Tahun Baru, Semangat Baru

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Kamis, 29 Juli 2010
Political Update » 08 Januari 2009 » Hit: 489
Tahun Baru, Semangat Baru
Pada 31 Desember 2008, mulai malam sampai dini hari, kita menyaksikan euforia di seantero dunia menyambut tahun baru Masehi 2009. Dua hari sebelumnya, umat Islam memperingati tahun baru Hijriyah 1430 dengan ekspresi berbeda sesuai kecenderungan budaya, tradisi, dan selera masing-masing. Sebuah kebiasaan yang belum terdeteksi asal-muasalnya berikut nilai-nilai apa saja yang terkandung di balik pergantian tahun itu.

Bahwa masa akan terus berganti dari hari ke hari, bulan ke bulan hingga tahun ke tahun merupakan suatu keniscayaan sebagai konsekuensi logis dari perjalanan sang waktu. Masalahnya adalah bagaimana manusia bisa menyejarah dalam lintasan masa sehingga tidak tergilas oleh kejamnya sang waktu. Sebab, waktu bersifat oteriter di mana menyiakan waktu berarti membuang kesempatan berharga dan akan merugikan diri sendiri. Meminjam pernyataan Benjamin Franklin times is money, atau pepatah Arab al-wakt ka al-saif di mana tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang bebas dari jeratan sang waktu.

Bila momen tahun baru disandarkan pada pergantian waktu, mestinya kita sadar akan dua pernyataan tersebut seraya melakukan refleksi atas perjalanan sejarah masa lalu untuk masa akan datang. Hal apa saja yang telah membuat kita terjatuh ke jurang kenistaan hingga berujung pada penyesalan? Kesalahan apa yang membuat kita ditinggalkan oleh cepatnya gerak waktu seakan terlindas kenyataan? Menjadi pertanyaan penting untuk direnungkan bersama.

Memang, masa lalu sudah berlalu sementara waktu akan terus melaju. Tetapi, tentu kita tidak menginginkan hari esok lebih buruk daripada hari sebelumnya. Keinginan atau harapan inilah yang menjadi kekuatan akan adanya kemungkinan merubah masa kini untuk masa depan yang lebih baik. Tak ada modal paling berharga selain keinginan yang menjadi spirit dasar seluruh bangsa, yakni keinginan akan hidup yang makmur, sejahtera, damai, aman, dan sentosa yang diridhai dan diampuni oleh Tuhan (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur).

Beberapa persoalan yang menjerat negeri ini mulai kemiskinan, pengangguran, korupsi, pelanggaran HAM dan sebagainya bukan tidak mungkin diselesaikan bila terdapat keinginan kuat dari seluruh elemen bangsa. Keinginan yang tidak berhenti pada keinginan semata melainkan disertai kesadaran dan semangat untuk bangkit bersama. Inilah esensi dari setiap pergantian waktu yang harus diikuti dengan refleksi masa lalu sehingga melahirkan kesadaran dan semangat baru.

Tahun baru bukan sekedar untuk euforia dengan menyaksikan gemerlapnya lampu, kembang api, dan berbagai hiburan lain tanpa makna. Asumsi demikian salah kaprah karena melupakan esensi dari pergantian masa yang menyelinap dalam gerak sang waktu. Betapa pentingnya waktu hingga al-qur’an menggunakan kata “masa” (al-ashr) sebagai sumpah (Q.S al-ashr) untuk memberi peringatan atas kelalaian manusia terhadap suatu hal yang pasti berlalu.

Oleh sebab itu, dengan tahun baru 1430 Hijriyah dan 2009 Masehi, kita tingkatkan komitmen kebangkitan dengan kesadaran dan semangat baru. Tak ada hal berharga yang bisa dilakukan di tengah krisis ini kecuali kesadaran dan keinginan besar untuk melangkah ke masa depan yang lebih baik.
Sesungguhnya setiap sesuatu yang lahir itu baru, dan setiap sesuatu yang baru itu terlahir dalam keadaan suci. Mari kita isi tahun baru dengan semangat dan langkah baru yang suci dan berharga. Semoga!

* Tulisan ini dimuat dalam Tabloid Kaibon, Rumah Dunia