisih harga kon­trak dan harga pasar, Indonesia berpotensi diru­gi­kan tidak kurang dari Rp 3 triliun. Jumlah yang tidak se­dikit karena akan sangat bermanfaat untuk me­mom­pa ekonomi rakyat.

Lebih gila lagi, ternyata PLN harus membeli gas dari da­lam negeri dengan harga yang lebih mahal, yaitu se­kitar 5 dolar AS per mmbtu. Apa yang terjadi dengan re­publik ini? Siapa yang bodoh? Untuk kepentingan ne­gara sendiri kok malah dijual mahal? Bukankah mes­tinya kepentingan nasional yang harus lebih di­dahulukan? Seperti telah kita ketahui Indonesia telah ter­paksa menutup beberapa pabrik pupuk karena ke­ku­rangan pasokan gas. Petani pun harus rela mem­ba­yar mahal pupuk yang dibutuhkannya. Jelas ada yang tidak sinkron di antara para petinggi kita dalam mengelola negara ini.

Tentunya tidak tega mengatakan bahwa para pe­jabat kita terlalu bodoh dalam menentukan harga yang tepat dalam transaksi gas tersebut. Menteri ESDM dan staf­nya adalah orang-orang pintar dan sudah bertahan se­lama tiga periode kepresidenan. Namun, banyak ke­bijakan lain yang juga menunjukkan para sangat pintar da­lam membodohi rakyatnya. Hebatnya lagi, hal se­per­ti ini tidak pernah terjamah oleh KPK atau aparat penegakan hukum lainnya. Pa­dahal, kontrak seperti ini sangat berpotensi dijerat pasal korupsi. rm