Tahun Baru, Untuk Apa?

Establishing A Bridge of Reason & Understanding
Jumat, 12 Maret 2010
Political Update » 02 Januari 2010 » Hit: 139
Tahun Baru, Untuk Apa?
Aroma kalender tahun baru Masehi itu bukan saja tercium, tapi sudah menghampiri setiap kita. Ia telah menjadi keniscayaan sejarah dan datang pada waktunya tanpa ada satu kekuatan apapun mampu menolaknya. Tahun 2010, kini datang dengan sejuta haparan menggelayut. Adakah sebuah keajaiban Tuhan yang mampu merubah keadaan ‘beku’ ini?

Beragam cara menyambut tahun yang diharap membawa perubahan itu. Semua orang riuh gemuruh menyambutnya. Ada yang menyambut dengan berjingkrak-jingkrak, menari-nari sambil meniup teropet, bernyanyi, bepergian ke luar kota, ke mancanegara sekali pun, bahkan ada pula yang mencari cara perayaan model baru demi sensasi dan meninggalkan tradisi lama.

Akan tetapi, di tengah kegemberiaan semacam itu tidak semua bisa menyelami, mencicipi, atau pun menikmatinya. Ada sebagian yang masih terkungkung pada jerat sakit yang diderita, merasa kehilangan, kecemasan, hingga meneteskan air mata. Entah apa motif mereka harus merasakan demikian. Apa boleh buat, mungkin saja itu semua sudah bahagian dari nasib.

Waktu berjalan seiring jantung berdenyut. Bak pisau bermata dua: sang waktu bisa mendatangkan untung, kebaikan, dan keceriaan. Sebaliknya ada yang mendapat rugi, keburukan, dan kesengsaraan yang mereka peroleh. Tergantung siapa yang pintar menggunakan pisau itu di tengah pengembaraan hidupnya. Dengan pisau itu, ia telah berusaha menentukan nasibnya sendiri.

Banyak tafsir yang dimunculkan guna menterjemahkan sang waktu. Setidaknya ada tiga tafsir tentang waktu telah berlalu. Pertama, menyebut waktu telah berlalu sebagai waktu yang tewas. Dikatakan demikian karena ia menganggap waktu itu telah menjadi pahlawan yang telah berjasa baginya. Sebab, ia banyak memperoleh kesempatan-kesempatan untuk bernafas dengan lega dan lebih baik di waktu yang telah usai.

Kedua, menyebut sang waktu berlalu sebagai waktu yang wafat. Ini artinya, waktu hanya memberikan hal biasa-biasa saja dalam silamnya. Tidak lebih baik dan juga tidak lebih buruk. Semua dilalui begitu saja, seolah tiada kesan dan tanpa pesan cukup berarti.

Ketiga, mengungkapkan kalau waktu berlalu itu dengan sebutan waktu yang telah mati. Hal ini mencerminkan kalau waktu yang telah dilalui itu adalah waktu yang telah memberikan kekejaman, kekejian, ketidakadilan, dan keterpaksaan selama ia melewatinya. Dan, tak sedikit pun ia memperoleh kesempatan-kesempatan untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik.

Semuanya tergantung kita menyebut waktu berlalu itu dengan ungkapan bagaimana di sepanjang tahun 2009. Akankah kita menyebut waktu yang kita lalui itu sebagai waktu yang telah berjasa kepada kita (tewas). Ataukah kita mewafatkannya karena semua berjalan biasa-biasa saja. Atau bahkah menamai terhadap sang waktu telah berlalu sebagai waktu yang telah mati.

Mari sejenak kita memperbesar pandangan pada negeri gemah ripah lohjenawi ini. Mana kira-kira kata paling cocok digunakan selama mengikuti waktu di tahun 2009. Dengan melihat rentetan potret kasus dalam setahun yang telah usai atau melihat capaian-capaian yang telah diperoleh, tentu semua kita sudah punya jawaban masing-masing, menyimpannya di lubuk hati paling dalam.

Maka, pertanyaan sangat mendasar kemudian layak dikemukakan. Apa yang telah kita persiapkan untuk memasuki tahun baru ini? Akankah berbagai kesempatan sebagai negara dengan sumber daya alam melimpah ini harus kita sia-siakan? Akankah kita memanfaatkan dengan baik takdir iklim kathulistiwa dan bergeografis strategis yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa Kepada Indonesia?

Untuk itu, persiapan menyongsong 2010 merupakan sesuatu yang niscaya. Baik persiapan sebagai pribadi maupun sebagai bangsa yang berdaulat. Setidaknya, maukah masing-masing kita untuk tidak mengulang kesalahan yang sama di masa yang akan datang. Terlebih di tahun 2010, seluruh jiwa menggantungkan asa berharap akan menjadi tahun kebangkitan kita, bangsa Indonesia.

Jika tidak ada perbaikan nasib, perubahan yang dicita-citakan hanyalah sebuah mimpi indah dengan realitas semua. Lalu, untuk apa perayaan dan pesta meriah menyambut tahun baru 2010 itu? Lalu, untuk apa pergantian tahun jika kesejahteraan masih sebatas jargon. Lalu utuk apa pergantian tahun, jika kemiskinan, pengangguran, dan kesejahteraan sebatas pepesan kosong belaka? Lalu untuk apa 2010 jika tak ada bedanya dengan tahun sebelumnya?

Tentu saja hal ini bukan sebuah ungkapan psimistis jelang memasuki gerbang tahun baru Masehi. Ungkapan ini sekedar bekal guna merampungkan segenap pekerjaan rumah yang masih tersisa dan terbengkalai. Layaknya sebuah singa yang sedang tidur, Bangsa ini perlu dibangunkan kembali untuk meraih cita-citanya yang masih menggantung tinggi di angkasa. Mari kita songsong 2010 berpacu dengan waktu yang bergerak begitu cepat. (Adi)