Swing Voters VS Loyal Voters

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Kamis, 29 Juli 2010
Politic » 26 November 2007 » Hit: 741
Swing Voters VS Loyal Voters
Beberapa waktu yang lalu, Dr. Zul diundang untuk berdialog dengan Soegeng Sarjadi dan bintang tamu lainnya, yaitu Arbi Sanit (Pengamat Politik) dan Prof. Dr. Ryaas Rasyid (Mantan Menteri Otonomi Daerah & Anggota DPR RI) dalam acara Talk Show Soegeng Sarjadi Forum di Q TV. Dialog In Facts of Democracy episode 10 tersebut bertema, Swing Voters VS Loyal Voters.

Pada kesempatan pertama yang diberikan, Dr. Zul diminta berbicara sebagai fungsionaris partai yang sedang menjadi sorotan oleh pengamat dalam dan luar negeri untuk memberi opini tentang Swing Voters dan Loyal Voters. Dr. Zul bercerita tentang pengalaman beliau sebagai Calon Gubernur pada Pilkada Gubernur Provinsi Banten yang lalu.

Menurut beliau, Banten bisa dijadikan gambaran Indonesia, dimana ada Kota dan Kabupaten Tangerang mewakili wilayah modern karena dekat dengan Jakarta, wilayah masyarakat tradisional di Pandeglang dan Lebak, serta Serang dan Cilegon di pertengahan. Hasil pilkada Banten memberi banyak sekali pelajaran dan dua kesimpulan penting . Pertama, suara kita optimal di daerah perkotaan yang berpendidikan dan rasional, dengan jumlah kader yang banyak. Kedua, suara kita sedikit di di daerah miskin dengan jumlah kader yang tidak banyak.

Berdasarkan pengamatan beliau, Swing Voters untuk PKS dalam tiap Pilkada sebesar 30-40%. Jumlah ini cukup berat buat PKS, apalagi ditambah tantangan dari kubu modern dan tradisional terutama dari umat Islam. Dr Zul berkata, "Kita harus mengambil tempat atau diri kita dengan tepat di benak pemilih. Gak gampang buat PKS karena kita sekarang menggambarkan positioning diri sedang berada between rock and hard place. Di masyarakat modern, ada rumor jangan sampai pilih PKS karena Taliban like Government, tidak business friendly, wanita diregradasi menjadi Warga Negara kelas dua, tidak setia kepada NKRI, akan ada disintegrasi, tidak ada toleransi, dll. Pada saat yg sama, di masyarakat Islam tradisional, PKS mendapat kendala serius bahkan sampai dianggap tidak setuju dengan syariah Islam."

"Kenyataan tersebut membuat kita akhirnya sampai pada kesimpulan penting, bahwa tugas utama PKS adalah mempercepat reformasi internal dikalangan umat Islam, karena bagaimanapun, umat Islam adalah mayoritas di negeri ini. Dan saya pikir, orang-orang yang belajar di luar negeri dan berfikir modern harus punya kesabaran untuk memberi ruang kepada umat Islam untuk melakukan reformasi", lanjut DR. Zul.

Menurut beliau, persoalan ideologi sudah tidak semestinya diangkat menjadi issue dikalangan Swing Voters. Issue yang harus diangkat adalah bagaimana membangun daya saing yang kuat dalam bidang industri supaya bisa berkompetisi dengan negara-negara tetangga karena kita sudah jauh tertinggal dari mereka. Kalau di masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah terjadi money politic, itu bisa dipahami. "Karena berkelahi dengan hidup itu berat," ujarnya.

Ketika diminta memberi pernyataan terakhir dalam menghadapi Swing dan Loyal Voters, Dr. Zul menjawab, "Kalau kami di PKS, seluas apapun kami membuka diri, se-progressive apapun tampilan kita , memang ada kelompok-kelompok yang selalu berusaha menempatkan kita pada radikal corner. Seperti misalnya, "Jakarta untuk semua" (slogan partai lain pada Pilkada Gubernur Jakarta kemarin-red). Itu kan gak ada artinya. Padahal masalah kita, seperti yang Pak Ryaas bilang, kemiskinan, pendidikan dan pengangguran. Nah, kalau masalah-masalah mendasar ini well identified, saya kira kita harus berkompetisi, melupakan masalah-masalah ideologi yang harusnya sudah selesai. Mari kita fokus pada akar masalah kita, yaitu kemiskinan, pendidikan dan pengangguran dengan platform masing-masing dan kemudian sama-sama menyelesaikan masalah itu demi kemaslahatan Indonesia".