News » 01 April 2008 » Hit: 557
Tingkatkan Kinerja, Perbanyak Inovasi
Pondok Aren, Tangerang - Tingkatkan kinerja, perbanyak inovasi. Itulah kira-kira salah satu pesan yang disampaikan DR. Zulkieflimansyah (Anggota DPR RI 2004-2009 F-PKS, Banten II) dalam dialog yang diselenggarakan oleh kader PKS DPC Pondok Aren sebagai salah satu rangkaian acara Musyawarah Cabang yang digelar di Gedung Serba Guna Sentra Bintaro, Ahad (30/3).
Dalam dialog yang dihadiri sekitar 170 orang kader dan simpatisan tersebut, Bang Zul-sapaan akrab DR. Zulkieflimansyah-menyoroti kondisi kader di wilayah Pondok Aren yang meskipun memiliki kader dalam jumlah yang banyak namun kinerjanya akhir-akhir ini menurun. Kondisi tersebut, menurut Bang Zul, disebabkan oleh kejenuhan dan kelesuan yang secara umum ditunjukkan oleh kader PKS belakangan ini. Akibatnya, para kader akhirnya kurang mampu membuat program yang market friendly yang bisa langsung dirasakan oleh masyarakat. Di sinilah inovasi sangat diperlukan. “Masyarakat menunggu inovasi kita, terlebih lagi saat ini kita akan menghadapi Pemilu 2009. Tidak usah program yang muluk-muluk, yang sederhana saja tapi yang penting berkesinambungan,” kata Bang Zul di hadapan para kader.
Selain itu, Bang Zul juga menyoroti pemahaman dakwah kader yang terkadang masih sempit, dalam artian hanya terpaku pada literatur dari tokoh-tokoh Timur Tengah dan tokoh dalam negeri yang selama ini menjadi referensi para kader PKS dalam berdakwah. Akibatnya, para kader kurang banyak mengetahui bagaimana pendapat para ilmuwan Barat mengenai perkembangan dunia Islam saat ini, yang menurut Bang Zul sangat penting untuk memperkaya referensi yang berasal dari sudut pandang yang berbeda. “Kader kita masih terbatas membaca literatur Timur Tengah dan Indonesia, tapi masih sedikit yang mau membaca literatur dari Barat,” kata Bang Zul.
Bang Zul kemudian menyebutkan salah satu literatur dari Barat yang menyinggung masalah kondisi dakwah saat ini khususnya di Indonesia. Menurut literatur tersebut, para aktifis dakwah saat ini dan beberapa waktu ke depan akan terbagi menjadi dua kelompok besar dengan dua jalan yang berbeda. Kelompok yang pertama adalah kelompok yang merindukan masa lalu kembali terjadi (new fundamentalism), di saat kelompok dakwah ini masih berjumlah sedikit, puritan, yang mana pada saat itu iman dan ukhuwah lebih terasa berkualitas. Kelompok kedua adalah kelompok yang pragmatis dan sarat dengan berbagai toleransi terhadap berbagai permasalahan dalam dakwah. Menurut Bang Zul yang pernah mengecap pendidikan di Inggris ini, kita seharusnya berada di tengah kedua kelompok tersebut, dalam artian harus benar-benar disesuaikan antara manhaj yang kita miliki dengan kondisi riil masyarakat Indonesia saat ini.
Dalam dialog yang juga dihadiri oleh Arif Wahyudi (anggota DPRD Kab. Tangerang dari F-PKS) tersebut, terdapat beberapa pernyataan dan pertanyaan yang disampaikan oleh kader dan ditujukan kepada Bang Zul. Salah satunya adalah yang menyatakan bahwa saat ini kita terkadang terjebak pada figuritas sehingga keberadaan PKS sebagai partai pengusung figur tersebut kurang terlalu dikenal oleh masyarakat. Menanggapi pernyataan ini, Bang Zul mengatakan bahwa kita seharusnya fleksibel saja sesuai dengan kultur masyarakat di tempat tertentu yang memang tidak homogen di setiap wilayah. Ada yang memang cocok jika figur yang ditonjolkan, ada juga yang lebih cocok jika partai yang lebih ditonjolkan. “Yang terpenting adalah, bagaimana kita memadukan antara figur dan partai sebagai sebuah paket yang saling terkait satu sama lain. Jangan juga kemudian kita terlalu membebani dan memaksakan diri tanpa mengukur kemampuan yang dimiliki, karena nantinya akan menjadi bumerang baik bagi kader yang bersangkutan maupun bagi partai itu sendiri, “ papar Bang Zul menanggapi masalah ini.
Selain itu, kader juga mempertanyakan mengenai kurangnya ketegasan yang ditunjukkan oleh para wakil PKS baik di eksekutif maupun di legialatif. Menanggapi hal ini, Bang Zul yang juga merupakan salah satu pimpinan fraksi PKS di DPR RI ini mengatakan bahwa masalah ketegasan terkadang menjadi hal yang dilematis, karena jika di satu pihak kita ingin menegaskan sikap terhadap sebuah kebijakan, namun di sisi lain kita juga memiliki kader yang menempati posisi yang penting yang terkait dengan kebijakan tersebut. Bang Zul menyebutkan keberadaan tiga mentri dari PKS yang ada di Kabinet Indonesia Bersatu saat ini sebagai contoh. ”Kalau kebijakan pemerintah SBY kita tolak terus menerus, agak riskan juga karena dalam kabinet SBY kita punya kader,” kata Bang Zul memberikan contoh. ”Kondisi ini membuat kita harus benar-benar bijak dan proporsional dalam menyikapi berbagai permasalahan yang ada dan kebijakan yang dihasilkan,” tambahnya lagi.
Hubungan antara PKS dengan media juga mengemuka dalam dialog tersebut, seperti yang terkandung dalam pernyataan seorang kader yang mempermasalahkan banyaknya aktifitas PKS yang kurang diketahui masyarakat karena tidak diliput oleh media. Ada juga kader yang mempertanyakan mengenai bagaimana membuat momentum agar dapat diliput oleh media. Menanggapi masalah ini, Bang Zul menyatakan bahwa deal dengan media memang mahal, karena setiap media sudah tentu dimiliki oleh kelompok pemodal yang jelas memiliki afiliasi terhadap kelompok kepentingan politik tertentu, dan itulah politik media. “Bisa dibayangkan bagaimana politik Indonesia ketika medianya hanya dikuasai segelitir orang seperti sekarang, dan kita belum punya modal tersebut,” ujar Bang Zul memberikan warning. Oleh karena itu, menurut Bang Zul, kita memang harus benar-benar bekerja keras untuk membuat momentum yang sedemikian menarik sehingga media dengan sendirinya akan meliput moment tersebut.
Selain Bang Zul, anggota DPRD Kab. Tangerang dari fraksi PKS, Arif Wahyudi, mengingatkan para kader untuk secara bersama mengawasi jalannya program RASKIN (beras miskin) tahun 2008 di Kab. Tangerang yang pada tahun 2007 lalu terdapat indikasi penyimpangan oleh oknum aparat pemerintah, dan saat ini dalam proses penyidikan oleh kejaksaan. Setelah paparan yang disampaikan oleh Arif Wahyudi, acara dilanjutkan dengan pemilihan ketua DPC Pondok Aren yang baru, yang akhirnya memilih Budiono, seorang Dosen Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana yang berasal dari Depra (Dewan Perwakilan Ranting) Pondok Aren sebagai ketua DPC Pondok Aren yang baru menggantikan Herman Kastadi. (bmw)
Dalam dialog yang dihadiri sekitar 170 orang kader dan simpatisan tersebut, Bang Zul-sapaan akrab DR. Zulkieflimansyah-menyoroti kondisi kader di wilayah Pondok Aren yang meskipun memiliki kader dalam jumlah yang banyak namun kinerjanya akhir-akhir ini menurun. Kondisi tersebut, menurut Bang Zul, disebabkan oleh kejenuhan dan kelesuan yang secara umum ditunjukkan oleh kader PKS belakangan ini. Akibatnya, para kader akhirnya kurang mampu membuat program yang market friendly yang bisa langsung dirasakan oleh masyarakat. Di sinilah inovasi sangat diperlukan. “Masyarakat menunggu inovasi kita, terlebih lagi saat ini kita akan menghadapi Pemilu 2009. Tidak usah program yang muluk-muluk, yang sederhana saja tapi yang penting berkesinambungan,” kata Bang Zul di hadapan para kader.
Selain itu, Bang Zul juga menyoroti pemahaman dakwah kader yang terkadang masih sempit, dalam artian hanya terpaku pada literatur dari tokoh-tokoh Timur Tengah dan tokoh dalam negeri yang selama ini menjadi referensi para kader PKS dalam berdakwah. Akibatnya, para kader kurang banyak mengetahui bagaimana pendapat para ilmuwan Barat mengenai perkembangan dunia Islam saat ini, yang menurut Bang Zul sangat penting untuk memperkaya referensi yang berasal dari sudut pandang yang berbeda. “Kader kita masih terbatas membaca literatur Timur Tengah dan Indonesia, tapi masih sedikit yang mau membaca literatur dari Barat,” kata Bang Zul.
Bang Zul kemudian menyebutkan salah satu literatur dari Barat yang menyinggung masalah kondisi dakwah saat ini khususnya di Indonesia. Menurut literatur tersebut, para aktifis dakwah saat ini dan beberapa waktu ke depan akan terbagi menjadi dua kelompok besar dengan dua jalan yang berbeda. Kelompok yang pertama adalah kelompok yang merindukan masa lalu kembali terjadi (new fundamentalism), di saat kelompok dakwah ini masih berjumlah sedikit, puritan, yang mana pada saat itu iman dan ukhuwah lebih terasa berkualitas. Kelompok kedua adalah kelompok yang pragmatis dan sarat dengan berbagai toleransi terhadap berbagai permasalahan dalam dakwah. Menurut Bang Zul yang pernah mengecap pendidikan di Inggris ini, kita seharusnya berada di tengah kedua kelompok tersebut, dalam artian harus benar-benar disesuaikan antara manhaj yang kita miliki dengan kondisi riil masyarakat Indonesia saat ini.
Dalam dialog yang juga dihadiri oleh Arif Wahyudi (anggota DPRD Kab. Tangerang dari F-PKS) tersebut, terdapat beberapa pernyataan dan pertanyaan yang disampaikan oleh kader dan ditujukan kepada Bang Zul. Salah satunya adalah yang menyatakan bahwa saat ini kita terkadang terjebak pada figuritas sehingga keberadaan PKS sebagai partai pengusung figur tersebut kurang terlalu dikenal oleh masyarakat. Menanggapi pernyataan ini, Bang Zul mengatakan bahwa kita seharusnya fleksibel saja sesuai dengan kultur masyarakat di tempat tertentu yang memang tidak homogen di setiap wilayah. Ada yang memang cocok jika figur yang ditonjolkan, ada juga yang lebih cocok jika partai yang lebih ditonjolkan. “Yang terpenting adalah, bagaimana kita memadukan antara figur dan partai sebagai sebuah paket yang saling terkait satu sama lain. Jangan juga kemudian kita terlalu membebani dan memaksakan diri tanpa mengukur kemampuan yang dimiliki, karena nantinya akan menjadi bumerang baik bagi kader yang bersangkutan maupun bagi partai itu sendiri, “ papar Bang Zul menanggapi masalah ini.
Selain itu, kader juga mempertanyakan mengenai kurangnya ketegasan yang ditunjukkan oleh para wakil PKS baik di eksekutif maupun di legialatif. Menanggapi hal ini, Bang Zul yang juga merupakan salah satu pimpinan fraksi PKS di DPR RI ini mengatakan bahwa masalah ketegasan terkadang menjadi hal yang dilematis, karena jika di satu pihak kita ingin menegaskan sikap terhadap sebuah kebijakan, namun di sisi lain kita juga memiliki kader yang menempati posisi yang penting yang terkait dengan kebijakan tersebut. Bang Zul menyebutkan keberadaan tiga mentri dari PKS yang ada di Kabinet Indonesia Bersatu saat ini sebagai contoh. ”Kalau kebijakan pemerintah SBY kita tolak terus menerus, agak riskan juga karena dalam kabinet SBY kita punya kader,” kata Bang Zul memberikan contoh. ”Kondisi ini membuat kita harus benar-benar bijak dan proporsional dalam menyikapi berbagai permasalahan yang ada dan kebijakan yang dihasilkan,” tambahnya lagi.
Hubungan antara PKS dengan media juga mengemuka dalam dialog tersebut, seperti yang terkandung dalam pernyataan seorang kader yang mempermasalahkan banyaknya aktifitas PKS yang kurang diketahui masyarakat karena tidak diliput oleh media. Ada juga kader yang mempertanyakan mengenai bagaimana membuat momentum agar dapat diliput oleh media. Menanggapi masalah ini, Bang Zul menyatakan bahwa deal dengan media memang mahal, karena setiap media sudah tentu dimiliki oleh kelompok pemodal yang jelas memiliki afiliasi terhadap kelompok kepentingan politik tertentu, dan itulah politik media. “Bisa dibayangkan bagaimana politik Indonesia ketika medianya hanya dikuasai segelitir orang seperti sekarang, dan kita belum punya modal tersebut,” ujar Bang Zul memberikan warning. Oleh karena itu, menurut Bang Zul, kita memang harus benar-benar bekerja keras untuk membuat momentum yang sedemikian menarik sehingga media dengan sendirinya akan meliput moment tersebut.
Selain Bang Zul, anggota DPRD Kab. Tangerang dari fraksi PKS, Arif Wahyudi, mengingatkan para kader untuk secara bersama mengawasi jalannya program RASKIN (beras miskin) tahun 2008 di Kab. Tangerang yang pada tahun 2007 lalu terdapat indikasi penyimpangan oleh oknum aparat pemerintah, dan saat ini dalam proses penyidikan oleh kejaksaan. Setelah paparan yang disampaikan oleh Arif Wahyudi, acara dilanjutkan dengan pemilihan ketua DPC Pondok Aren yang baru, yang akhirnya memilih Budiono, seorang Dosen Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana yang berasal dari Depra (Dewan Perwakilan Ranting) Pondok Aren sebagai ketua DPC Pondok Aren yang baru menggantikan Herman Kastadi. (bmw)